Konsep Komunitas Akademik di Unpar Perlu Dipertanyakan

LIPUTAN, MP– 28 Juli lalu, PUSIK kembali menyelenggarakan diskusi tentang UKT bersama Rektor Unpar, Mangadar Situmorang. Diskusi ini kali ini membahas seputar opini Rektor di harian Kompas berjudul ‘Tantangan Perguruan Tinggi: Untuk Apa Bayar Mahal jika Hanya Daring?’.

Artikel tersebut membahas bahwa perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan situasi yang ada agar mahasiswa mendapatkan tidak sekadar transfer of knowledge yang tersedia dengan jauh lebih murah melalui aplikasi-aplikasi daring. Rektor menjelaskan bahwa apa yang membedakan Unpar dengan program seperti Coursera adalah aspek-aspek sosial lain, seperti perguruan tinggi sebagai komunitas akademik.

Rektor mengetahui dan memahami bahwa di kalangan mahasiswa muncul sentimen kuat mengenai biaya kuliah. Seperti judul artikel tersebut, banyak mahasiswa dengan alasan valid mempertanyakan alasan biaya kuliah yang tidak menurun jika metode pembelajaran bergeser menjadi daring.

Selain menegaskan kembali bahwa Unpar tidak akan menurunkan UKT, Rektor menjelaskan bahwa perguruan tinggi perlu memenuhi tanggungjawab kepegawaian dan perlu selamat dari bencana ekonomi akibat pandemi ini.

Unpar, terangnya, tidak hanya ingin ‘survive’ melainkan memberi mutu yang mumpuni. Unpar tidak ingin bersikap sebagai korban, melainkan bagian dari solusi untuk mengatasi tantangan. Proses pembelajaran, ujarnya, perlu dikonversi menjadi mumpuni ke dalam bentuk digital.

Taffarel Giovanni, perwakilan Aliansi Mahasiswa Humanum, kemudian membalas bahwa pembelajaran daring memang belum efektif dan memiliki banyak kekurangan, seperti tidak efektifnya praktik langsung dan praktikum untuk mahasiswa jurusan tertentu.

Ia juga menerangkan bahwa akibatnya pertanyaan awal, yaitu apakah biaya yang dibayarkan setara dengan jasa yang didapatkan, dapat dijawab dengan tidak—sebab seperti apa yang dikatakan Rektor, pembelajaran seperti ini bisa didapatkan melalui program daring lain. Tidak ada aspek-aspek yang bisa didapatkan mahasiswa seperti saat pembelajaran tatap muka.

Meskipun begitu, premis pertanyaan inti belum terjawab oleh Rektor. Jadi, mengapa mahasiswa tetap membayar mahal jika kuliah berganti menjadi daring? Rektor mengakui bahwa aspek-aspek tertentu memang tidak didapatkan.

Ia mengutarakan bahwa biaya ini termasuk dalam rencana jangka panjang Unpar, seperti jejaring, ikatan alumni, dan keberlanjutan Unpar di masa depan. Rektor juga membantah Unpar telah memasuki masa ‘komersialisasi’. Unpar, ujarnya, tidak berorientasi laba, tetapi memiliki misi pendidikan.

Ia menambahkan prinsip besar yang perlu ‘dipegang’ oleh mahasiswa yaitu bahwa biaya tinggi yang mahasiswa bayarkan akan ‘dibalas dengan mutu’ oleh pihak kampus.

Bagaimanapun juga, diskusi tersebut hadir tak lama setelah Surat Edaran Rektor tentang Pedoman Perilaku Mahasiswa yang berisi pasal-pasal yang dikhawatirkan mengganggu kebebasan berpendapat mahasiswa dan iklim akademis di Unpar.

Meskipun Rektor dalam diskusi tersebut memberikan keterangan bahwa pedoman tersebut “untuk tindakan yang mengganggu ketertiban dan anarkis” saja dan bahwa pihak kampus “sangat terbuka, tidak melarang aspirasi dan kritik”, beberapa pihak, termasuk Media Parahyangan, Pusik Parahyangan, dan mahasiswa hukum serta ilmu sosial, telah memaparkan bahaya dari peraturan karet baru ini untuk kultur akademis sebagai bagian dari ‘Komunitas Akademik’ di perguruan tinggi yang diajukan oleh Rektor sebagai bagian dari aspek yang didapatkan mahasiswa di Unpar.

Penulis: Naufal Hanif
Transkrip oleh Vincentia Jyalita dari PUSIK Parahyangan
Desain oleh Sekarrayi Junio

Related posts

*

*

Top
Atur Size