Kekerasan Seksual Berbasis Gender di Rohingya

Oleh: Aloisia Alma Drisca (Hubungan Internasional, 2020)

Rohingya merupakan salah satu etnis minoritas di Myanmar dengan populasi paling banyak berada di daerah Rakhine. Rohingya disebut minoritas karena orang – orang dari etnis ini beragama Islam, sedangkan sebagian besar sedangkan sebagian besar masyarakat Myanmar adalah pemeluk agama Buddha. Pada tahun 2014, pemerintah Myanmar tidak lagi mengakui etnis Rohingya sebagai bagian dari masyarakat Myanmar dan tidak lagi memasukan orang-orang dari etnis ini ke dalam sensus yang dilakukan oleh pemerintah. Bahkan, pemerintah Myanmar mulai melihat orang-orang dari etnis Rohingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Tidak adanya pengakuan dari Myanmar pada etnis Rohingya membuat orang-orang dari etnis ini tidak memiliki perlindungan dan menjadi sasaran diskriminasi. Salah satu bentuk diskriminasi yang dialami oleh orang-orang etnis Rohingya dilakukan oleh pemerintah Myanmar sendiri melalui kebijakan nasionalnya. Melalui kebijakan ini orang-orang yang berasal dari etnis Rohingya dilarang mendapatkan fasilitas kesehatan, dilarang mendaftar sekolah, dan juga dilarang untuk bepergian ke desa-desa lain yang ada di Myanmar tanpa mendapatkan izin dari pemerintah, bahkan orang-orang dari etnis Rohingya harus membayar sejumlah uang di perbatasan desa-desa tersebut. 

Diskriminasi pada etnis Rohingya ini tidak hanya berupa kekerasan dan kebijakan yang merugikan. Bentuk diskriminasi lain yang dialami oleh masyarakat etnis ini adalah kekerasan seksual, terutama pada kaum perempuan. Kekerasan seksual yang diterima oleh kaum perempuan Rohingya ini memberikan banyak dampak terhadap perempuan itu sebagai korban dan juga sebagai bagian dari masyarakat yang memeluk agama Islam. Maka dalam tulisan ini akan dijabarkan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan-perempuan dari etnis Rohingya dan dampak yang dirasakan oleh perempuan-perempuan tersebut. 

Pemerkosaan dan kekerasan seksual, terutama yang terjadi pada kaum perempuan dan anak-anak, menjadi salah satu strategi dan taktik yang sering dilakukan pada saat terjadi perang. Hal ini juga terjadi pada perempuan dan anak-anak etnis Rohingya yang mengalami kekerasan seksual dan perkosaan massal yang dilakukan oleh tentara Myanmar saat perang antara pemerintah Myanmar dan etnis Rohingya. Berdasarkan laporan dari Human Rights Watch kekerasan seksual yang banyak dialami oleh perempuan etnis Rohingya adalah pemerkosaan massal, yaitu pemerkosaan yang dilakukan oleh lebih dari satu pelaku.

Laporan ini juga mengatakan bahwa setidaknya terdapat 8 kasus perkosaan massal yang dialami oleh perempuan etnis Rohingya dilakukan oleh 5 orang tentara Burma atau lebih. Pemerkosaan yang dialami ini juga disertai dengan tindak kekerasan dan kekejaman lainnya. Para tentara Burma itu juga memukuli perempuan-perempuan itu serta anak-anak dari etnis Rohingya. Selain itu mereka juga mengolok-olok dan menertawakan korban, serta memberikan ancaman-ancaman seperti menodongkan senjata selama penyerangan yang terjadi di Rakhine. 

Hala Sadak, perempuan berumur 15 tahun, merupakan salah satu korban pemerkosaan yang dilakukan oleh petugas keamanan Myanmar memberikan kesaksian bahwa dia telah diperkosa oleh kurang lebih 10 orang tentara, dan sebelum diperkosa, Hala Sadak terlebih dahulu ditelanjangi dan diseret keluar dari rumahnya kemudian diikat di pohon dekat rumahnya. Korban lain yang memberikan kesaksian atas kekerasan seksual yang dialami adalah Mamtaz Yunis, perempuan berusia 33 tahun. Mamtaz Yunis bercerita bagaimana ia dan 20 perempuan lainnya dijebak oleh tentara Myanmar di sisi bukit setelah berhasil menyelamatkan diri dari desa mereka. Sedangkan Fatima diperkosa 30-40 kali dalam satu malam bersamaan dengan perempuan-perempuan lainnya pada saat orang-orang di desanya sedang berusaha untuk melarikan diri, dan Fatima berhasil melarikan diri dengan luka-luka dan pendarahan akibat pemerkosaan tersebut.

Banyak perempuan dari etnis Rohingya, bahkan anak-anak di bawah umur, yang menjadi korban kekerasan seksual dan pemerkosaan oleh petugas keamanan di Myanmar. Kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dialami oleh perempuan itu memberikan dampak dari segi kesehatan baik fisik maupun mental dan juga dampak pada kehidupan sosial para korban tersebut. 

Sebagian besar dari korban kekerasan seksual yang terjadi saat perang antara etnis Rohingya dan pemerintah Myanmar ini mengalami masalah kesehatan organ reproduksi yang serius akibat pemerkosaan yang dilakukan dengan menggunakan pisau atau tongkat. Fatima yang menjadi korban pemerkosaan 30-40 kali dalam semalam mengalami pendarahan saat berhasil kembali dari desanya. Akibat pendarahan ini Fatima kemungkinan tidak dapat memiliki anak lagi. Menurut laporan PHR yang dirilis pada Oktober 2020, berdasarkan pengakuan perawat yang menangani korban dari Rohingya, terdapat pasien yang mengalami trauma dan memiliki luka di sekitar kelaminnya. 

Tidak hanya masalah kesehatan fisik, tetapi korban kekerasan seksual dari perempuan etnis Rohingya ini juga mengalami masalah kesehatan mental yang serius. Perempuan-perempuan itu banyak mengalami gangguan mental seperti depresi dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Korban dari kejadian ini memberikan respon-respon yang tidak normal. Para korban cenderung takut untuk mempercayai tenaga kesehatan yang menangani mereka saat di posko-posko pengungsian. Beberapa di antara mereka tidak berhenti menangis saat melakukan sesi konseling dengan tenaga kesehatan. Beberapa lainnya tidak memberikan respon sama sekali, baik melalui jawaban atas pertanyaan yang diajukan ataupun tidak menunjukkan emosi sama sekali. Gangguan kesehatan mental yang dialami oleh para korban ini tidak hanya didapatkan dari kekerasan seksual yang dialami, tetapi juga dari pengalaman mereka yang dipaksa untuk melihat kekejaman yang dilakukan oleh para tentara sebelum akhirnya membunuh orang-orang etnis Rohingya. 

Selain mengalami masalah kesehatan, para korban kekerasan seksual dari etnis Rohingya ini juga mengalami dampak sosial, yaitu mereka harus melawan stigma yang ada di etnis Rohingya itu sendiri, yaitu stigma yang secara tidak langsung mengatakan bahwa perempuan yang diperkosa adalah aib, baik bagi dirinya sendiri, keluarganya maupun komunitasnya. Pada pertengahan tahun 2018, beberapa LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)  memerlukan usaha ekstra untuk mendata perempuan-perempuan yang diperkirakan akan segera melahirkan agar bisa mendapatkan bantuan persalinan.

Proses ini membutuhkan usaha ekstra karena banyak dari perempuan-perempuan itu yang menyembunyikan kehamilannya. Hal ini disebabkan karena adanya stigma negatif bagi perempuan yang mengalami pemerkosaan dan anak dari pemerkosaan tersebut. Banyak perempuan yang tidak berani untuk mengungkapkan kehamilannya, bahkan mereka tidak berani untuk menemui dokter karena stigma yang berkembang di masyarakat Rohingya sendiri. Beberapa keluarga tidak menerima anak perempuan mereka yang mengalami pemerkosaan, situasi ini membuat para korban tidak berani mengungkapkan kondisinya bahkan ditemukan anak-anak bayi di tempat sampah karena stigma negatif ini. Seorang narasumber untuk Aljazeera bercerita bahwa dirinya telah diperkosa hingga hamil tetapi menutupi kehamilan tersebut, dan berusaha untuk melakukan aborsi menggunakan obat-obatan.

Aborsi tersebut tidak berhasil sehingga narasumber tersebut melahirkan dan membesarkan anak tersebut bersama dengan anak-anaknya yang lain. Narasumber ini mengatakan bahwa sehari-hari ia tetap tinggal di poskonya dan tidak berani untuk menunjukkan diri karena malu kalau orang lain mengetahui apa yang terjadi padanya. Sehari-hari ia juga bergantung pada tetangganya yang mengetahui pemerkosaan yang terjadi padanya, untuk mendapatkan bantuan dari pusat posko pengungsian.

Selain itu, narasumber ini mengaku tidak dapat menemui anak pertamanya yang telah menikah dan tinggal di posko yang berbeda karena suami dari anaknya melarang untuk menemuinya. Pemimpin posko yang ditempati oleh narasumber ini juga menyatakan bahwa komunitasnya menganggap korban pemerkosaan adalah aib, terutama jika pemerkosaan tersebut menghasilkan anak, selain itu perempuan korban pemerkosaan yang belum menikah mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasangan dan menikah. 

Kondisi etnis Rohingya yang tidak diakui oleh pemerintah Myanmar membuka kesempatan bagi etnis ini untuk menjadi korban diskriminasi. Diskriminasi yang dialami oleh etnis Rohingya ini dilakukan oleh pasukan keamanan dari Myanmar dengan menggunakan senjata-senjata dan bom yang digunakan untuk menghancurkan desa mereka, sehingga mereka harus pergi keluar dari dari wilayah Myanmar dan mencari suaka di Bangladesh. Diskriminasi ini menyebabkan orang-orang terluka dan mati. 

Tetapi bagi kaum perempuan, mereka juga mengalami bentuk diskriminasi lainnya, yaitu kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dilakukan oleh anggota keamanan Myanmar itu sendiri. Kekerasan seksual ini banyak dialami oleh perempuan etnis Rohingya dengan pola yang sama, yaitu pemerkosaan masal dan brutal. Dampak yang dialami oleh perempuan-perempuan tersebut akibat kejadian ini adalah rusaknya organ reproduksi, munculnya sakit mental berupa depresi dan PTSD yang tidak hanya disebabkan oleh kekerasan seksual tetapi juga akibat menyaksikan kekejaman petugas keamanan. Rusaknya organ reproduksi yang dialami oleh perempuan ini menyebabkan mereka tidak lagi bisa mempunyai anak, sedangkan depresi dan PTSD yang dialami oleh korban ini membuat mereka tidak dapat berkomunikasi dengan baik, dan mengalami ketakutan berlebihan. 

Tidak berhenti pada keharusan untuk menanggung masalah kesehatan, para korban ini juga harus melawan stigma yang berkembang di masyarakat etnis Rohingya itu sendiri terkait dengan perempuan korban pemerkosaan. Stigma yang mengatakan bahwa wanita korban pemerkosaan adalah aib, menyebabkan para wanita itu harus menarik diri dari kehidupan sosialnya. Mereka harus menyembunyikan kondisinya, meskipun mengalami kesakitan, mereka memilih untuk tidak menemui dokter karena stigma negatif ini. Tidak jarang mereka harus berpisah dengan keluarganya karena dianggap tidak menjaga kehormatan keluarga. Beberapa di antara perempuan-perempuan ini juga mencoba mengaborsi bayinya, dan ada juga yang membuang bayinya langsung di tempat sampah. 

Mengenai dampak yang disebabkan oleh kasus kekerasan seksual, kasus ini tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik korban, namun juga berdampak buruk kepada kesehatan mental para korban sebagaimana para perempuan Rohingya yang diasingkan oleh negaranya sendiri yaitu Myanmar, disaat yang bersamaan pula perempuan Rohingya harus dihadapkan oleh kekerasan seksual. Tidak berhenti sampai sana, sering kali perempuan yang merupakan korban kekerasan seksual harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa mereka diasingkan oleh keluarganya sendiri. Berkaca dari kasus tersebut, perempuan sering sekali dianggap inferior terhadap laki – laki, dimana di mata masyarakat perempuan dianggap memiliki derajat yang lebih rendah daripada laki – laki.

Daftar Pustaka

  • Alsaafin, L. (2018, Agustus 8). Bangladesh: Rohingya rape survivors battle stigma. Retrieved from Aljazeera: https://www.aljazeera.com/news/2018/8/8/bangladesh-rohingya-rape-survivors-battle-stigma
  • Barron, L. (2019, March 27). ‘I Am Doing This for Every Place Where Rape Is a Weapon of War.’ Meet the Woman Documenting Sexual Violence Against Myanmar’s Rohingya. Retrieved from TIME: https://time.com/5559388/razia-sultana-rohingya-myanmar-sexual-violence-documentation/
  • Cochrane, L. (2017, November 21). “Myanmar’s discrimination against Rohingya Muslims is ‘apartheid’: Amnesty International. Retrieved from ABC News: https://www.abc.net.au/news/2017-11-21/myanmar-discrimination-against-rohingya-apartheid-amnesty-report/9177590
  • Human Rights Watch. (2017, November 16). Retrieved from All of my Body was Pain: https://www.hrw.org/report/2017/11/16/all-my-body-was-pain/sexual-violence-against-rohingya-women-and-girls-burma
  • Human Rights Watch. (2017, November 16). Retrieved from Burma: Widespread Rape of Rohingya Women, Girls: https://www.hrw.org/news/2017/11/16/burma-widespread-rape-rohingya-women-girls
  • Myanmar Rohingya: What You Need to Know About the Crisis. (n.d.). Retrieved January 6, 2021, from BBC News: https://www.bbc.com/news/world-asia-41566561
  • Ochab, E. U. (2018, September 2). I Was Lucky, I Was Only Raped By Three Men’ Says A Survivor Of Myanmar Genocide. Retrieved from Forbes: https://www.forbes.com/sites/ewelinaochab/2018/09/02/i-was-lucky-i-was-only-raped-by-three-men-says-a-survivor-of-myanmar-genocide/?sh=2a696f0977a3
  • Pohl, I. (n.d.). I left my body there’: A displaced Rohingya woman’s story. Retrieved January 6, 2021, from Deutsche Welle: https://www.dw.com/en/i-left-my-body-there-a-displaced-rohingya-womans-story/a-45931881
  • Salsabeel, N., & Leera, F. U. (2020, November 6). Another View at the Rohingya Crisis: Women Stuck in the Barriers of Stigma. Retrieved from IFAIR: https://ifair.eu/2020/11/16/another-view-at-the-rohingya-crisis/
  • Sexual Violence, Trauma, and Neglect: Observations of Health Care Providers Treating Rohingya Survivors in Refugee Camps in Bangladesh. (2020, October 22). Retrieved from Physicians for Human Rights: https://phr.org/our-work/resources/sexual-violence-trauma-and-neglect-observations-of-health-care-providers-treating-rohingya-survivors-in-refugee-camps-in-bangladesh/
  • Siaci, D. (2019, September 29). The Mass Rape of Rohingya Muslim Women: An All-Out War Against All Women. Retrieved from Middle East Institute: https://www.mei.edu/publications/mass-rape-rohingya-muslim-women-all-out-war-against-all-women

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *