Arsitektur Hijau dalam Penanganan Pemanasan Global

Oleh: Bernadette Claudike Febyan (Arsitektur, 2020)

Terancam tenggelamnya Pulau Bali, pulau di Indonesia yang terkenal akan wisata alam dan hiburan, tentu mengejutkan banyak orang. Baik warga Indonesia maupun warga asing akan menyaksikan tenggelamnya salah satu pulau terindah yang sudah berdiri sejak tahun 1343. Prediksi hilangnya Pulau Bali ini disebabkan oleh perubahan iklim atau pemanasan global karena faktor alam dan juga manusia. 

Namun, mengapa pemanasan global dapat mengancam tenggelamnya pulau – pulau yang ada? Seperti yang dikutip dari Intergovernmental Panel on Climate Change atau IPCC, peningkatan suhu rata – rata permukaan bumi selama seratus tahun terakhir adalah 0,74°C ± 0.18°C di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Walaupun angka kenaikan suhu tampak kecil, efek yang dihasilkan dapat menyebabkan naiknya volume dan suhu air laut, bencana seperti banjir dan kebakaran hutan, selain itu juga mengakibatkan krisis udara dan air bersih. Pemanasan global ini kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) yang terperangkap di atmosfer. 

Lalu, apakah sudah telat untuk mulai memikirkan tentang lingkungan yang semakin rusak akibat kelalaian manusia? Tentu tidak ada kata terlambat untuk peduli terhadap bumi. Salah satu solusi yang akan berdampak secara jangka panjang adalah menerapkan arsitektur hijau sebagai revolusi dengan cara menggabungkan elemen alam dengan arsitektur seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa negara tetangga. Berikut beberapa alasan mengapa konsep arsitektur hijau adalah pilihan terbaik untuk kedepannya : 

Mampu menurunkan suhu 

Menurut International Energy Agency, sebesar 20% gas rumah kaca disumbangkan dari kegiatan pembangunan secara global dan sebesar 25% di Indonesia. Bila dibandingkan emisi gas rumah kaca antara Indonesia dengan Singapura, negara kita kalah jauh karena emisi yang dihasilkan oleh bangunan di Singapura hanya 15.64%. Hal ini membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia belum mempertimbangkan dampak secara jangka panjang. Sedangkan, bila dilihat dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah, infrastruktur terus mengalami peningkatan, yang awalnya Rp 269,1 T pada tahun 2016 menjadi Rp 423,3 T pada tahun 2020. 

Meningkatnya jumlah bangunan tidak ramah lingkungan mengakibatkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih besar dan berpengaruh pada kenaikan suhu yang merupakan penyebab utama pemanasan global. Bahkan menurut data BMKG, suhu di seluruh Indonesia mengalami kenaikan sampai 1°C selama 30 tahun terakhir ini. Tidak bisa dipungkiri, perubahan suhu yang nampak kecil namun mengancam global ini merupakan efek dari banyaknya infrastruktur abu-abu (gray infrastructure) terutama di kota-kota besar seperti DKI Jakarta. 

Untuk menghindari peningkatan suhu lebih jauh, sebuah studi mengatakan bahwa arsitektur hijau dapat menghasilkan gas emisi sebanyak 33% lebih sedikit dari umumnya (Vanakuru, S.R. & Giduthuri, V.K., 2018). Hal ini dikarenakan penerapan arsitektur hijau harus melalui perencanaan yang sangat matang dan mempertimbangkan masa depan. Oleh sebab itu, para arsitek didorong untuk tidak hanya memikirkan sekedar desain tetapi juga dampak yang diberikan pada lingkungan. Dapat dilakukan dengan cara menerapkan green street yang merupakan tepi kiri atau kanan jalan yang bervegetasi. Selain itu, juga dapat menerapkan green roofing yang merupakan tertutupnya seluruh atau sebagian atap bangunan dengan vegetasi dan media tumbuh yang ditanam di atas waterproofing membrane. Semakin sedikit jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan, semakin sedikit pula peluang naiknya suhu bumi. 

Efisiensi Energi

Konsep arsitektur hijau yang diterapkan memungkinkan biaya yang lebih besar pada awalnya, tetapi sebenarnya arsitektur ramah lingkungan ini dihitung lebih hemat secara jangka panjang. Dapat dikatakan hemat karena bangunan didesain agar dapat meminimalisasikan atau mengurangi kebutuhan energi terkait pemanasan dan pendinginan. Pengurangan kebutuhan energi ini diupayakan dengan cara memaksimalkan energi alami seperti adanya ventilasi dan bukaan untuk cahaya. Namun, peletakan tersebut harus ditata agar mendapat cahaya alami tetapi tidak menyerap radiasi matahari berlebihan (terkhusus bangunan berkaca) agar tidak membutuhkan energi pendinginan yaitu air conditioner

Dibandingkan dengan sektor lainnya, arsitektur merupakan konsumen energi terbesar dengan kedudukan 45% dikarenakan penggunaan energi hampir 100% dalam proses pembangunannya (Krishan, 2001). Sebuah studi mengenai efisiensi energi oleh International Finance Corporation (IFC) dari World Bank Group dan Green Building Council (GBC) mencatat adanya penurunan biaya sebesar 30-80% pada 9 bangunan yang sudah menerapkan konsep arsitektur hijau dan tersertifikasi di Jakarta. Selain itu, perbandingan antara arsitektur hijau dengan arsitektur abu-abu terkait beban pendinginan dan pemanasan menunjukkan bahwa hijau dapat menghemat sekitar 68% dari persyaratan beban pendinginan, dan sekitar 65% dari persyaratan beban pemanasan (Abdullah Alshorman & Malek Alshorman, 2017). Bila konsep ini terus dikelola dengan baik, Indonesia mampu menekan potensi meningkatnya konsumsi energi karena penyelewengan berlebihan oleh manusia yang dapat mengeluarkan emisi gas rumah kaca. 

Meningkatkan Kualitas Udara 

Tahukah Anda bahwa langkah sekecil menanam pohon dan tanaman dapat membantu dunia? Analisis yang dilakukan oleh Stanford University dan University of Barcelona bersama Imperial College London menunjukkan bahwa tumbuhan dapat menambah jumlah bahan organik mereka sebanyak 12% dari normal ketika mereka mengenali gas karbondioksida di udara (Terrer et al., 2019). Penanjakan yang cukup ekstrem ini dapat menyerap gas karbondioksida yang terperangkap di atmosfer dan membatalkan enam tahun emisi gas karbondioksida akibat ulah manusia saat ini. 

Sebuah studi yang membandingkan antara rumah sakit yang menerapkan arsitektur hijau dengan rumah sakit konvensional menunjukkan adanya penurunan angka kematian, tingkat infeksi saluran darah dan konsumsi obat-obatan pada rumah sakit hijau yang merupakan efek IAQ yang baik (Thiel, Needy, Ries, Hupp, & Bilec, 2014). Hasil studi tersebut membuktikan bahwa pengaplikasian konsep arsitektur hijau berupa green street, green roofing serta penanaman vegetasi dapat mengurangi pencemaran udara sehingga kualitas udara meningkat. Terlebih polusi udara di Indonesia khususnya perkotaan sangat tinggi sedangkan pertumbuhan penduduk Indonesia juga tak henti bertambah sehingga kebutuhan udara bersih pun meningkat tetapi penyedianya sedikit. 

Arsitektur hijau dapat mencegah sick building syndrome (SBS) yaitu penyakit yang umumnya muncul dalam gedung perkantoran, dimana seseorang yang menghabiskan banyak waktu di tempat kerja merasakan ketidaknyamanan seperti iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan, pusing, mual serta lelah. Hal ini menarik perhatian World Health Organization (WHO) yang kemudian menyarankan renovasi 30% gedung-gedung pada tahun 1984 yang memiliki gejala SBS agar kualitas udara dalam ruang dari yang buruk menjadi baik (US EPA/Indoor Environments Division, 2007). Udara yang terkontaminasi disebabkan oleh masalah-masalah terkait HVAC yaitu heating, ventilation dan air conditioning (Shahzad, S.S., 2016). Tidak hanya itu, material bangunan yang melepaskan gas berbahaya, senyawa organik yang menguap dan penggunaan senyawa kimia berlebihan juga memiliki kontribusi dalam pencemaran udara segar. 

Mengurangi landfill waste 

Studi penelitian yang dilakukan United States Environmental Protection Agency (US EPA) mengatakan bahwa United States menghasilkan 136 miliar ton limbah konstruksi dan pembongkaran pada tahun 1996 dan meningkat lebih dari 2 kali lipat pada tahun 2018 dengan estimasi jumlah 600 miliar ton. Faktor – faktor yang menyebabkan sisa konstruksi antara lain keputusan desain yang tidak efisien baik dari klien maupun designer serta kegagalan arsitek mempertimbangkan limbah konstruksi dalam fase desain (Akinade et al., 2018). 

Untuk mengurangi limbah konstruksi, penerapan konsep arsitektur hijau yang menggunakan perencanaan yang matang serta material ramah lingkungan dapat membantu. Pengurangan yang terjadi ini dikarenakan arsitektur hijau menerapkan konsep pengumpulan, pemilahan serta daur ulang sampah secara ketat. Selain itu, arsitektur yang ramah lingkungan ini mendaur ulang puing-puing (debris) atau sisa konstruksi yang terjadi karena kelebihan bahan sehingga jumlah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir berkurang. Berdasarkan studi penelitian, mendaur ulang material bangunan dapat mengurangi dampak buruk pada lingkungan dan total energi siklus hidup sebanyak 30% (Chau, C.K., Leung, T.M., Ng, W.Y., 2015). 

Menghindari bencana 

Reboisasi atau menanam ulang pepohonan merupakan satu bentuk upaya arsitektur hijau dalam mencegah bencana seperti deforestasi yang membawa banyak bencana lain. Seperti yang kita ketahui, salah satu tantangan terbesar yang terus dialami oleh Indonesia, baik di perkotaan maupun daerah, adalah bencana banjir. Terlebih pada awal tahun 2020 Jakarta dilanda banjir yang merugikan banyak warga. 

Menurut Hikersbay, Jumlah tahunan curah hujan di Indonesia adalah 733 mm. Dan karena sebagian besar lahan perkotaan terlapisi oleh aspal, air hujan gagal diinfiltrasi ke dalam tanah kemudian akan mengakibatkan banjir serta kerusakan jalanan. Salah satu upaya untuk mengurangi limpasan pada trotoar dan jalanan adalah green roofing, green street dan green wall yang menawarkan solusi untuk memitigasi perubahan iklim dengan mengurangi limpasan di kota-kota dengan area yang luas dan sangat kedap air (Mora-Meliá, López-Aburto, P. Ballesteros-Pérez, & Muñoz-Velasco, 2018). Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa pemodelan hidrologi penerapan atap hijau secara luas dapat secara mengurangi tingkat limpasan puncak secara signifikan dan volume limpasan masing-masing hingga 30 dan 35%, dalam kasus konversi 100% (Masseroni & Alessio Cislaghi, 2016). 

Selain green roofing dan green street,ada metode arsitektur hijau yang dikenal dengan rain garden. Artinya bukan merupakan taman hujan, melainkan sebuah sistem infiltrasi dan pemanenan air hujan yang dapat menjaga ketersediaan pasokan air dengan cara menyimpan air hujan untuk digunakan di kemudian hari. Terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh Electric Power Research Institute (EPRI) yang menyatakan bahwa penanaman pohon bukan hanya sekedar estetika perkotaan, tetapi juga meminimalisir emisi gas rumah kaca, mencegah terjadinya banjir, serta meningkatkan kualitas air (Keller & Fox, 2019).

Menjaga kelestarian keanekaragaman hayati 

Sebuah studi oleh Nature Climate Change menganalisis bagaimana beruang kutub terpengaruh oleh emisi gas rumah kaca (Molnár et al., 2020). Sebanyak 13 dari 19 sub populasi beruang kutub di dunia telah diperiksa, mewakili sekitar 80% dari total populasi spesies. Para peneliti mengestimasikan adanya kegagalan reproduktif dan penurunan kelangsungan hidup pada beruang kutub hingga akan punah pada akhir abad. Hal ini dikarenakan tingkat pemanasan global yang tidak terkendali menyebabkan es laut yang merupakan habitat beruang kutub perlahan-lahan meleleh. 

Apabila habitat makhluk hidup terganggu maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Diharapkan konsep arsitektur hijau dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dalam skala global akan membantu mencegah beberapa efek negatif dari krisis iklim, dan selanjutnya akan membantu dalam menjaga keutuhan es laut, mencegah naiknya permukaan laut dan memastikan beruang kutub mampu bertahan hidup dan tidak berakhir punah. 

Selain untuk menjaga keberlangsungan hidup hewan yang terancam punah, arsitektur hijau dapat menyediakan habitat baru agar makhluk hidup dapat bergerak dengan luas, bertumbuh dan berkembang sehingga populasi meningkat. Beberapa metode yang dapat diterapkan antara lain green roofing, green street, ataupun green wall yang juga bermanfaat untuk meningkatkan estetika. 

Singkatnya, arsitektur bukanlah sekedar objek, tetapi sebuah interaksi antara pengguna dengan struktur atau bangunan tertentu. Oleh karena itu, kelangsungan hidup makhluk hidup juga harus dipertimbangkan agar tidak merusak ekosistem dunia. Banyak sekali dampak positif yang diberikan oleh arsitektur hijau menunjukkan bahwa penerapannya sangat penting. Terlebih adanya fenomena pemanasan global yang terus meningkat dan semakin parah tiap tahunnya. Harus disadari bahwa waktu yang drastis membutuhkan tindakan yang drastis pula. Maka dari itu, sangat disarankan agar arsitektur hijau mulai diterapkan di Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan besar dengan jumlah penduduk yang tinggi. 

Daftar Pustaka

  • Abdullah Alshorman & Malek Alshorman. (2017). Green Buildings Analysis for Energy Efficiency Enhancement–Jordanian Concept. Diakses pada 12 Januari 2021 dari ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/320302029_Green_Buildings_Analys isfor_Energy_Efficiency_Enhancement-Jordanian_Concept 
  • Akinade, O. O., Oyedele, L. O., Ajayi, S. O., Bilal, M., Alaka, H. A., Owolabi, H. A., & Arawomo, O. O. (2018). Designing out construction waste using BIM technology: Stakeholders’ expectations for industry deployment. Journal of Cleaner Production, 180, 375–385. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2018.01.022 
  • BMKG. (2021). Tren Suhu. Diakses pada 12 Januari 2021 dari BMKG. https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=tren-suhu 
  • Chau, C.K., Leung, T.M., Ng, W.Y. (2015). A review on Life Cycle Assessment, Life Cycle Energy Assessment and Life Cycle Carbon Emissions Assessment on buildings. Applied Energy, 143(C), 395–413. Retrieved from https://ideas.repec.org/a/eee/appene/v143y2015icp395-413.html 
  • Green Building Council Indonesia. (2019). Studi IFC dan GBC Indonesia: Bangunan Gedung Hijau 30-80% Lebih Hemat Air & Listrik – Blog GBC Indonesia. Diakses pada 12 Januari 2021 dari Gbcindonesia.org. http://blog.gbcindonesia.org/studi-ifc-dan-gbc-indonesia-bangunan-gedung-hija u-30-80-lebih-hemat-air-listrik.html 
  • Hikersbay. (2018). Data tabel dan grafik bulanan dan tahunan kondisi iklim di Indonesia. Diakses pada 17 Januari 2021 dari Hikersbay.com website: http://hikersbay.com/climate-conditions/indonesia/kondisi-iklim-di-indonesia.ht ml?lang=id 
  • IEA. (2017). Data & Statistics – IEA. Diakses pada 12 Januari 2021 dari IEA. https://www.iea.org/data-and-statistics?country=INDONESIA&fuel=CO2%20e missions&indicator=CO2BySector 
  • Intergovernmental Panel on Climate Change. (2007). Climate Change 2007: Mitigation of Climate Change. IPCC Fourth Assessment Report. Cambridge: Cambridge University Press. 
  • Keller, A. A., & Fox, J. (2019). Giving credit to reforestation for water quality benefits. PLOS ONE, 14(6), e0217756.  https://doi.org/10.1371/journal.pone.0217756
  • Krishan, A. and Nick, B. (2001), Climate Responsive Architecture, A Design Handbook for Energy Efficient Buildings, Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, 7 West Patel Nagar, New Delhi 110 008, typeset at ANVI Composer, A1/33 Pashchim Vihar, New Delhi 110 063 and printed at Gopson Papers Limited A-28, Sector IX, Noida. ISBN 0-07-453218-3.  
  • Masseroni, D., & Alessio Cislaghi. (2016, March 26). Green roof benefits for reducing flood risk at the catchment scale. Diakses pada 17 Januari 2021 dari ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/299431442_Green_roof_benefits_for _reducing_flood_risk_at_the_catchment_scale 
  • Molnár, P. K., Bitz, C. M., Holland, M. M., Kay, J. E., Penk, S. R., & Amstrup, S. C. (2020). Fasting season length sets temporal limits for global polar bear persistence. Nature Climate Change, 10(8), 732–738. https://doi.org/10.1038/s41558-020-0818-9
  • Mora-Meliá, D., López-Aburto, C. S., P. Ballesteros-Pérez, & Muñoz-Velasco, P. (2018, April 10). Viability of Green Roofs as a Flood Mitigation Element in the Central Region of Chile. Diakses pada 17 Januari 2021 dari ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/324390919_Viability_of_Green_Roof s_as_a_Flood_Mitigation_Element_in_the_Central_Region_of_Chile 
  • NEA E2Singapore. (2012). Climate Change. Diakses pada 12 Januari 2021 dari E2singapore.gov.sg. https://www.e2singapore.gov.sg/overview/climate-change 
  • Shahzad, S.S. (2016). Building-Related Symptoms, Energy, and Thermal Control in the Workplace: Personal and Open Plan Offices. (2016). ResearchGate. https://doi.org/10.3390\/su8040331
  • Terrer, C., Jackson, R. B., Prentice, I. C., Keenan, T. F., Kaiser, C., Vicca, S., … Franklin, O. (2019). Nitrogen and phosphorus constrain the CO2 fertilization of global plant biomass. Nature Climate Change, 9(9), 684–689.  https://doi.org/10.1038/s41558-019-0545-2 
  • Thiel, C. L., Needy, K. L., Ries, R., Hupp, D., & Bilec, M. M. (2014). Building design and performance: A comparative longitudinal assessment of a Children’s hospital. Building and Environment, 78, 130–136. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2014.04.001 
  • US EPA/Indoor Environments Division. (2007). Indoor Air Facts No. 4 Sick Building Syndrome. Diakses pada 17 Januari dari EPA. https://www.epa.gov/sites/production/files/2014-08/documents/sick_building_f actsheet.pdf 
  • US EPA, OLEM. (2017). Construction and Demolition Debris: Material-Specific Data | US EPA. Diakses pada 17 Januari 2021 dari US EPA. https://www.epa.gov/facts-and-figures-about-materials-waste-and-recycling/con struction-and-demolition-debris-material 
  • Vanakuru, S.R. & Giduthuri, V.K. (2018). Practicing Green Building Techniques in Reducing Greenhouse Gases: An Over View. International Journal of Engineering and Technology, 9(3), 2595–2597. Diakses pada 12 Januari 2021 dari AcademiaEdu. https://www.academia.edu/33843358/Practicing_Green_Building_Techniques_i n_Reducing_Greenhouse_Gases_An_Over_View 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *