Mahasiswa Tertangkap Mencontek, Pecat!

Surat Terbuka untuk Pimpinan Universitas

“terlepas dari kabar adanya mahasiswa yang suka mencontek tertangkap basah mencontek lagi saat ujian, usulan ini memang benar-benar berasal dari kegelisahan saya selama kuliah di Unpar ini.”

Pertama-tama, pimpinan universitas yang saya maksud adalah Yth. Rektor, Yth. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Yth. Wakil Rektor Bidang Modal Insani dan Kemahasiswaan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Adapun melalui surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal dan usulan saya berkenaan dengan fenomena mahasiswa mencontek di kampus khususnya saat ujian berlangsung. Saya memutuskan dibuat dalam bentuk surat terbuka, agar segera dapat diketahui oleh teman-teman mahaisiswa yang lain tentang usulan saya ini yang sangat mungkin menimbulkan sikap setuju dan tidak setuju. Jika demikian, dapat segera diperdebatkan dan dijelaskan kepada pihak-pihak itu.

Di kampus ada fenomena menarik sekaligus memalukan, bahwa masih terdapat mahasiswa-mahasiswa yang menganggap mencontek adalah hal yang biasa. Menarik, karena kejadian seperti ini masif terjadi di lingkungan kampus, dimana nilai moral dan penekanan kepada integritas pribadi sangat ditekankan. Memalukan, karena bagaimanapun tindakan mencontek itu sendiri adalah tindakan yang sangat memalukan sebab akademisi yang melakukan tindakan ini dapat dipandang tidak memiliki harga diri lagi.

Dalam konteks Unpar, tentu tindakan mahasiswa yang masih suka mencontek adalah sangat memprihatinkan. Bahwa sejak awal Unpar berdiri, prinsip kejujuan sudah sangat dijunjung tinggi. Para pendiri menekankan kejujuran sebagai salah satu nilai yang hidup di Unpar tanpa kecuali. Kejujuran dirasa penting demi menciptakan generasi-generasi unggul, bukan sekadar pintar tetapi berintegritas dan di masyarakat dapat dipercaya. Sedikitnya perlu diuraikan soal nilai kejujuran ini yang sampai sekarang masih diakui di Unpar.

Saya memegang draft kedua buku NDSU (Nilai Dasar dan Spiritualitas Unpar) versi tanggal 28 November 2012. Di halaman 24 huruf h dijabarkan singkat tentang prinsip kejujuran sebagai salah satu dari sepuluh prinsip professional yang ditekankan di Unpar. Disebutkan “kejujuran: sikap jujur adalah dasar dari segala bentuk kemajuan seseorang yang positif bagi kehidupan personal dan komunalnya. Cendikiawan yang jujur berani bersikap terbuka kepada kebenaran, tidak egois. Tapi berani menolak bahkan menentang sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan religius, serta bertentangan dengan nilai-nilai yang fundamental”. Penekanan yang dapat diambil dari penjelasan ini adalah bahwa kejujuran maksudnya soal berani mengatakan yang benar. Kalau bertentangan dengan nilai moral berarti tidak jujur. Dan kalau begitu salah.

Selanjutnya, dari Buku SINDU (Spiritualitas dan Nilai Dasar Unpar) yang dikeluarkan sejak tahun 2013, prinsip kejujuran tidak hilang, malah makin dijabarkan lagi. Pada halaman 26 huruf c disebutkan, “Prinsip kejujuran mengandung dua pengertian. Pertama, menyatakan sesuatu yang benar seperti apa adanya (honesty). Kedua, mampu mengemukakan hal yang benar melalui proses pengujian atau objektivitas. Dalam konteks sains, teknologi dan seni, prinsip objektivitas mendorong kajian atau dialog interdisipliner dalam kegiatan akademik anggota civitas akademik UNPAR. Baik sikap menyatakan apa adanya dan objektif berkaitan dengan prinsip keterbukaan dan kesetaraan dalam mewujudkan upaya akademis untuk mencapai kebenaran”.

Civitas akademika Unpar tahu betul bahwa salah satu prinsip pembelajaran Unpar tujuannya adalah untuk membentuk pribadi yang utuh (humanum). Dalam konteks ini, masih dalam buku SINDU halaman 35, diharapkan mahasiswa memiliki kesadaran moral terutama dalam perilakunya sehari-hari. Dalam BAB V buku SINDU tentang norma-norma praksis, prinsip kejujuran mendapat penekanannya yang lebih jelas. Pada halaman 56 di nomor 4 ditegaskan “Pendidikan di UNPAR menanamkan kejujuran akademik dan kejujuran dalam sikap dan perilaku. Dengan demikian UNPAR TIDAK MENTOLERIR berbagai bentuk ketidakjujuran dan kecurangan, seperti mencontek, plagiarisme, pemalsuan dokumen, pemalsuan tanda tanganm dll. Kiranya perlu ditekankan lagi, bahwa tidak ada toleransi untuk perbuatan tidak jujur. Titik.

Itu dari segi filosofi nilai-nilai yang sebenarnya oleh para pendiri UNPAR dapat dijalankan di UNPAR oleh seluruh civitas akademika selama UNPAR berdiri. Sekarang mari sejenak melihat peraturan yang berlaku di Unpar berkenaan dengan tindakan mencontek mahasiswa. Satu-satunya peraturan yang dapat diacu adalah Keputusan Rektor Universitas Katolik Parahyangan Nomor III/PRT/2005-08/105-SK tentang Pengaturan Tata Tertib Mahasiswa dan Prosedur Penjatuhan Sanksi. Pada pasal 6 keputusan rektor itu diatur bahwa Mahasiswa dilarang melakukan perbuatan yang bersifat curang dalam rangka pelaksanaan suatu tugas dan/atau ujian”. Tentu mencontek adalah bentuk dari perbuatan yang bersifat curang itu. BErkenaan dengan tindakan ini, pasal 14 ayat (1) mengatur bahwa sanksi dapat dijatuhkan kepada mahasiswa itu berupa: a. Teguran lisan; b. Teguran tertulis; c. Penolakan untuk memberikan pelayanan akademik dan/atau administrasi tertentu; d. Pembatalan hak tempuh untuk satu atau seluruh mata kuliah pada satu semester; e. Larangan untuk aktif (penskorsan) sebagai mahasiswa di kampus untuk satu semester atau lebih; f. Pemecatan sebagai mahasiswa.

Sampai sini, barulah saya ingin menyampaikan usulan saya kepada pimpinan Universitas, bahwa sudah saatnya Unpar memiliki peraturan (dalam bentuk keputusan rektor) yang mengatur bahwa setiap mahasiswa yang tertangkap melakukan tindakan mencontek langsung dipecat sebagai mahasiswa atau dikeluarkan dan dicabut status mahasiswanya. Jadi tidak lagi diberi kemungkinan untuk dijatuhi hukuman selain dipecat sebagai mahasiswa dari Unpar. Pertimbangan yang bisa saya berikan, di antaranya:

Pertama, Unpar sendiri sudah menekankan bahwa sikap jujur adalah nilai penting yang harus dihidupi sekaligus dijalankan oleh civitas akademika dalam seluruh aktivitas akademik dan pembelajaran. Kita bisa lihat penjelasan dalam buku SINDU yang sudah saya singgung sebelumnya, bahkan Unpar tidak menolerir tindakan-tindakan tidak jujur, seperti mencontek. Makna tidak menolerir ini harusnya dipahami, bahwa ketika perbuatan tidak jujur itu dilakukan (seperti mahasiswa mencontek) artinya yang bersangkutan sudah siap untuk tidak lagi menjadi bagian dari Unpar.

Kedua, fenomena peserta didik (baca: mahasiswa) suka mencontek terjadi di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Hal ini menjadi rahasia umum dan sangat sulit diberantas. Tetapi yang sulit bukan berarti tidak mungkin diterapkan. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan usaha awal untuk melakukan pemberantasan itu. Jika mahasiswa mencontek masih diberikan kesempatan menyandang gelas kesarjanaan dari Unpar, walaupun sudah dihukum skors sampai maksimal dua semester, maka artinya Unpar secara tidak langsung mengatakan bahwa mencontek itu boleh, tapi kena hukuman dua semester skors. Toh masih boleh menyandang gelar sarjana dari Unpar. Ini bahaya, karena untuk orang-orang yang suka mencontek atau orang-orang tanpa integritas dan harga diri, skors itu tidak masalah. Sebab mereka cuma mengerjar gelar, yang rusak justru nama baik kampus.

Ketiga, bahwa membuat peraturan yang menyatakan bahwa mahasiswa yang ketahuan mencontek (tanpa memandang berapa kali sudah mencontek) adalah logis. Mahasiswa mencontek itu pasti melakukan tindakannya dengan sadar. Mereka sadar bahwa tindakan itu salah, tapi tetap melakukan. Di sisi lain, mereka sadar kalau Unpar menolak sikap tidak jujur, tetapi mereka tetap berbuat curang. Mereka sadar kalau tindakan mencontek adalah kejahatan luar biasa di lingkungan akademis, tetapi mereka tidak mau memedulikan. Untuk manusia-manusia semacam ini, tidak ada tindakan lain yang pantas diberikan selain tindakan tegas, yaitu dikeluarkan atau dipecat sebagai mahasiswa. Dicabut status kemahasiswaannya. Yang bersangkutan silahkan mendaftar ke kampus lain.

Keempat, dengan menindak tegas mahasiswa-mahasiswa curang yang mencontek ini, selain Unpar betul-betul menjalankan prinsipnya, Unpar juga turut dalam usaha pencapaian Indonesia yang bersih dari tindakan-tindakan curang. Korupsi di Indonesia yang sampai saat ini masih tinggi peringkatnya hampir semua dilakukan oleh orang-orang yang bergelar akademis mulai dari sarjana sampai guru besar. Keinginan untuk korupsi pada dasarnya adalah kebiasaan yang pasti tumbuh bukan dalam waktu sebentar. Artinya pemberantasan perbuatan curang harus juga menjad kebiasaan baru. Kampus, termasuk Unpar, harusnya menjadi salah satu wadah untuk mencegah terjadinya perilaku-perilaku curang, perilaku-perilaku korup seperti mencontek kepada mahasiswa sejak awal.

Kelima, secara legal prosedural, dibuatnya keputusan rektor tentang mahasiswa mencontek yang langsung mendapatkan sanksi dikeluarkan dari kampus adalah sangat mungkin. Baik secara nilai dan prinsip-prinsip hukum, hal tersebut sangat dimungkinkan. Mungkin tinggal adapakah ada political will yang baik untuk melakukannya atau tidak.

Kiranya ususlan ini sangat relevan untuk ditujukan sekarang, sebab penekanan utamanya adalah mengenai pentinganya sikap jujur di lingkungan kampus, di Unpar. Dengan nilai-nilainya yang terjabarkan dengan baik dan lengkap itu, seharusnya Unpar juga bisa menjadi kampus pelopor dimana tindakan kejujuran sebagai akademisi sangat penting dan ditegakkan tanpa kecuali dan tanpa kompromi. Nilai-nilai yang baik dan lengkap itu hendaknya tidak menjadi omongan kosong bagi civitas akademika dan masyarakat luas, tapi memang benar-benar terbukti dijalankan di kampus Unpar.

Penutup, saya mau menekankan usulan saya ini, yaitu: dibuatnya Keputusan Rektor yang mengatur bahwa mahasiswa tertangkap mencontek langsung dipecat sebagai mahasiswa Unpar, tanpa toleransi.

Bandung, 17 Desember 2015

Tentang Penulis:

Richard Sianturi,

Fakultas Hukum angkatan 2012. (2012200303)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *