Unpar Sekarang: Entahlah!

Oleh: Petrus Richard Sianturi 

Keliru kalau dalam kondisi yang serba membingungkan, seakan-akan logika dan hati nurani tidak ada harganya sama sekali, kita diam. Tepat seperti sekarang ini, dengan kesadaran penuh, saya merasa penting untuk menuliskan tentang betapa Unpar kini sudah tidak lagi benar-benar sebagai tempat untuk belajar dengan nyaman, berkembang dengan bahagia apalagi berproses dan berelasi dengan senang.

Pagi-pagi saja truk-truk megaproyek untuk membangun gedung baru yang indah itu sudah antri untuk masuk. Agak siangan dikit, pemandangan keluar masuk truk sudah biasa. Biasanya saya dan mahasiswa yang lain berhenti dulu karena harus menunggu truk-truk itu lewat sambil menikmati debu yang banyak itu. Belum lagi saat sedang proses belajar-mengajar di kelas, tiba-tiba ada suara keras yang begitu mengganggu yang tidak lain berasal dari kegiatan pembangunan itu. Sampai-sampai ada dosen yang harus keluar kelas dulu untuk menegur pekerja, waktu mengajar beliaupun berkurang karena harus menegur.

Mungkin sekarang telah terjadi apa yang sempat ditakuti oleh kebanyakan mahasiswa saat mulai muncul isu akan adanya pembangunan besar-besaran di Unpar. Lingkungan kampus yang berdebu, tempat berkumpul yang makin sempit, polusi suara yang mengganggu kegiatan belajar-mengajar, keluar masuknya kendaraan proyek yang besar-besar dan mengerikan. Apalagi kami yang di gedung 2, hal-hal begitu sudah biasa sekali kami nikmati.

Ada ungkapan yang bilang, “apa yang keluar dari mulut adalah luapan dari hati”. Sesungguhnya yang saya tulis ini adalah luapan itu. Hati nurani mendorong untuk mengatakan secara terbuka, kalau keadaan di Unpar sekarang dikaitkan dengan proses bertumbuh dan berkembang sebagai mahasiswa kini sudah makin hilang artinya. Pembangunan yang katanya untuk masa depan institusi ini ke arah yang lebih baik itu kelihatan menjadi fokus yang terpenting bagi para pejabat kampus ini. Apa buktinya?

Lihat saja, truk-truk masih bisa keluar masuk dengan bebas di siang hari di saat mahasiswa mondar-mandir keluar masuk, ini sangat membahayakan tentu. Selain daripada debu yang ke depan membahayakan kesehatan, mengapa semua pekerjaan pembangunan tidak dilakukan di malam hari? Belum lagi ributnya benda-benda proyek yang menggangu itu.

Pernahkah ada pihak kampus yang memberikan solusi kemana mahasiswa bisa berkumpul dengan teman-temannya di saat plasa hukum, plasa GSG, koridor hukum dan fisip sudah tidak ada lagi? Sekarang mahasiswa hanya bisa memilih, langsung pulang setelah kelas atau berkumpul di tempat-tempat tidak kondusif. Mungkin kebanyakan memilih untuk langsung pulang, dan berarti amanat Unpar kalau mahasiswa jangan jadi mahasiswa “kupu-kupu” adalah omong kosong saja.

Ini bukan soal setuju tidak setuju dengan pembangunan, sebab bagaimanapun proses pembangunan sudah dimulai. Ini soal bagaimana para pejabat kampus memikirkan hak mahasiswa (lingkungan kampus yang menyenangkan, tenang untuk belajar, dapat menghirup udara bersih bukan debu, nyaman untuk membangun relasi dengan teman), di samping tetap harus melakukan pembangunan. Bagaimanapun kampus ini milik bersama, semua stakeholder memiliki hak dan kewajiban. Saling menghargai harus selalu disadari. Apalagi ini adalah dunia kampus, perguruan tinggi, dunia para intelektual dimana hal-hal seperti ini seharusnya sudah menjadi “makanan sehari-hari”.

Tentu semua menyadari bahwa stakeholder paling banyak dari segi jumlah di lingkungan kampus adalah mahasiswanya. Dengan fakta itu, sangat logis jika mengatakan bahwa berjalannya kampus itu sangat ditentukan oleh mahasiswanya. Saya hanya mau mengatakan bahwa dengan begitu keberadaan mahasiswa disertai hak dan kewajibannya juga harus dihargai, didengarkan, dipertimbangkan. Kesadaran ini yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan atau paling tidak pura-pura dilupakan.

Bukan hanya itu, soal larangan merokok, sekarang makin tidak jelas. Sejak pergantian jajaran rektorat, tepatnya dimulai semester ganjil 2015/2016 sekarang ini, kelihatan tidak jelas, apakah masih ada larangan merokok atau tidak. Persoalannya bukan apakah setuju dengan adanya larangan merokok atau tidak, tapi soal kepastian tentang adanya peraturan itu atau tidak. Kalau ada, tetapi kenyataannya yang di kampus merokok masih bebas. Kalau peraturan itu sudah tidak ada, tetapi mengapa tidak ada pemberitahuan. Mengapa yang begini didiamkan begitu saja? Apa kita pura-pura tidak sadar?

Sekarang ini kondisi kelihatan runyam karena kita merasa seakan-akan Unpar tidak ada masalah apapaun yang berkaitan dengan segala hal yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Padahal masalah banyak sekali, khususnya soal penghargaan terhadap hak-hak mahasiswa. Tentu mahasiswa memilih Unpar dengan ekspektasi tinggi, selain karena kampus ini dikenal baik, visi misi yang menjamin masa depan yang cerah. Tapi kalau hanya karena ada pembangunan, rokok dan lain sebagainya mahasiswa sempat berpikir menyesal memilih Unpar karena hak-haknya tidak didengar, ini seharusnya jadi pertanyaan bagi masing-masing dari kita, terutama pejabat kampus.

Kalau setelah ini tidak ada yang berubah juga, anggaplah mungkin ini cobaan yang sedang dihadapi mahasiswa Unpar. Biarlah mahasiswa Unpar hanya bisa iri melihat kebahagiaan mahasiswa kampus tetangga yang bisa nyaman dan senang berproses di kampus mereka. Ya, mungkin belum saatnya mahasiswa Unpar menikmati kampus yang mereka harapkan.

Lebih dari itu semua, semoga ke depan sesuatu yang baik berpihak pada Unpar tercinta ini.

 

* Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Unpar angkatan 2012. 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *