Ketua Senat Universitas : Saya Keberatan Dengan Pembangunan Gedung Baru

Proses pembongkaran GSG Dok. MP

STOPPRESS MP, UNPARKetua Senat Universitas, Johanes Gunawan  menyatakan bahwa dirinya keberatan dengan pembangunan gedung baru. Menurutnya, pembangunan tersebut harus berdasarkan rencana induk pengembangan (RIP). RIP tidak lain menyangkut kebutuhan di masa mendatang dengan kurun waktu 25 tahun.

“Pembangunan itu harus disesuaikan dengan  program jangka panjang. Dari program itu kita harus tahu  kedepannya pendidikan tinggi di Unpar mau seperti apa,” ujar pria yang kerap disapa Jogun saat ditemui di ruangannya yang terletak di lt. 4 Gedung 2 pada Jumat (17/4) lalu.

Johanes menjelaskan bahwa Unpar  tidak memiliki RIP universitas, tetapi hanya ada RIP yayasan. RIP yayasan itulah yang dianggapnya tidak cocok dengan kebutuhan Unpar. Ia menyebutkan alasannya karena kehadiran PT (Perseroan Terbatas) dalam yayasan.

Selain itu, pria yang juga bekerja di Dikti (Direktorat Jendral Perguruan Tinggi) dan dosen fakultas hukum itu memiliki sejumlah alasan terkait keberatannya.

Pertama, Unpar belum tahu 25 tahun ke depannya bakal seperti apa. Johanes menjelaskan bahwa pembangunan tersebut harus disesuaikan dengan keperluan  ke depan sedangkan  saat ini belum tahu.  Hal itu meliputi bagaimana desain ruangan dan lab serta berapa jumlah mahasiswa yang akan ditampung. “Karena ke depannya saja tidak tahu dan malahan sudah dibangun, maka saya menentang keras!” ucapnya.

Kedua, perguruan tinggi harus menjunjung tinggi kebenaran bukan kekuasaan. Johanes menjelaskan bahwa ia telah berupaya menulis surat kepada uskup Bandung mengenai keberatannya  terhadap pembangunan itu.  Akan tetapi, uskup tetap memberikan lampu hijau dengan alasan telah direncanakan selama 6 tahun dan telah disetujui yayasan.  “Saya tidak tahan melihat hal itu memakai kekuasaan dan terjadi di universitas katolik. Kan gila! Mestinya dia (uskup. red) yang paling tahu soal itu,” ujarnya.

Ketiga, kampus Unpar sudah  crowded. Secara pribadi, Johanes mendukung pembangunan gedung itu, tetapi tidak di jalan Ciumbuleuit. Hal itu ditegaskannya mengingat Unpar masih memiliki tanah seluas 85 hektar di Padalarang yang belum dipakai. “Jadi saya itu tidak menolak pembangunan. Malah terima kasih dikasih gedung baru, tetapi jangan di sini,” katanya.

Keempat, kualitas Unpar lebih penting daripada pembangunan gedung. Johanes berpendapat bahwa uang itu (pembangunan) lebih baik digunakan untuk menyekolahkan dosen agar Unpar kuat. Hal itu dipertimbangkan karena dalam 20 tahun, seoarang dosen harus mencapai guru besar.

Selain itu, ia mengambil contoh kondisi lab Teknik Sipil yang sudah lumayan tua dalam hal teknologi. Awalnya usulan pembaharuan telah diberikan, tetapi ditolak oleh yayasan. Hal lain yang menjadi perhatiannya yaitu penurunan peminat Unpar yang semula 13.500 dengan satu gelombang menjadi hanya 4000 dengan empat gelombang penerimaan. “Itulah yang mesti menjadi pemikiran yayasan (kualitas.red) bukan membangun gedung,” ujarnya.

Pembangunan gedung baru meliputi perobohan sejumlah gedung yaitu, GSG dan gedung Fakultas Teknik. Perobohan GSG sendiri sempat tertunda dari semula Januari menjadi April 2015. Selanjutnya, pihak yayasan berencana membangun Gedung Arntz-Geisse setinggi 13 lantai dan menambah lahan parkir.

VINCENT FABIAN

Related posts

*

*

Top