Keraguan Seputar Bantuan Keuangan Kampus

Universitas Katolik Parahyangan. dok/msn.com

LIPUTAN, MP — Pada Forum Besar bulan lalu, Rektor Unpar menyebutkan bahwa pihak kampus akan menyediakan bantuan keuangan untuk mahasiswa yang kesulitan, bukan penurunan UKT. Pada saat liputan ini ditulis, pendaftaran beasiswa untuk bantuan keuangan sudah ditutup Minggu (19/7) lalu tapi diperpanjang kembali hingga Rabu (22/7), dan uang 500 ribu yang diberikan ke setiap mahasiswa sudah dicairkan. Pada perjalanannya, banyak masalah atau keraguan yang muncul dari pihak mahasiswa.

Dengan memiliki orang tua yang bekerja sebagai PNS dan kontraktor, seorang mahasiswa Arsitektur yang tak ingin disebut namanya, meragukan apakah kondisi keluarganya dapat disebut sebagai ‘kurang mampu’.

Padahal, secara kondisi keuangan, keluarganya memang tengah menghadapi paceklik: penghasilan dari ayah sang mahasiswa mandek, dengan hampir tidak ada penghasilan sama sekali. “Bokap gua sejak COVID jadi susah (dapat) proyeknya,” jelas dia. Dia juga bercerita bahwa orang tuanya masih harus membiayai pendidikan saudaranya yang lain.

Mahasiswa lain, Hubungan Internasional angkatan 2019, juga meragukan apakah kondisinya termasuk dalam persyaratan ‘terdampak’ COVID-19. Ia tak terdampak langsung, tapi jelas membutuhkan bantuan keuangan dari kampus. “Bokap gua baru meninggal Juni lalu dan hal tersebut cukup berdampak sama keuangan keluarga gua,” ujar dia.

Nah, disitu gua bingung sebenarnya gua gak memenuhi persyaratan untuk bantuan.” lanjut dia. Syarat yang diajukan pihak Universitas memang kabur soal ini: disebutkan hanya ‘terdampak’ oleh COVID 19, tanpa detail lebih lanjut.

Mahasiswa Arsitektur tersebut juga mengeluhkan UI dari website beasiswa resmi Unpar yang membingungkan. Ia tidak bisa mengoreksi file setelah diunggah, dan tidak ada cara untuk membenarkan data yang sudah dimasukkan sebelum benar-benar mengunggah pengajuan beasiswa.

Hanya setelah seluruh data diunggah, ia mendapati bahwa beberapa terdapat kesalahan dengan beberapa berkas yang ia masukkan, sedangkan ia sudah tidak bisa lagi mengubah data tersebut.

Lebih lanjut, berdasarkan informasi yang didapatkan reporter Media Parahyangan, beberapa mahasiswa juga tidak terinformasikan mengenai bantuan yang tersedia. Salah satu mahasiswi Hubungan Internasional 2018 misalnya, dia mengaku awalnya tidak tahu ada kompensasi 500ribu.

“Udah minta ke BKA gak dibalas,” ujarnya. “Kata anak-anak BEM juga gak bisa,” lanjutnya. Akibatnya, mahasiswi tersebut tidak meng-input data yang diperlukan untuk mencairkan biaya bantuan sebesar 500 ribu tersebut.

Terlebih, data nomor rekening yang dimasukkan secara manual dan dimasukkan secara manual juga oleh pihak kampus berujung pada kebingungan dan uang bantuan yang tidak tercairkan kepada beberapa mahasiswa.

Kamis (16/7) lalu Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) sempat melakukan live instagram untuk membahas mengenai kompensasi, program bantuan, dan donasi terbuka COVID-19. Salah satu mahasiswa Ekonomi Pembangunan 2018 yang hadir dalam sesi live tersebut bercerita bahwa pihak kampus tidak menjelaskan secara rinci skema bantuan dan kompensasi.

Dia mengaku bahwa dirinya merupakan salah satu mahasiswa yang belum mendapatkan kompensasi 500ribu. “Sebelumnya saya sudah mengisi google form yang disediakan pihak universitas,” jelasnya. Dalam live instagram tersebut dia juga sempat menyarankan agar kampus menyertai bukti sehingga mahasiswa tahu letak kesalahannya.

“Dengan mengirimkan informasi data (dari bank) melalui email mahasiswa yang bersangkutan agar data terjamin,” kata dia. Namun, dia mengatakan bahwa pihak kampus menilai hal tersebut merupakan tindakan konyol yang beresiko kebocoran data. “Menurut saya, bila diberikan langsung kepada yang bersangkutan melalui email tidak mungkin terjadi kebocoran.” ujarnya.

Dia juga bercurah bahwa live instagram yang diadakan BKA tidak disertai dengan komunikasi dua arah. “Masih banyak informasi lain terutama yang dengan dana kompensasi beserta beasiswa tidak dapat diterima dengan baik,” kata dia. “Seingat saya tadi malam pihak universitas tidak bertanggung jawab atas kesalahan (kompensasi) tersebut,” lanjutnya.

Forum Komunikasi dari FISIP menyebutkan terdapat 600 kasus salah memasukkan data nomor rekening. Diketahui kasus ini sedang diurus lebih lanjut oleh pihak kampus dan akan diumumkan melalui student portal di kemudian hari.

Selain itu juga, belum ada informasi lebih lanjut mengenai pengajuan bantuan dalam bentuk cicilan di portal beasiswa Unpar. Kampus baru hanya mengatakan bantuan dimaksimalkan sampai 4 kali cicilan.

Naufal Hanif, Nathanael Angga, Novita

Related posts

*

*

Top
Atur Size