Kegiatan Mahasiswa Arsitektur: Kebutuhan Menggunakan Ruang Komunal Kampus Setelah jam 10 Malam

Gerry Salman Natabradja, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur (HMPSArs). dok/ MP.

STOPPRESS, MP – Gerry Salman Natabradja, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur (HMPSArs), mengatakan bahwa mahasiswa arsitektur Unpar keberatan dengan pembatasan waktu kegiatan mahasiswa di kampus sampai jam 10 malam. Sikap keberatan ini merujuk pada kebutuhan mahasiswa arsitektur untuk menggunakan ruang komunal di kampus lebih dari jam 10 malam untuk mengerjakan tugas kuliah dan kegiatan komunal lainnya. Kebijakan pembatasan waktu mahasiswa melakukan kegiatan di kampus sudah berlaku sejak Mei 2018.

“Kita (red. mahasiswa Arsitektur) kelas sampai jam 6 sore, setelah jam 6, barulah kita pakai waktu untuk acara komunal. Jadi total tersisa hanya 4 jam (red. hingga jam 10 malam) dalam sehari,” jelas Gery. Tetapi menurut Gery, sisa waktu 4 jam tidak cukup bagi mahasiswa melakukan kegiatan seperti, mengerjakan tugas yang harus dikumpul sesuai waktu tenggat, mengerjakan program kerja himpunan dan lain-lain. “Jadi cuman sisa waktu 4 jam sehari, kita bisa ngerjain apa?” ujar Gery.

Gery menjelaskan bahwa tugas Arsitektur bersifat berkala, maka dari itu membutuhkan waktu bergadang. Dalam mengerjakan tugas pun, mahasiswa arsitektur biasanya mengerjakannya bersama-sama di ruang komunal di kampus seperti ruang himpunan Arsitektur.  “Jadi kita benar-benar komunal, dan memang waktunya cuman bisa ngerjain malam hari dan bergadang, jadi sebetulnya ini (red. ruang komunal) penting untuk disediakan bagi kita,” jelas Gery. Budaya mengerjakan tugas bersama di Arsitektur sendiri untuk mengantisipasi mahasiswa telat mengerjakan tugas karena ketiduran. Gery menceritakan beberapa temannya telat mengerjakan tugas di pagi hari akibat ketiduran. “Sejak saat itu ngerjain (red. tugasnya) bareng-bareng,” tambah Gery.

Sejak adanya pembatasan waktu berkegiatan di kampus hingga jam 10 malam, Gery mengatakan mahasiswa Arsitektur menggunakan alternatif lain dalam mengerjakan tugas bersama seperti mengerjakannya di indekos. “Tetapi demografinya terpecah-pecah, karena hanya muat beberapa orang dan kosan sempit,” ujar Gery. Mahasiswa Arsitektur juga menggunakan tempat lainnya di sekitar Unpar, seperti Cawit. “Cawit juga tutup jam 4 pagi,” kata Gery. Selain itu, mahasiswa masih bisa menggunakan Co-Op Space, sebagai ruang komunal di Unpar yang masih buka hingga pagi. “Tapi kan Co-Op sebegitu adanya,” jelas Gery.

Kendala mendapatkan tempat untuk mengerjakan tugas yang menjadi dasar kebutuhan mahasiswa Arsitektur menggunakan ruang komunal di Unpar yang bisa digunakan lewat jam 10 malam. “Kita butuh ruangan yang benar-benar bisa dipakai buat malam, bisa bareng-bareng terus aman, ada listrik dan wifi, yah di Unpar kan?” ujar Gery.

Selain mengerjakan tugas, ada kegiatan lainnya yang berkaitan dengan program kerja himpunan. Hal ini tidak bisa dikerjakan pada waktu siang agar kegiatan akademik tidak terganggu. “Jadi kita ngerjainnya malam dan kegiatan sehari tersisa itu hanya 4 jam sangat terbatas. Persiapan seperti dekorasi segala macam itu pun juga gak 4 jam doang,” tambah Gery.

Gery mengatakan bahwa dosen Arsitektur pun menolak kebijakan ini. Dosen berpendapat bahwa mahasiswa sudah membayar uang kuliah, termasuk uang prasarana untuk kemahasiswaan.

Birokrasi Perizinan Berkegiatan Melewati jam 10 Malam

Walaupun ada pembatasan waktu, mahasiswa tetap bisa berada di kampus lewat jam 10 malam melalui perizinan kegiatan mahasiswa. Gery mengatakan bahwa sudah jelas apa saja yang dibutuhkan membuat perzinan untuk kegiatan mahasiswa  yang lewat jam 10 malam. Tetapi dalam pengajuannya, selalu ada kendala di wakil dekan (WD) dan Biro Umum Teknik (BUT).  Kendalanya berupam mahasiswa tetap tidak diizinkan untuk melakukan kegiatan diatas jam 10 malam.  “Dia (red. WD III) bilang, dia menaati peraturan kegiatan yang cuman bisa sampai jam 10 malam, dengan itu (red. kegiatan) tidak diizinkan,” jelas Gery.

Salah satu acara yang diajukan perizinannya adalah kegiataan pembinaan mahasiswa baru Arsitektur. Tetapi, kegiatan ini tetap tidak diijinkan oleh WD III untuk berlangsung lebih dari jam 10 malam dengan pertimbangan merujuk pada peraturan yang ada.

Gery mengaku bahwa sebelumnya memang belum pernah ada pengajuan perizinan untuk mahasiswa Arsitektur mengerjakan tugas di kampus lebih dari jam 10 malam. Tetapi menurut Gery, kegiatan yang urgensinya tinggi seperti pembinaan mahasiswa baru masih terkendala, apalagi yang hanya sekedar mengerjakan tugas di kampus.

Gery juga pernah melakukan komunikasi dengan BUT perihal jam malam untuk kegiatan mahasiwa. “Alasannya untuk keamanan, tapi kan ada CCTV, harusnya CCTV gunanya untuk memantau,” tambah Gery.

Sebelum kebijakan ini berlaku, mahasiswa Arsitektur masih diperbolehkan untuk melakukan kegiatan lebih dari jam 10 malam dan bahkan bermalam, di kampus sebelum gedung 45 di robohkan pada tahun 2016. “Dulu pas maba, bahkan ditawarin (red. oleh satpam) mau nginep atau nggak?” ujar Gery. Mahasiswa hanya harus mendata nama dan NPM masing-masing kepada pihak keamanan karena jam 1 pagi gerbang Unpar di kunci. “Waktu maba itu nginep di gedung 45 sebelum dirubuhkan,” Gery menambahkan.

Menuntut Studio 24 jam

Tahun lalu, mahasiswa Arsitektur angkatan 2014 sudah mencoba mengajukan studio yang dapat digunakan selama 24 jam. Pengajuan ini sudah disetujui oleh dosen Arsitektur tetapi belum mendapatkan kesepakatan dengan pihak program studi (prodi) Arsitektur perihal fasilitas ataupun maintenance. Gery mengatakan bahwa prodi mungkin belum percaya kepada mahasiswa mengenai perawatan fasilitias seperti ruang studio. “Tentang penyalaan lampu, kebersihan, seperti itu rasanya (red. mahasiswa) belum bisa dipercaya sama prodi gitu,” ujar Gery.

Selain perihal perawatan fasilitas, pertimbangan lainnya dari prodi adalah waktu yang diberikan oleh prodi kepada mahasiswa untuk menggunakan studio sudah dirasa cukup, yaitu dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Pihak prodi berpendapat bahwa mahasiswa belum memaksimalkan waktu yang telah diberikan untuk menggunakan studio. “Dosen baru datang jam 10 pagi sampai jam 2 siang, sisanya (red. mahasiswa) kalau tidak nongkrong atau tidur, itu yang prodi lihat,” jelas Gery.

Gery mengatakan berdasarkan peraturan Dikti, setiap mahasiswa Arsitektur memiliki personal space yang dapat dipakai 24 jam. “Antara studionya harus buka 24 jam, atau masing-masing mahasiswa harus memiliki meja pribadi dan loker pribadi,” tambah Gery.

 

Daniel Suwito | Ranessa Nainggolan

Related posts

*

*

Top