Kamu Islam? Kok Kuliah di Universitas Katolik? – Mahasiswi Unpar Alami Rasisme Ketika Mewakili Kampus di Pilmapres

Raihan Zahirah (tengah) saat menerima penghargaan sebagai Top 6 Mahasiswa Berprestasi Nasional bersama dosen pendamping Vrameswari Omega Wati dan perwakilan BKA Unpar Pietre Gunawan. dok/unpar.ac.id

WAWANCARA, MP – 23 hingga 25 Juli 2019 lalu, Raihan Zahirah, mahasiswi tahun keempat Hubungan Internasional mewakili Unpar dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi 2019 (Pilmapres). Kompetisi ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaraan dan Kemahasiswaan Kemristekdikti dengan tema  “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)”.

Pada kompetisi Pilmapres tersebut, Raihan meraih posisi top 6 mahasiswa beprestasi nasional. Untuk mewakili Unpar di tingkat nasional, Raihan harus lolos seleksi dari tingkat kampus, Bandung-Cimahi, Jabar-Banten.

Namun, prestasi yang dicapai Raihan tersebut tidak bebas dari perlakuan yang tidak menyenangkan dan justru melenceng dari nilai-nilai akademis. Raihan mengaku dirinya mengalami tindakan rasisme dari dewan juri Pilmapres. Untuk Raihan yang sudah sering mengikuti kompetisi nasional dan internasional, hal tersebut adalah sesuatu yang tidak lazim ditemuinya. Media Parahyangan berkesempatan untuk mewawancara Raihan dan menemukan kronologis kejadian serta pandangannya terkait keberagaman dalam dunia akademis.

Media Parahyangan (MP): Sempat dengar kabar bahwa Raihan mendapat tindakan yang bisa digolongkan sebagai rasisme ketika ikut Pilmapres itu, boleh dijelaskan mungkin kronologisnya gimana?

Raihan (R): Jadi pada saat aku diseleksi mengenai karya unggulan atau prestasi, di situ juri tidak hanya menanyakan tentang prestasi tapi juga di tes kepribadian, opini tentang pemerintahan, dan juga pandangan pribadi tentang dinamika kehidupan saat ini. Waktu itu, pada saat ditanya tentang universitas tempat kuliah, mereka menanyakan agama saya. Jadi mereka menanyakan karena agama saya islam, kenapa saya kuliah di Unpar. Lalu saya jawab, orientasi agama sebuah institusi pendidikan tidak mempengaruhi agama yang saya anut secara pribadi. Karena niat saya dari awal hanyalah mengemban ilmu. Karena yang saya lihat adalah kualitas pelayanan dan pembelajaran yang diberikan oleh institusi pendidikan tersebut. Lagi pula, di Unpar kami menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika yang dimana beragam latar belakang secara ras, agama, suku, dan lain-lain itu hidup berdampingan secara damai.

MP: Menurut Raihan, apakah tindakan tersebut digolongkan sebagai rasisme? Apabila iya, mengapa?

Kalau menurut aku ini rasisme. Karena dengan mengaitkan agama yang dianut secara pribadi dengan orientasi agama sebuah institusi pendidikan yang kita pilih itu gak ada hubungannya sama sekali. Apakah dengan berkuliah di universitas yang memiliki orientasi agama yang berbeda dengan agama yang kita anut secara pribadi akan menjadikan kita tidak beriman? Apakah hal tersebut akan menjadikan kita pindah agama? Apakah hal tersebut akan menjadikan kita tidak lagi beribadah sesuai kaidah agama yang kita anut? That is the point. Justru akan ada hal-hal positif yang bisa kita pelajari dengan adanya interfaith dialogue. Contoh nyata nya adalah sebagai mahasiswa Unpar, saya merasa banyak belajar tentang saling menghargai, toleransi, dan hidup dalam keberagaman. Setiap manusia punya hak asasi untuk bebas memilih universitas mana yang dia inginkan untuk menimba ilmu. Menurut saya menghubungkan agama yang dianut secara pribadi dengan orientasi agama sebuah yayasan atau universitas tidak relevan. Toh bisa dilihat sekarang wakil rektor Unpar itu perempuan muslim berkerudung? Toh bisa dilihat dosen2 pun banyak yang muslim?

MP: Bukannya juri yang menanyakan itu hanya penasaran tentang agama dan tempat kuliah? Memang masalahnya dimana?

R: Ini bisa jadi masalah kalau yang diajak ngobrol atau ditanya nya itu masyarakat awam karena dia akan cepat menerima informasi tanpa menyaring nya terlebih dahulu. Nantinya, mungkin bisa menimbulkan sentimen bahwa yang Islam harus kuliah di universitas Islam. Yang Kristiani harus kuliah di universitas Kristiani. Sehingga ujungnya bisa menimbulkan gap untuk interfaith dialogue, kurangnya rasa toleransi, tidak adanya aksi saling menghargai, dan generasi muda akan sulit hidup damai dalam keberagaman karena mereka cenderung mengagungkan agamanya masing2.

MP: Apakah ada permintaan maaf dari pihak penyelenggara?

R: Kalau dari kampus, berbagai pihak memberikan aku support dan untuk mengalah dengan pertanyaan seperti itu. Tidak ada permintaan maaf karena aku pun mengerti mungkin mereka bukan orang yang benar-benar paham akan hidup dalam keberagaman dan masih memiliki pemikiran yang kuno sehingga mungkin pertanyaan semacam itu masih mereka anggap penting

MP: Terus kan kamu udah sering ikut lomba, nih, di lomba-lomba lain pernah tidak  ngerasain hal kayak gini?

R: Sejauh ini gak pernaaah. I mean, sekalinya lomba internasional atau nasional, belum pernah.

MP: Kalo di nasional, apa yang bedain, Han? Kenapa yang Pilmapres ini ada perlakuan tidak menyenangkan?

R: Kadang di nasional tuh orang masih sedikit ada sentimen dengan orientasi agama sebuah universitas, tapi kalau di lomba internasional tuh gak ada sama sekali yang nanyain hal-hal berkaitan dengan agama pribadi. Menurutku kenapa Pilmapres bisa ada pertanyaan kayak gitu, karena juri nya udah pada tua sehingga mereka masih memiliki pemikiran yang kuno sehingga mungkin akan sangat aneh kalau melihat adanya hidup damai dalam keberagaman.

MP: Memang apa hubungannya jika jurinya tua? Di tempat lain ada perbedaan umur yang signifikan juga?

R: Asumsiku adalah cara berpikir mereka dan lingkungan mereka juga mempengaruhi. Ibaratnya kalau mereka yang sudah tua berada di lingkungan dengan cara berpikir yang masih primordialisme, pasti mereka pun akan aneh dengan orang yang menganut agama moderat atau sekuler.  Karena yang aku rasa hingga saat ini, cara berpikir tentang toleransi dan keberagaman cuma aku dapat di Unpar. Dari lomba internasional dan nasional, yang sering banget dapet juri yang tua tuh pasti lomba dalam negeri. Karena mungkin orang sini masih menganggap yang tua yang tahu segalanya. Padahal kan belum tentu.

MP: Bicara soal pemahaman mengenai nilai-nlai agama seperti ini di Indonesia, menurut kamu itu gimana?

R: Menurut ku kalau di Indonesia, hal tersebut masih ditentukan apakah individu ini berada di lingkungan yang bisa membuat pikiran dia terbuka atau nggak.

MP: Supaya lingkunan terbuka, prakondisi seperti apa sih yang harusnya ada di Indonesia?

R: Menurutku, prakondisi nya adalah komposisi masyarakat nya itu sendiri. Supaya pemikirannya lebih terbuka, perlu ada komposisi masyarakat beragam. Kedua, perlu ada norm entrepreneur yang bertugas untuk memastikan bahwa nilai-nilai keberagaman benar-benar tertanam dengan baik. Ketiga, kompisisi masyarakat beragam nantinya akan menghasilkan interfaith dialogue yang membuka perspektif baru dan kepekaan masyarakat akan hadirnya masukan-masukan dari pihak yang beragam. Sehingga mereka akan lebih peka dalam menanggapi masukan dari pihak yang berlatar belakang beda.

MP: Bukankah harusnya akademisi bisa jadi norm entrepreneur, tapi kenapa malah akademisi yang melakukan?

R: Nah iya seharusnya kan akademisi jadi norm entrepreneur terutama ke mahasiswa-mahasiswi. Menurutku itu juga kayak di Unpar, kenapa dosen-dosennya nya bisa jadi norm entrepreneur karena balik lagi mereka berada di lingkungan yang isinya individu-individu yang beragam serta institusi yang mereka tempati memang memiliki nilai khusus tersendiri. Ibaratnya kayak Uri Bronfenbrenner ecological theory.

MP: Jadi menurut kamu walaupun sama-sama lembaga akademis, lingkungan Unpar lebih mendukung, sehingga menyebabkan adanya perbedaan dengan lembaga akademis lain?

R: Iya. menurutku bagaimana sebuah lembaga akademis memiliki nilai khusus yang ditanamkan itu sangat berperan. Iya betul.

MP: Jadi menurut kamu, sesanti dan SINDU berperan dalam membuat mahasiswa Unpar jadi lebih toleran dan tahu batasan antara personal-publik? Bagaimana pada praktiknya itu diajarkan? Dan kenapa kamu bisa bilang di kampus lain tidak seperti itu?

R: Iya menurutku sangat berperan. Bisa dilihat dari pelajaran fenomenologi agama yang isi matkul nya juga membahas tentang dialog keagamaan serta matkul KWN. Untuk dalam kehidupan sehari hari, itu menurutku udah indirectly akan ter-nurture secara sendirinya. Karena menurutku gak semua kampus punya kesadaran dan tahu akan pentingnya menjaga hubungan dalam sebuah kehidupan yang terdiri dari elemen beragam. Mungkin banyak kampus yang selama ini hanya fokus ke Tri Dharma Perguruan tinggi serta bagaimana meningkatkan kualitas akademis mereka. Namum, terkadang satu hal krusial yang jarang terpikirkan adalah kita ini Indonesia yang dimana orang yang kuliah datang dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda. Justru, menanamkan nilai hidup dalam keberagaman juga menjadi tanggung jawab lembaga akademis selain jajaran pemerintah

MP: Nah, kalau dari pemerintah sendiri, menurut kamu, apa yang harus dilakukan? Terkait kasus yang menimpa kamu secara khususnya dan mengenai kesadaran toleransi di perguruan tinggi secara umumnya?

R: Menurutku, kan biasanya Ristekdikti dan LLDIKTI selalu mengadakan workshop atau pertemuan dengan staff universitas maupun perwakilan rektor. Nah, workshop nya jangan hanya selalu tentang bagaimana meningkatkan pelayanan lembaga akademik, tetapi juga tentang kesadaran toleransi dan hidup keberagaman yang harus menjadi nilai universal serta dijadikan indikator penilaian akreditasi. Menurutku ini penting supaya jadi cermin bagi lembaga akademik lainnya.

 

Miftahul Choir || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top