Kampung Aliansi: Upaya Revitalisasi Ruang Hidup RW 11 Taman Sari

Salah Satu Lokasi Yang di Jadikan Kampung Aliansi. dok/ MP.

NASIONAL, MP – Warga RW 11 Taman Sari bersama kelompok solidaritas berencana untuk menghidupkan kembali ruang hidup dengan membangun Kampung Aliansi. Selain  revitalisasi, kampung aliansi juga sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat lainnya yang terkena dampak penggusuran. Kampung Aliansi juga diharapkan dapat mengembalikan perekonomian RW 11 yang sempat hilang akibat penggusuran.

“Reruntuhan ini harus kita perbaharui,” jelas Eva selaku sekretaris RW 11 Taman Sari. Eva menjelaskan bahwa ruang hidup harus dijaga melalui revitalisasi sembari menunggu kepastian hukum mengenai tanah RW 11. “Mungkin proses hukum memakan waktu, gak mungkin anak-anak kami berada terus dalam lingkungan reruntuhan,” ujar Eva.

Eva menjelaskan bahwa Kampung Aliansi juga sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat yang terkena dampak penggusuran. Eva mengatakan semangat bertahan harus diluapkan kepada masyarakat lainnya sebagai bentuk dukungan, bahwa ruang hidup yang sudah dirusak akibat penggusuran, masih bisa dibangun kembali. “Masih ada perjuangan kami bersama-sama dengan warga yang ruang hidupnya dirusak seperti Dago Elos, Kebon Jerok dan masyarakat di Jogja,” tambah Eva.

Gubuk-gubuk akan dibangun sebagai bentuk solidaritas di Kampung Aliansi. “Nanti ada gubuk Dago Elos, Gubuk Kebun Jeruk dan warga Jogja yang ruang (red. hidupnya) sudah tergusur,” jelas Eva.

Lia, selaku salah satu warga, mengatakan bahwa Kampung Aliansi sebagai upaya untuk mengembalikan ekonomi warga yang sempat hilang selama lebih dari setahun akibat penggusuran. Sebelumnya, beberapa warga memiliki usaha kontrakan rumah atau indekos yang dijadikan sumber ekonomi.

Pada perencanaan awal, Lia mengatakan akan dibangun pujasera, warung kopi, koperasi, gazebo, dan toko baju. Selain itu, akan ada tempat bermain anak, kolam renang anak, perpustakaan dan ruang diskusi atau rapat. Pada tahap awal, rencana yang akan dijalankan terlebih dahulu adalah ruang diskusi atau rapat dan warung kopi. “Taman Sari waktunya membangun,” tambah Lia.

Sejauh ini, upaya yang dilakukan oleh warga adalah kerja bakti setiap dua kali seminggu untuk membersihkan lahan dari bongkahan-bongkahan batu akibat penggusuran. Panitia untuk pembangunan Kampung Aliansi juga sudah terbentuk dan terbagi dalam empat divisi, yaitu pendanaan, perencanaan, logistik dan humas.

Mengenai dana sendiri, biaya bersifat kolektif dan hasil perencaan panitia pendanaan. “Kita tidak minta dana apapun dari pemerintah,” ujar Eva.

Lia mengatakan bahwa Taman Sari bisa menjadi percontohan perlawanan warga atas penggusuran. “Kalau kita gak kompak dan banyak ketakutan yah hancur,” tambah Lia. Selain itu, Taman Sari bisa menjadi patokan untuk membagun kembali ruang hidup yang tergusur.

 

Ranessa Nainggolan