Dari Suap hingga Pengaturan Skor: Bukti Sepak Bola Sarat Politik

INTERNASIONAL, MP – Baru-baru ini kasus Barcagate menghebohkan publik sepak bola dunia yang menyeret nama mantan presiden Barca, Joseph Maria Bartomeu hingga akhirnya menggiring dirinya ke penjara.  “Barcagate” sendiri mencuat ke publik sejak Februari 2020 lalu. Bermula dari protes fans Barca — julukan Barcelona — yang kemudian berujung pada investigasi dugaan hubungan dan transaksi tersembunyi antara Bartomeu dengan I3 ventures. Bartomeu sendiri dikenal memiliki hubungan yang kurang baik dengan legenda dan pemain-pemain bintang Barca.

Para fans menuduh jika Bartomeu merupakan alasan utama hengkangnya Xavi, Iniesta, hingga isu rencana kepindahan mega bintang mereka, Lionel Messi. Bartomeu menggunakan jasa I3 ventures yang menyediakan “analisis data untuk membangun pengetahuan mengenai tingkah laku manusia” untuk melawan opini negatif di media sosial. Opini negatif ini dilontarkan oleh para fans dan dewan direksi yang kontra dengannya sejak awal jabatannya pada 2014.

Hubungan buruk antara Bartomeu dan fans salah satunya diakibatkan oleh performa Barca pada musim 2019-2020. Saat itu, Barca puasa gelar alias tidak mendapatkan gelar apa-apa. Bagi klub sepak bola sebesar Barca — yang menjadi tim dengan treble winner terbanyak, yaitu 2 kali dalam 2 dekade terakhir — krisis gelar semusim penuh ini menjadi pukulan telak. Ini juga bisa menjadi indikasi jika ada yang tidak beres dalam manajemen klub.

Selain itu, hengkangnya Neymar — dan Suarez pada musim 2020/2021 ini — menjadi lubang bagi lini serang Barca. Walau hasil penjualan Neymar mencapai Rp3,8 triliun, harga yang dibayarkan untuk membeli Philippe Coutinho, Antoine Griezmann, dan Ousmane Dembele tidak bisa mengangkat kembali gaya permainan Tiki-Taka Barcelona. Kehilangan dua pilar ini menjadi nilai minus bagi Bartomeu.

Kekalahan telak Barca dari Bayern Munich dengan skor 8-2 membuat fans semakin geram. Ini akhirnya berujung pada petisi permintaan Bartomeu untuk mundur yang kemudian ditandatangani oleh anggota membership klub. Barca sendiri merupakan klub dengan sistem kepemilikan berada di tangan anggota membership klub, yang berarti penandatanganan petisi oleh fans ini sangat berpengaruh pada kebijakan klub tersebut.

Selain penurunan performa tim, hubungan antara Messi dan Bartomeu selama ini bak perang dingin. Messi mengancam akan meninggalkan Barca jika Bartomeu tidak hengkang. Para fans yang tentu saja mencintai legenda hidupnya, membuat ‘perang’ ini dimenangkan olehnya. Tekanan yang diberikan fans ini berujung pada pengunduran diri Bartomeu pada Oktober 2020 lalu.

Bartomeu tidak sendirian dalam penangkapan ini. Kepolisian Barcelona juga turut menangkap tiga pejabat klub lain seperti CEO klub Oscar Grau, mantan penasihat kepresidenan Jaume Masferrer, dan kepala bagian legal Roman Gomez Ponti. Bartomeu bersama ketiganya ditangkap setelah pihak kepolisian melancarkan investigasi pada departemen keuangan, legal, dan departemen yang bertanggung jawab pada antisipasi risiko.

Pelibatan kepolisian dalam kasus ini dilakukan karena adanya potensi kriminal terkait money laundry dan penyalahgunaan jabatan. Bartomeu diketahui membayar I3 ventures 6 kali lipat lebih mahal ketimbang harga pasar. Selain itu, polisi juga tengah melakukan investigasi terkait adanya potensi tindak pidana korupsi yang juga melibatkan beberapa pejabat klub.

Sepakbola Klasik yang Juga Sarat Politik

Jika dilihat lebih mendalam, politik praktis dalam sebuah klub sepak bola sudah beberapa kali terjadi. Jauh di dekade 1980-an terjadi kasus pengaturan skor di jagat sepak bola Italia. Totonero — sebutan untuk skandal ini –melibatkan banyak tim-tim besar Italia kala itu seperti Perugia, Avellino, Milan, Taranto, Palermo, Bologna, hingga Lazio. Cara mereka ‘bermain’ melibatkan klub, pemain, hingga ofisial pertandingan untuk ‘memanipulasi’ hasil pertandingan. Permainan kotor seperti ini didalangi oleh penjudi yang memasang taruhan untuk tim-tim tertentu. Untuk menang taruhan, mereka mempengaruhi pihak yang bertanding agar memiliki hasil akhir sesuai dengan permintaan penjudi tersebut. Totonero terjadi 2 kali — yaitu tahun 1980 dan 1986 — dengan pola yang sama.

Taruhan dan perjudian ini bermula dari dua pebisnis besar Italia yaitu Massimo Cruciani dan Alvaro Trinca. Mereka memiliki akses khusus kepada skuad Lazio berkat intimnya hubungan personal yang mereka miliki. Dengan modal tersebut, mereka membayar mahal para pemain Lazio agar bisa mewujudkan hasil pertandingan yang diminta. Namun, pepatah bahwa “bola itu bundar” tidak mereka pikirkan. Banyak variabel yang mengendalikan hasil akhir pertandingan, yang artinya performansi para pemain saja tidak cukup dalam menentukan pertandingan. Alhasil, mereka kalah banyak dari bandar judi yang berakhir dengan lilitan hutang.

Uniknya, baik Cruciani maupun Trinca merasa para pemain yang mereka suap tidak memenuhi perjanjian awal. Mereka pun mereka mengancam federasi sepak bola Italia untuk membayar lilitan hutang mereka kepada bandar judi, sembari mengancam akan melaporkan kasus ini ke pengadilan dan membeberkannya ke media. Namun, usaha playing victim mereka gagal. Keduanya sempat melarikan diri, sebelum akhirnya berhasil tertangkap dan menyerahkan diri ke kepolisian. Polisi juga menangkap petinggi dari beberapa klub besar dan 33 pemain yang diduga terlibat. Salah satu pemain dengan nama besar yang terlibat adalah Paolo Rossi, yang saat itu bermain untuk Perugia.

Rossi merupakan pemain bintang asal Italia. Ia dilarang terlibat dalam sepak bola profesional selama 3 tahun yang kemudian hukumannya dikurangi menjadi 2 tahun. Tidak hanya para pemain, tim besar seperti AC Milan dan Lazio dihukum degradasi ke Serie B.

Sedangkan Totonero II melibatkan Italo Allodi, yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga Napoli. Nama Allodi santer terdengar sebagai mafia sepak bola Italia yang biasa menyuap wasit untuk mempengaruhi hasil pertandingan. 6 tim dan hampir sebanyak 40 ofisial serta pemain terkena ‘pinalti’. Sedangkan Italo Allodi tidak tersentuh tuduhan hukum apapun.

Pada era-2000 an, sepak bola Italia kembali tercoreng dengan mencuatnya kasus pengaturan skor. Kali ini, tim besar Juventus yang terlibat. Dalam skandal Calciopoli — sebutan kasus ini — manajemen Juventus kongkalikong dengan wasit untuk memberikan keputusan-keputusan yang menguntungkan Juventus dalam perebutan titel juara Serie A. Imbalan dan ancaman dari skandal ini berkisar antara uang tunai, wanita, hingga ancaman pembunuhan bagi pihak yang tak mau diajak bekerja sama.

FIGC — merupakan PSSI-nya Italia — tidak sendirian dalam menginvestigasi skandal ini. Kepolisian dan kejaksaan Italia juga ikut turun tangan. Investigasi dimulai pada musim 2005/2006. Saat itu, Juventus meraih gelar juara liga yang ke-27 sepanjang sejarah klub, dengan meraih 86 poin dan unggul 7 poin dari runner-up AC Milan. Dalam penyelidikan yang dilakukan, setidaknya ada 20 dari 38 pertandingan yang dianggap mencurigakan.

Kongkalikong ini tidak hanya dilakukan kepada wasit secara individu, namun juga secara struktural. Wasit yang memimpin pertandingan Juventus hingga wasit-wasit yang memimpin pertandingan lain — yang dianggap penting dan berpengaruh pada dominasi Juventus — juga turut terlibat. Jika ada yang menolak, mereka akan dikenakan skorsing pertandingan hingga yang paling parah pemecatan.

Penyelidikan ini berujung pada hukuman yang dijatuhkan kepada pihak-pihak yang terlibat. Juventus paling banyak terkena hukuman. Pencabutan gelar juara Seria A musim 2004/2005 dan 2005/2006, degradasi ke Serie B — kasta kedua liga di Italia — dengan pengurangan poin sebesar 9 poin, dan diskualifikasi dari keikutsertaan di Liga Champions musim 2006/2007. Klub-klub lain yang terlibat seperti Arezzo, Fiorentina, Lazio, AC Milan, dan Reggina juga mendapat sanksi berupa pengurangan poin, diskualifikasi pada turnamen liga lokal dan liga Eropa, dan denda tergantung seberapa dalam permainan kotor mereka ini. Sedangkan direktur umum Juventus Luciano Moggi — otak dari skandal ini — dijatuhi hukuman larangan berkecimpung dalam aktivitas sepak bola profesional semur hidupnya.

Federasi Sepakbola Juga Terlibat

Tahun 2015, kasus korupsi menggegerkan dunia sepak bola. Kali ini terjadi langsung dalam batang tubuh FIFA yang menyeret nama presiden FIFA saat itu, yaitu Sepp Blatter. Penangkapan yang dilakukan di hotel tempat pejabat FIFA menginap di Swiss ini merupakan puncak dari kasus korupsi yang telah berjalan dalam 2 dekade terakhir. Para pejabat FIFA terlibat dalam banyak kasus suap, mulai dari penentuan tuan rumah Piala Dunia, hingga suap dalam kesepakatan pemasaran dan penyiaran.

Pejabat FIFA yang ditangkap saat itu adalah Jeffery Webb, Eduardo Li, Coastas Takkas, Jose Maria Matin, Nicolas Leoz, Jack Warner, Julio Rocha, Rafael Esquivel, hingga Jack Warner yang saat itu merupakan Presiden asosiasi sepak bola Trinidad dan Tobago (Trinidad and Tobago Football Association).

Sepp Blatter dalam kasus ini tidak dijatuhi dakwaan apapun atas ketiadaan bukti yang memberatkan dia. Namun, pada saat kongres FIFA di Swiss yang berdekatan dengan hari penangkapan tersebut, seorang komedian melemparkan segepok uang ke arah Blatter hingga uang tersebut berhamburan sesaat setelah Blatter diumumkan menang ke lima kalinya dalam pemilihan presiden FIFA. Para fans sepakbola yakin bahwa dari dalam FIFA sendiri telah terjadi permainan yang kotor.

Selain kasus besar ini, banyak kasus-kasus serupa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Sebut saja kasus suap sepak bola Prancis pada tahun 1990, skandal pemilihan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia, hingga skandal sepak bola gajah yang melibatkan tim nasional dan pemain dari Indonesia.

Faktanya, sepakbola sekarang telah menjelma menjadi ladang baru monopoli orang-orang yang mempunyai kuasa, termasuk FIFA. Keseruan dalam sepakbola berubah menjadi manipulasi permainan. Pepatah “bola itu bundar” — yang artinya dalam sepakbola itu semua mungkin terjadi — semakin relevan, termasuk kemungkinan terjadinya pengaturan skor dan korupsi.

Penulis: Muhammad Rizky
Editor: Alfonsus Ganendra

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *