Infrastruktur Hijau, Wajah Baru Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk
terbanyak, sehingga tak bisa dipungkiri dengan jumlah penduduk sebanyak itu maka jumlah kebutuhan juga akan ikut meningkat. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan akan lahan. Banyaknya pembangunan infrastruktur menyebabkan ruang terbuka hijau terkikis. Berkurangnya lahan terbuka hijau menyebabkan ketidakseimbangan sistem lingkungan antara air, tanah, dan udara.

Demi menjaga ketidakseimbangan tersebut, maka dipraktikkan sistem
pembangunan infrastruktur hijau. Infrastruktur hijau merupakan konsep, upaya, atau pendekatan untuk menjaga lingkungan melalui penataan ruang terbuka hijau dan menjaga proses-proses alami yang terjadi di alam. Ada dua alasan utama Infrastruktur hijau harus diterapkan di Indonesia, yaitu masalah deforeastasi dan lingkungan yang tidak sehat.

Tingginya deforestasi membuat Indonesia menjadi negara kedua tertinggi dalam laju deforestasi. Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak yang berakibatkan kebutuhan lahan semakin tinggi dan berkurangnya ruang terbuka hijau.

Selain aktivitas manusia, deforestasi juga dapat disebabkan oleh kejadian alam seperti radiasi matahari yang tinggi dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Deforestasi akan berdampak buruk jika terus dibiarkan, seperti pemanasan global, banjir, erosi tanah, dan kehilangan spesies flora dan fauna.

Indonesia mengalami kesulitan menciptakan lingkungan yang sehat untuk penduduknya. Sangat disayangkan apabila sumber daya manusia yang begitu banyak tidak didukung oleh lingkungan yang sehat. Menurut WHO (World Health Organization), lingkungan sehat merupakan suatu keseimbangan ekologi yang harus ada diantara manusia dan lingkungan supaya dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Ciri-ciri lingkungan yang bersih adalah tersedianya air bersih yang cukup, pengendalian pencemaran, adanya tempat rekreasi dan lain-lain.

Namun masih banyak kota-kota besar di Indonesia belum memiliki ciri-ciri tersebut. Ini dapat dibuktikan dengan Jakarta yang sempat menjadi kota dengan kualitas udara terburuk. Menurut Kementerian PUPR, ketersediaan air bersih secara nasional berkisar 72-90%, yang berarti belum semua masyarakat mendapatkan akses air bersih. Kesehatan lingkungan juga akan berpengaruh pada kualitas hidup manusia yang ada di dalamnya karena lingkungan yang sehat akan menghasilkan kualitas manusia yang sehat pula.

Masalah-masalah di atas timbul dikarenakan dalam sistem infrastruktur
terdapat aspek yang tidak diperhatikan yaitu lingkungan. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui sistem infrastruktur hanya berfokus pada kebutuhan manusia saja tanpa memperhatikan keadaan lingkungan sehingga diciptakan sistem infrastruktur hijau.

Infrastruktur hijau dalam penerapannya memperhatikan segala dalam melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan sumber daya alam, dimulai dari aspek perancangan, pembangunan, pengoperasian, hingga pada tahan pemeliharaan. Infrastruktur hijau dapat menjadi sebuah solusi dalam menanggapi masalah yang ada. Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya negara-negara maju yang sudah menerapkan infrastruktur hijau ini.

Infrastruktur hijau juga membangkitkan paham tentang pentingnya menjaga lingkungan. Terdapat banyak jenis dan pengaplikasian dari infrastruktur hijau seperti Green Rooftop, Rainwater Harvesting, Green Space dan masih banyak lagi.

Dari beberapa aplikasi tersebut, konsep infrastruktur hijau ini dapat diterapkan di rumah atau lingkungan sendiri, seperti Rainwater Harvesting adalah pengumpulan air dari air hujan sebagai sumber air tambahan yang dapat digunakan untuk menyiram tumbuhan. Adapun kekurangannya ialah instrumen-instrumen pendukung infrastruktur hijau memakan biaya yang tidak murah dan ilmu mengenai infrastruktur hijau di Indonesia sendiri juga masih sedikit.

Masalah yang ada mengenai deforestasi dan lingkungan yang tidak sehat di
Indonesia tidak akan hilang dengan sendirinya, oleh karena itu Indonesia harus memikirkan solusi akan hal itu. Infrastruktur hijau menjadi pilihan yang tepat dikarenakan konsep infrastruktur hijau membantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan yang ada.

Dengan kekurangan yang ada, infrastruktur hijau juga masih pantas untuk diterapkan di Indonesia, melihat masalah yang timbul dewasa ini. Penerapan infrastruktur hijau bisa dimulai dari penerapan secara individu. Infrastruktur hijau adalah jalan tengah dari kebutuhan manusia dan lingkungan.

oleh Michael Tiojordy, Teknik Sipil 2018

REFERENSI
Hendriani, A. S. (2016, April 26). Ruang Terbuka Hijau Sebagai Infrastruktur Hijau Kota. Jurnal PPKM II (2016) 74-81, 75. Retrieved Juli 28, 2020, from
file:///C:/Users/micha/Downloads/340-Article%20Text-401-1-10-20181115.pdf

Mufarihah, N. (2019). EDUKASI MASYARAKAT DALAM MENGOLAH KOTORAN TERNAK. SKRIPSI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA, 24-26.

Nailufar, N. N. (2019, Juli 10). Laju Deforestasi Indonesia Turun, tapi Masih Kedua
Terpesat di Dunia. (h. W. Wibawa, Editor) Retrieved Juli 28, 2020, from kompas.com: https://sains.kompas.com/read/2019/07/10/180600223/laju-deforestasi-indonesiaturun-tapi-masih-kedua-terpesat-di-dunia

Putri, G. S. (2019, Agustus 2). Lebih Parah dari Jakarta, Ini Daftar Kota Paling Tercemar Polusi Udara. (G. S. Putri, Editor) Retrieved Juli 28, 2020, from kompas.com: https://sains.kompas.com/read/2019/08/02/122742323/lebih-parah-dari-jakarta-inidaftar-kota-paling-tercemar-polusi-udara

Penulis

*

*

Top
Atur Size