Idealisme vs Jumlah Klik: Penyorotan Korban Wanita dalam Kasus Prostitusi Artis

Akhir Juli lalu, publik dihebohkan dengan berita prostitusi artis yang kemudian menyangkut nama salah satu penyanyi dangdut berinisial VS. Kehebohan ini bukanlah pertama kalinya, di mana tahun lalu kasus serupa juga hangat menjadi perbincangan publik. Bahkan saat itu publik ramai menjadikan tarif prostitusi yang diungkap ke publik oleh pihak kepolisian sebagai bahan olokan di internet.

Entah mengapa, berita-berita yang diterbitkan oleh media daring kebanyakan hanya memuat berita yang mengabarkan jika pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap artis yang terlibat dan mucikarinya. Dengan cepat, nama mereka terungkap di publik akibat media yang dengan gencar mencari tahu siapa mereka sebenarnya di balik inisial yang tersebar lebih dulu.

Pihak kepolisian pun tak kalah heboh dengan menggelar konferensi pers, tak lupa juga dengan menghadirkan korban. Wartawan dari berbagai media yang seakan sangat haus akan informasi dari kasus ini mengerubuti konferensi pers sembari menggelontorkan pertanyaan-pertanyaan aneh dan tidak penting semisal tarif dan lokasi prostitusi, hingga menanyakan bagaimana reaksi keluarga artis yang terlibat saat dirinya ditahan oleh pihak kepolisian. Dengan cepat, semua informasi tersebar luas di internet dan menjadi konsumsi publik.

Sebaliknya, pihak “pengguna jasa” malah jarang sekali mendapat sorotan dari media. Sukar sekali untuk mencari tahu dengan jelas siapakah pihak “pemesan” ini selain hanya mendapat jawaban inisial dan profesi yang bersangkutan yang tidak pernah lain merupakan pengusaha.

Dalam hal ini, media juga kerap menggambarkan jika pengguna jasa ini merupakan orang yang kaya raya, yang memiliki segalanya hingga bisa dengan mudahnya memenuhi hasrat seksualnya melalui artis nasional dengan kekayaan yang dimilikinya.

Secara eksplisit, penulis memandang hubungan antara pemesan dan penyedia jasa di sini adalah hubungan yang mau sama mau dengan kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak di awal. Lantas mengapa hanya artis wanita yang menyediakan jasa saja yang disorot, sedangkan pihak pengguna jasa kurang mendapat sorotan dari media?

Idealisme Media yang Hilang

Penyorotan korban wanita dalam kasus-kasus seperti ini dilakukan media lebih karena permintaan publik. Kebanyakan media komersial memberitakan suatu hal sesuai dengan apa yang ingin pembaca mereka baca. Idealisme mereka untuk menuliskan berita yang seharusnya memiliki unsur kepentingan publik pun hilang. Motivasi media jenis ini dalam memberitakan sesuatu adalah uang yang besarannya didapatkan sesuai dengan jumlah kunjungan website yang mereka terima.

Semakin menarik dan panas berita yang mereka terbitkan, maka semakin menarik perhatian masyarakat. Hasil akhirnya adalah peningkatan jumlah kunjungan website yang kemudian meningkatkan jumlah pendapatan mereka dari iklan. Tidak bisa dipungkiri memang jika masyarakat kita masih sangat tertarik dengan isu-isu “panas” yang bersangkutan dengan urusan ranjang orang lain, apalagi yang menyangkut dengan public figure.

Belum lagi ada media yang menyangkut pautkan kasus ini dengan berita lain yang sebenarnya telah berada di luar konteks. Misalnya, ada satu media daring yang malah mempublikasikan foto-foto panas milik artis sesaat namanya ramai diperbincangkan akibat kasus prostitusi ini.

Tak hanya itu, public figure di Indonesia dituntut untuk menjadi panutan masyarakat yang mengharuskan mereka untuk menjadi suatu makhluk suci yang bersih tanpa dosa. Salah sedikit saja—atau lebih tepatnya tidak memenuhi ekspektasi masyarakat—tak lama kolom komentar akun media sosial mereka akan dibanjiri oleh hujatan-hujatan yang dibalut dengan alasan mengingatkan. Tak lupa diakhiri dengan kalimat “Maaf, sekadar mengingatkan” yang biasanya diikuti oleh emotikon tangan yang memberikan salam. Entah mengapa banyak masyarakat kita yang mengawali peringatan dengan hujatan yang pedas.

Pun jika kita perhatikan, media yang aktif menggali dan memberitakan kasus-kasus panas semacam ini bukan media yang sama dengan media yang kerap membahas isu-isu ekonomi atau politik secara mendalam. Target pembaca dari kedua jenis media ini tentu berbeda jauh. Tak heran media jenis pertama tadi harus tetap aktif mengangkat kasus-kasus panas ini demi tetap bertahan.

Kesehatan Mental Korban

Pemberitaan dan penyorotan yang dilakukan secara besar-besaran oleh media berpengaruh kepada kesehatan mental korban. Penyanyi berinisial VS yang kasusnya terungkap pada Juli lalu, mencurahkan isi hatinya di akun Instagram pribadi miliknya. Dalam unggahannya, VS mengaku siap menerima konsekuensi yang ada. Bahkan dalam Instastory yang di platform yang sama, dirinya membiarkan warganet untuk menghujatnya. “Silahkan hujat dgn apa yg kalian pikirkan Toh nanti ada berita sesungguhnya yg menjelaskan”, ujarnya.

Yang lebih parah, penyanyi lain bernama Irsha Soraya mengaku depresi saat namanya dihubung-hubungkan dengan kasus prostitusi ini setelah polisi mengumumkan artis yang memiliki inisial yang sama dengan dirinya yang terlibat. Hal ini diakibatkan oleh warganet yang langsung mencari tahu siapa sebenarnya di balik inisial IS tersebut dan langsung begitu saja menuduh dan menghujat Irsha.

Korban lain berinisial HH juga mengaku mengalami depresi hingga dirinya mendatangi pelayanan kesehatan jiwa akibat trauma dan takut bertemu teman-temannya setelah dirinya diamankan di salah satu hotel akibat kasus yang serupa. HH yang juga sempat berhenti aktif di sosial media selama beberapa saat ini mengaku sempat mengalami kecemasan, takut, stres, hingga depresi.

Terakhir, artis VA yang terjerat kasus prostitusi di Surabaya tahun lalu kini kembali harus berurusan dengan hukum setelah dirinya kedapatan mengonsumsi pil penenang jenis Alprazolam atau yang populer sebagai Xanax. VA mengkonsumsi Xanax ini dengan alasan dirinya stress dan depresi sewaktu tersandung kasus prostitusi. Xanax menjadi penenang bagi VA selagi dirinya menjalani proses hukum yang berat yang berpengaruh pada kesehatan mentalnya.

Budaya patriarki di negara ini cukup kuat. Wanita kerap disalahkan dan diolok jika terlibat dalam suatu kasus. Laki-laki selalu dilindungi dari omongan dan caci maki. Masyarakat harus membiasakan diri untuk tidak menghakimi sebelah pihak. Masyarakat juga harus berempati dan berpikiran lebih terbuka dalam menghadapi situasi-situasi seperti prostitusi, KDRT, dan lain-lain. Media juga perlu menyajikan berita yang tidak mengeksploitasi perempuan. Jangan selalu jadikan wanita sebagai tersangka dan orang yang tidak bermartabat dalam setiap kasus.

Muhammad Rizky, mahasiswa Hubungan Internasional 2019

Penulis

*

*

Top
Atur Size