GMFF: Festival Film Untuk Meningkatkan Kesadaran Isu Migrasi

Pemutaran Film 'Migrating Image' dalam acara GMFF oleh IOM di Advis PPAG Unpar

STOPPRESS, MP – Pada hari Kamis (29/11) lalu, International Organization for Migration (IOM) mengadakan acara screening film yang bertajuk  Global Migration Film Festival 2018 (GMFF) di Audio Visual Pusat Pembelajaran Arnzt Geisse (PPAG) Unpar. GMFF ini dilaksanakan di universitas dengan tujuan agar mahasiswa mengerti atau peduli akan isu migrasi.

“Kenapa kita adainnya di kampus, supaya mengajak mahasiswa untuk aware mengenai isu-isu migrasi,” jelas Dayinta  Sekar Pinasthika selaku anggota unit komunikasi IOM Jakarta.

Dayinta menjelaskan bahwa isu migrasi untuk masyarakat, identik dengan pengungsi dari Timur Tengah seperti Afrganistan, padahal sebenarnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) juga termasuk dalam isu migrasi. “Ketika kamu merantau, itu kamu menjadi seorang migran, ya sesederhana itu, gak perlu jauh-jauh pikirin orang asing,” tambah Dayinta.

“Sebenarnya isu migrasi itu berkaitan dengan semua aspek ilmu,” ungkap Dayinta. Mahasiswa jurusan arsitek atau sipil dapat belajar untuk membuat bangunan kokoh atau tahan bencana, dimana IOM juga memiliki unit menangani respon darurat dan membangun tempat perlindungan paska bencana. Mahasiswa jurusan Hukum dapat belajar mengenai undang-undang tindak pidana perdagangan manusia, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional bisa belajar mengenai konferensi pengungsi dan kejahatan transnasional, dan mahasiswa jurusan Ekonomi atau Manajemen dapat belajar mengenai alasan orang bermigrasi dalam konteks ekonomi.

Migrating Image dan Thousand Girls Like Me merupakan dua film yang diputar oleh IOM di PPAG Unpar. Dayinta menjelaskan bahwa Migrating Image merupakan film dokumenter mengenai peran media yang besar dalam pengetahuan masyarakat luas mengenai isu migrasi. Sedangkan Thousand Girls Like Me merupakan film yang menceritakan mengenai perjalanan seorang anak perempuan yang mencari perlindungan dan bantuan hukum atas kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh ayahnya kepada dia. “Dia harus lapor polisi, lapor ke pihak berwenang tapi tetap merasa tidak tenang, akhirnya dia pindah ke Perancis untuk mendapatkan perlindungan,” tambah Dayinta.

Dayinta  juga mengungkapkan harapannya setelah acara ini, agar mahasiswa Unpar lebih ingin tahu mengenai isu imigrasi. “Minimal googling apa itu trafficking, suaka, dan lain-lain,” jelas Dayinta.

IOM adalah organisasi internasional non-pemerintah yang fokus terhadap isu migrasi. GMFF adalah acara tahunan IOM. Tahun ini merupakan tahun ketiga GMFF dilaksanakan secara global, dimana dilaksanakan kurang lebih di 100 negara mulai dari tanggal 28 November sampai 18 Desemberi.

GMFF sudah dilaksanakan dua kali di Indonesia. GMFF diadakan di 8 kota di Indonesia, yakni Medan, Tanjung Pinang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Kupang dan Makasar. “Jadi dari ujung timur ke ujung barat,” tambah Dayinta.

Untuk di Bandung, GMFF dilaksanakan di dua tempat, yaitu Institut Francais Indonesia (IFI) dan Unpar. Ini merupakan tahun pertama GMFF dilaksanakan di Bandung.

 

Reidu Tio Christian | Ranessa Nainggolan