Gintre 2019: Memperkenalkan HI pada Mahasiswa Baru

Suasana acara Gintre 2019 di UPI, Sabtu (21/9) kemarin. dok/MP

Sabtu (21/09) lalu, telah diadakan Gathering of International Relations (Gintre) oleh Hubungan Internasional (HI) Unpar. Acara yang berada di bawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) ditujukan untuk mahasiswa baru Hubungan Internasional 2019 sebagai kegiatan orientasi. Rangkaian acara berjalan dengan serentak di Gedung Sate dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara yang diadakan pada Sabtu kemarin adalah acara penutup dari rangkaian Gintre 2019. Acara tahunan ini memiliki tiga rangkaian, mulai dari rangkaian simulasi atau preparatory meeting, kemudian dilanjutkan dengan sesi formal. “Sidang formal itu puncak acaranya Gintre, jadi kayak simulasi PBB. Jadi setiap mahasiswa baru dibagi berdasarkan negara-negara,” jelas Juan Wangsadiputra selaku Bendahara Gintre 2019. Rangkaian Gintre 2019 yang terakhir ialah sesi informal, yaitu sesi dimana hasil resolusi yang didapatkan dari sidang formal diimplementasikan dalam bentuk kegiatan yang melibatkan pihak eksternal, yang mana tahun ini adalah anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu Al-Rohman.

Dengan memilih “Intensifying Global Effort to Protect World Heritage Site” sebagai tema tahunan, kegiatan ini bertujuan untuk menyebarkan atensi atau awareness baik untuk mahasiswa baru maupun anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu agar mau menjaga budaya sekitar mereka. Dengan melibatkan anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu Al-Rohman, Mizan Amanah, dan Dana Mulia, Juan berharap mahasiswa baru HI dapat lebih bersyukur akan apa yang mereka miliki, juga anak-anak yatim piatu dapat merasakan kebahagiaan dengan rekreasi ke museum.

Pada kegiatan di UPI, anak-anak Yayasan Yatim Piatu Al-Rohman di Arcamanik diundang untuk ikut meramaikan kegiatan. Sebanyak 60 anak dari SD hingga SMP kelas 7 mengikuti kegiatan bersama mahasiswa baru HI lainnya. “Ini acara yang sangat baik bagi anak-anak, apalagi ini mendukung aspek sosial anak. Terlihat dari pas anak-anak disuruh ke depan, itu sangat diapresiasi karena kegiatan itu bisa melatih rasa percaya diri anak,” ujar Siti Nurazizah selaku pengurus dari Yatim Piatu Al-Rohman.

Acara berlangsung dengan kondusif dan seru. Pada awal acara terdapat pembagian kelompok dan games bersama anak-anak. Kemudian acara dilanjutkan dengan kunjungan ke museum UPI. Dengan 2 orang pemandu, mahasiswa baru dan anak-anak mengelilingi seisi museum dan dipaparkan sejarah pendidikan dari jaman kependudukan Belanda hingga kemerdekaan, penyebaran ajaran agama di Indonesia, dan sejarah berdirinya UPI.

“Bikin robot dari sedotan biasa!” seru Gana bersama dua anak panti lainnya ketika ditanya apa yang menarik selama kegiatan di museum. “Tadi belajar kemerdekaan Indonesia, kehidupan jaman dulu, sama pendidikan,” tambahnya.

Saat mengelilingi museum, bagian yang menarik adalah adanya semacam maket bangunan yang bernama Villa Ishola. Bangunan tersebut merupakan villa mewah milik bangsawan Belanda yang bernama Dominique Willem Berretty. Villa yang dibangun pada tahun 1933 tersebut masih utuh dan digunakan hingga sekarang menjadi gedung rektorat UPI. Bangunan tersebut terdiri dari 3 lantai, berwarna putih, dan terletak di bagian tengah atau pusat dari lingkungan UPI.

Hal yang sama juga berjalan di Museum Gedung Sate. Adapun alasan pemilihan Gedung Sate sebagai tempat dari pelaksanaan acara karena panitia Gintre ingin mengangkat tema kebudayaan dan hal tersebut melekat pada museum Gedung Sate. “Salah satu museum yang punya kapasitas besar dan bisa menampung orang sebanyak ini itu salah satunya gedung sate, gak semua museum punya konten kebudayaan kan dan gedung sate punya konten itu,” ujar Raynard Christian selaku Ketua Pelaksana Gintre 2019.

Sebelum pulang, anak-anak dikumpulkan di panggung sebelah museum untuk bermain puzzle, sementara para peserta Gintre kembali ke kampus untuk melanjutkan rangkaian kegiatan selanjutnya. “Saya merasa beruntung bisa menjadi mahasiswa HI, khususnya di Unpar. Saya bisa banyak mendapatkan ilmu, bisa banyak belajar, bisa banyak sharing sama temen-temen saya,” ungkap Muhammad Rafli, salah satu peserta Gintre dari Delegasi Afganistan.

Raynard menambahkan, bahwa tujuan dari Gintre sendiri adalah untuk memperkenalkan dinamika mahasiswa HI kepada mahasiswa baru. “(red. sebagai) mahasiswa HI, kita bakal mengenal ini loh dan salah satu isu yang bakal dibahas di jurusan kita. Salah satunya adalah kebudayaan di level internasional dan gimana mereka berproses mempersiapkannya,” kata Raynard.

 

Alfonsus Ganendra, Dionny Nathaniel, Sekarrayi Junio, Risca Pratita, Anthony || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top