Gerakan Anarkisme: Siapa dan Apa Tujuannya?

LIPUTAN, MP — Akhir-akhir ini, Anarkisme digambarkan sebagai suatu gerakan yang menyeramkan dan bengis. Barbar, liar, dan terorganisir: mulai dari vandal bertuliskan ‘sudah krisis saatnya membakar’ sampai ‘memprovokasi masyarakat dengan melawan kapitalisme’, organisasi ini terlihat menyeramkan. Persis setahun yang lalu ‘anarko’ dan teman-temannya seperti ‘black bloc’ dan ‘anarko-sindikalis’ dicap oleh pihak kepolisian sebagai pembuat onar dan pendukung kekerasan. Hal ini mengikuti aksi black bloc di titik-titik tertentu Kota Bandung pada saat May Day tahun lalu. Setelah itu mulai muncul spanduk-spanduk masyarakat [kelurahan/kecamatan] setempat menolak Anarko-Sindikalisme. Anarko dan anarkisme dianggap ancaman, hantu yang mengerikan. Namun sebenarnya mereka apa? Bagaimana bentuknya? Apa sebenarnya tujuan mereka?

Para black bloc di depan gedung Partai Republikan Amerika Serikat.

“Anarkisme berasal dari konsepsi pemikiran Bakunin, Proudhon, Kropotkin dan lain-lain.” ujar Frans Ari Prasetyo, kolumnis dan peneliti independen asal Bandung. “(Anarko) melancarkan serangan terhadap kapitalisme dan neoliberalisme,” terangnya. Anarkisme menolak negara dan menganggapnya sebagai struktur yang tidak perlu. Lebih-lebih, negara dianggap mengekang kebebasan individu manusia. Oleh karena itu, sifat dari gerakan ini cenderung bebas dan cair. “Otonom dan non-hierarkis” terangnya. Sebab mereka menolak negara, maka kelompok ini akan selalu berkonflik dengan petugas-petugasnya seperti militer dan polisi. Bagi anarko, otoritarianisme dan militerisme harus dilawan sebagai suatu upaya perjuangan kelas. Perjuangan ini tidak dimungkinkan saat orde baru, persis karena hal-hal tersebut. “Peran negara yang eksploitatif terhadap sumber daya bersama sehingga ketimpangan semakin besar menimbulkan gejolak perlawanan di kalangan anak-anak muda.” jelas Frans.

Mikhail Bakunin.

Sebab sifatnya yang tidak terstruktur dan tidak hierarkis, kelompok ini tidak banyak jumlahnya. Ikatan di antara mereka didasarkan oleh ideologi yang serupa, bukan dari struktur organisasi yang kaku. Karena mereka tidak hierarkis, tak ada ‘ketua’ atau posisi dimana seseorang lebih berwenang daripada yang lain. Maka, munculnya klaim bahwa ‘Anarko akan menjarah Jawa’ dan ‘pengakuan ketua Anarko-Sindikalis’ menjadi janggal. “Terkoordinasi atau terstruktur saja tidak” terang Frans.

Mengenal Anarkisme Lebih Dalam

Secara historis memang Anarko berasal dari pemikiran para filsuf seperti Bakunin, Proudhon, dan Kropotkin. Namun, perkembangan zaman membuat para pemikir lain diikuti karena dirasa sesuai dengan keadaan zaman saat ini. Pemikir-pemikir yang lebih baru ini antara lain Janet Biehl dan Murray Bookchin.

Dalam perkembangannya pun, Anarkisme bukanlah satu gerakan yang monolitik. Misal, Emma Goldman lebih berfokus pada isu perempuan dan buruh, sedang Murray Bookchin dengan isu ekologi. “Beberapa buku bisa menjadi rujukan, seperti karangan Bakunin, Proudhon, atau Kropotkin” terangnya.

Di dalam esainya berjudul ‘Apa Makna Sesungguhnya Anarki?’ Emma Goldman memaparkan bahwa Anarki berusaha untuk membebaskan manusia dan membiarkannya berkreasi tanpa dibatasi kekuatan-kekuatan pengekang. Kekuatan pengekang ini, bagi Goldman, seringkali hadir dalam bentuk negara. Negara bagi Goldman dan para pemikir Anarkisme lainnya merupakan suatu ancaman, struktur hierarkis yang tak perlu yang menindas dan mengekang.

Emma Goldman di New York, 1916.

“Anarkisme adalah filosofi tatanan sosial baru berdasarkan pada kebebasan yang tidak dibatasi oleh hukum buatan manusia” terangnya. Bahwa segala bentuk pemerintahan dibangun di atas kekerasan, maka pemerintahan adalah hal yang salah, berbahaya, dan juga tak perlu. Negara dengan segala aparatusnya, polisi, tentara, hakim, jaksa, sipir penjara, adalah bagi para pemikir Anarkisme telah terbukti menyebabkan kesengsaraan dan mengekang kebebasan individu masyarakat.

Masih dalam esai yang sama, dipaparkan bahwa para Anarko umumnya tidak percaya demokrasi elektoral. Kekuatan undang-undang pelindung pekerja bersifat terbatas dan orang-orang baik yang masuk ke politik pilihannya hanya dua: berhenti menjadi orang baik atau tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa di dalam dinamikanya. Anarko lebih percaya dengan apa yang disebut direct action, atau Aksi Langsung.

Perkembangan Anarkisme di Indonesia

Di Indonesia, perkembangannya ternyata bukan hanya pada beberapa tahun terakhir saja. Sebelum isu ini marak dimunculkan pihak kepolisian, para pendukung Anarkisme sudah ada di Indonesia. Nama yang tercantum juga bukan main-main. Terdapat tokoh yang familiar bagi anak-anak sekolah sekalipun, yaitu Douwes Dekker. “Seorang anarkis Indo-Eropa yang melakukan kontak dan mobilisasi dengan kelompok radikal antikolonial,” terang Frans, “dan menerbitkan Het Tijdshcrift di Bandung pada awal abad 20”. Nama-nama lain, meskipun kurang dipaparkan dalam buku sejarah, adalah Alimin, Darsono, dan Herujuwono.

Tak hanya para pendukung, pemikir-pemikir Indonesia pun berinteraksi dengan gerakan ini. Sukarno, meskipun jelas bukan seorang Anarko, pernah menulis esai yang simpatik namun kritis terhadap gerakan ini. Tidak hanya Sukarno seorang founding fathers yang berurusan dengan kelompok ini. “Tan Malaka mencoba mendekati gerakan buruh sindikalis yang terisolir namun memiliki basis massa yang kuat” ujar Frans, mengutip buku Jacques Lecrere, ‘Mencari Kiri’.

Secara historis, gerakan Anarkisme di Hindia-Belanda dapat ditelusuri lewat buku Di Bawah Bendera Hitam. Nama-nama seperti Alimin, Darsono, dan Douwes Dekker dapat ditelusuri dalam buku itu. “Atau yang paling kontemporer ditulis seorang Indonesianis, (almarhum) Ben Anderson, bertajuk Under Three Flag” kutip Frans.

“Perkembangan (Anarkisme) paling signifikan di Indonesia secara linear bersamaan dengan perkembangan subkultur punk” terang Frans. Hal ini terjadi di kota-kota besar, termasuk diantaranya Bandung yang menjadi pusat hal tersebut. Ia sendiri tahun lalu menuliskan sebuah kolom mengenai pihak Anarko yang dituduh sebagai biang rusuh saat May Day. Ia mengkritik penanganan polisi atas anak-anak muda, banyak diantaranya di bawah umur, yang ditangkap dan dihukum massal.

Anarko di Indonesia.

Gerakan ini memang mudah disalahartikan. Dikarenakan sifat dari gerakan itu sendiri yang cair dan seringkali sporadis, ia sulit diprediksi dan seringkali gagal dipahami. “Ketika muncul di depan publik, sebagian publik akan mafhum dan sebagian lagi akan mempertanyakan,” lanjut Frans. Oleh polisi, ia akan dianggap pengganggu di ruang publik, dan anggapan tersebut jelas sedang berusaha diperpanjang ke masyarakat. “Polisi sedang membuat framing… seolah akan merencanakan makar.”

Padahal, seperti yang dikatakan sebelumnya, kelompok ini tidak terstruktur dan tidak memiliki pemimpin, maka mustahil ia punya kapabilitas—atau keinginan—untuk melakukan makar. Hal serupa juga disampaikan oleh direktur YLBHI, Asfinawati, bahwa framing polisi ini mengada-ada dan berusaha membangkitkan hantu lama, perpanjangan dari hantu sebelumnya yaitu komunisme dan PKI. Frans setuju dengan hal ini. “Tentu saja polisi mengada-ada dan mudah saja bisa terbantahkan secara teoritis maupun praktis,” ujarnya.

Sialnya, kelompok ini ditengarai memang sedang dibentuk menjadi suatu ancaman. “Kelompok anarko paling mudah dijadikan target karena secara kasat mata tampak di ruang publik,” lanjutnya, “sedang dirancang oleh negara…sebagai target nyata yang akan menggantikan hantu komunis/PKI” lengkapnya.

Anarkisme: Penuh Kekerasan dan Terlalu Idealistis?

Kesalahpahaman atas Anarko tidak hanya dirasakan oleh kepolisian saja. Sulit mengidentifikasi apa itu Anarko dan apa yang bukan Anarko sebab tidak ada tokoh sentral—Anarko tidak punya ketua—yang menyebabkan kelompok ini sulit dicerna oleh masyarakat pada umumnya. Terdapat dua anggapan utama yang akan dibahas di sini: bahwa mereka mendukung kekerasan dan bahwa idenya tidak realistis.

Tentang kekerasan memang agak dilematis. Gambaran-gambaran tentang vandalisme, kekerasan, dan pelemparan bom molotov sudah terlanjur melekat pada ‘Anarko’. Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar mengingat tujuan dari gerakan mereka sendiri. “Stigma kekerasan ini muncul karena bentrok dengan aparatus (negara), frame negara akan selalu membenarkan aparatus,” ujar Frans. “Aparat itu pada dasarnya sudah dikondisikan sebagai simbol kekerasan.” lengkapnya. Lebih-lebih, seperti yang telah disebutkan Anarkisme bukanlah satu gerakan terarah terpadu satu komando, melainkan bermacam-macam bentuk dan aksi. Para anarko-pasifis yang tidak percaya kekerasan, misal, akan sangat berbeda dengan para anarko yang percaya dengan insureksi dan/atau revolusi.

Mereka yang telah mendengar sedikit tentang Anarkisme mungkin lantas memilikis stereotip bahwa gerakan ini utopis atau terlalu idealis. Hal ini juga perlu dicermati. “Contoh paling nyata adalah kasus penanganan COVID-19 ini,” terang Frans, “rakyat secara otonom, tidak ada hierarki serta motif politik, muncul dalam gerakan dimana rakyat bantu rakyat dan tidak ada peran negara.” lengkapnya.

Para Anarko sendiri akan menolak anggapan bahwa Anarkisme merupakan angan-angan belaka. Mereka akan mencanangkan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para Anarko berdampak langsung dan berkelanjutan. Urusan bagaimana dampak tersebut seringkali sulit tumbuh berkembang dan meluas akan kembali lagi kepada narasi negara yang mengopresi dan menekannya.

Memahami Anarkisme Melampaui Keterangan Polisi

Pemahaman atas Anarkisme penting mengingat mayoritas mahasiswa Unpar dan mahasiswa di kampus lain merupakan pemuda kelas menengah kota yang seringkali tidak simpatik dengan aksi-aksi seperti ini. “Mereka sangat bias kelas sekali dalam memandang sebuah gerakan sosial,” ujar Frans. Ia mencontohkan bahwa seringkali golongan ini tidak simpatik dengan alasan demo biang macet, lebih baik kerja, dan lain sebagainya dan menyebutkan contoh-contoh hasil perjuangan buruh yang dinikmati semua orang termasuk UMR, layanan kesehatan, hingga cuti hamil dan haid.

“Kelompok anarko ini juga pasti buruh,” lanjutnya. “Anarko akan memberikan perlawanan jika diserang atau diperlakukan secara kasar oleh aparat ketika aksi protes.” tuturnya. Hal ini memudahkan aparat untuk membalas kekerasan tersebut dan berdalih sebagai penertiban tindakan kriminal. Dalih-dalih seperti ini, seperti apa yang berusaha dibentuk oleh pihak kepolisian akhir-akhir ini, rawan ditelan mentah-mentah oleh para pemuda kelas menengah kota.

Anarko melakukan aksi protes langsung.

Pemahaman lebih lanjut dibutuhkan mengenai pergerakan Anarko ini, melampaui ‘pemahaman’ dari apa yang disampaikan oleh pihak berwajib. “Sikapi saja sebagai sebuah gerakan sosial,” tutur Frans, “sebuah perlawanan kelas dan kritik terhadap negara dan aparaturnya.” tutupnya.

Naufal Hanif | Novita

Related posts

*

*

Top
Atur Size