Gattuso Juara Coppa Italia: Si Ganas Bertaji Kembali?

INTERNASIONAL, MP – Kamis (18/06) dini hari waktu Indonesia, Napoli dibawah besutan pelatih yang dikenal temperamental, Gennaro Gattuso, berhasil menaklukkan Juventus yang merupakan tim raksasa pendominasi Serie A, Liga Italia selama 8 musim beruntun. Napoli didaulat menjadi juara setelah mengalahkan Juventus lewat babak adu penalti dengan skor 4-2.

Uniknya, di pertandingan ini tidak ada babak extra time, atau dengan kata lain pertandingan akan langsung menuju ke babak penalti jika dalam 90 menit babak normal kedua tim mempunyai jumlah gol yang seimbang. Dalam pertandingan ini, tidak ada gol yang tercipta di babak normal. Kebijakan ini diambil oleh penyelenggara untuk meminimalisir peluang terjadinya pemain cedera mengingat musim ini seluruh tim Serie A harus ngebut demi menyelesaikan musim 2019/2020 dalam 3 minggu.

Salah satu yang menjadi perhatian dalam pertandingan final ini adalah Gattuso. Setelah sekian lama, salah satu legenda AC Milan tersebut akhirnya berhasil membawa sebuah tim asuhannya untuk menjadi juara dalam suatu kompetisi. Hal yang mengejutkan karena rekam jejak Gattuso sebagai pelatih selalu buruk. Masa kepelatihannya selalu berakhir dengan pemecatan — kecuali saat melatih AC Milan karena ia memutuskan untuk mengundurkan diri — akibat performa tim yang kurang memuaskan.

Bahkan, saat Gattuso diangkat menjadi pelatih AC Milan pada 2017 silam, publik mempertanyakan keputusan klub akan pengangkatan pelatih baru ini. Sebelum melatih AC Milan, Gattuso mendapatkan kepercayaan untuk menangani klub asal Swiss FC Sion, klub pertamanya sebagai pelatih dan masa kepelatihan berakhir setelah hanya menjalankan 3 pertandingan. Tepatnya, Gattuso dipecat setelah kalah 5-0 dari FC St. Gallen.

Kemudian saat menjadi pelatih Palermo yang saat itu (2013) berada di kasta kedua Liga Italia yaitu Serie B, Gattuso hanya bisa memberikan dua kemenangan, satu imbang, dan tiga kekalahan dari enam pertandingan awal. Sebelum pertandingan ke sembilan berjalan, Gattuso kembali dipecat dari kursi pelatih. Setelahnya, Gattuso berpindah-pindah menjadi pelatih untuk klub OFI Crete di liga Super Yunani dan A.C Pisa di Serie B yang pada akhirnya harus terdegradasi ke Serie C.

Di klub terakhirnya, AC Milan, Gattuso hanya berhasil menorehkan rata-rata 1,78 poin per match dari total 82 pertandingan sepanjang 2 musim. Prestasi baiknya, Gattuso berhasil mengantarkan AC Milan ke final Coppa Italia 2017 walaupun gagal menjadi juara setelah takluk dari Juventus dengan skor telak 4-0. Jika dirata-rata, Gattuso hanya bertahan 8 hingga 9 bulan saja di setiap klub yang dilatihnya dengan rata-rata poin per match pada 6 klub yang dilatih (diluar AC Milan U-19) hanya sebesar 1,193.

Pencapaian Gattuso berupa trofi pertama dalam karier kepelatihannya menimbulkan pertanyaan dibenak para penikmat sepakbola. Apakah Gattuso sebenarnya memang memiliki kualitas yang mumpuni sebagai pelatih? Atau sebagai pelengkap tim saja disaat komposisi skuad Napoli sepeninggalan Carlo Ancelotti memang sudah mumpuni?

Gaya Permainan Bawaan Sejak Bermain di AC Milan

Dalam seluruh pertandingan Napoli besutan Ancelotti di semua ajang, Napoli meraih total 131 poin dari 72 pertandingan, sedangkan Gattuso hingga sekarang meraih 32 poin dari 17 pertandingan. Hasil poin per match Ancelotti masih berada di bawah Gattuso dengan selisih 0,38 poin. Ancelotti dengan rata-rata poin 1,50 dan Gattuso 1,88.

Di atas kertas, usaha Gattuso saat menangani Napoli lebih mudah ketimbang Ancelotti, terlebih jika melihat fakta dimana skuad Napoli sekarang ini merupakan bentukan dari Ancelotti. Saat menjabat sebagai pelatih, ia meminang 24 pemain untuk menyukseskan strategi tim racikannya. Gattuso sendiri sejauh ini hanya mendatangkan tiga pemain baru, yakni Stanislav Lobotka, Amir Rrahmani, dan Diego Demme.

Saat dirinya masih aktif sebagai pemain, Gattuso dikenal sebagai gelandang bertahan yang memiliki stamina yang tidak ada habisnya, sehingga dirinya dijuluki sebagai “Si Badak” atau “Rino” dalam bahasa Italia. Gaya bermain Gattuso identik dengan pemain pekerja keras dan tackling-nya yang dahsyat. Menjadi defensive midfielder membuatnya memiliki tugas dalam pertandingan untuk melakukan tekanan atau pressing kepada pemain lawan yang sedang membawa bola. Sikap provokatifnya merupakan modal utama yang membuatnya menjadi pemain bertahan yang disegani.

Strategi dan gaya permainannya ini ia terapkan saat menjadi pelatih. Di bawah komandonya, Napoli kerap bermain dengan formasi 4-3-3 yang identik dengan bermain bertahan dan mengincar counter attack dengan pressing yang tinggi. Saat bola berada di kaki lawan, seluruh pemain dari timnya selalu melakukan pressing, dengan beberapa pemain menekan pemain lawan yang memegang bola dan pemain lain berusaha menekan pemain lawan yang tidak memegang bola untuk mencegah tim lawan melakukan operan. Ini terlihat saat melawan Juventus, dengan ball posession hanya 43% namun berhasil menciptakan total shot (14 berbanding 8) dan shot on target (7 berbanding 3) yang lebih banyak dari Juventus selama 90 menit pertandingan.

Gattuso, dalam karirnya sebagai pemain pernah mengintimidasi beberapa pemain, salah satunya adalah mencekik Peter Crouch. Dirinya tahu betul apa yang diinginkannya saat berada di lapangan — yaitu menguasai pertandingan — dan bagaimana cara mendapatkannya. Semua disampaikannya secara tegas. Dengan sikap yang temperamental, Gattuso semakin mudah mengintimidasi lawan dan mempermudah dirinya memperoleh apa yang diinginkannya. Saat melatih Napoli, Gattuso mencoba untuk melakukan hal yang sama, salah satunya dengan memaksa pemain agar tetap berlaku profesional, tak peduli dengan status kontrak pemainnya saat itu.

Walaupun masih jauh jika dibandingkan dengan pelatih yang juga memiliki karir cemerlang sebagai pemain seperti Zinedine Zidane yang sukses meraih gelar juara Champions League 3 musim beruntun sebagai pelatih di Real Madrid namun melihat keberhasilan Napoli menjuarai Coppa Italia, maka bukan tidak mungkin Gattuso bisa menjadi salah satu dari sekian banyak pesepakbola sukses yang juga mendapat predikat pelatih sukses. Mungkin saja beberapa musim kedepan dapat menghancurkan dominasi Juventus di persepakbolaan Italia.

Penulis: Muhammad Rizky || Alfonsus Ganendra

Editor: Alfonsus Ganendra

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size