Festival Arsitektur Parahyangan 2019: Urban Pockets di Kota Bandung

Penampilan Killing Me Inside pada acara Festival Arsitektur Parahyangan, Sabtu (7/12) lalu. dok/instagram: @julijepratt.

STOPPRESS, MP – Sabtu (7/12) lalu, telah diselenggarakan pagelaran tahunan Festival Arsitektur Parahyangan (FAP) 2019 yang digelar oleh HMPSArs Universitas Katolik Parahyangan di plaza PPAG. Acara yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB ini mengusung tema Urban Pockets

Rangkaian acara FAP diramaikan dengan adanya penampilan seni dan musik dari mahasiswa Arsitektur Unpar hingga luar Unpar serta pameran instalasi yang membahas dan menggambarkan eksistensi dari ruang residu yang tercipta sehubungan dengan masalah urban pocket di Bandung. Harapannya, pengunjung dapat merasakan bagaimana ruang residu yang ada dan solusi yang ditawarkan. 

Seorang pemuda yang sedang duduk di instalasi steger acara FAP 2019. dok/instagram: @julijepratt

Saat memasuki area selasar PPAG dan Taman Fisip, pengunjung akan melihat instalasi berupa steger yang disusun mengelilingi area FAP. Steger yang biasa dipakai sebagai perangkat kerja sementara untuk bangunan yang tinggi, diumpamakan sebagai bangunan. 

“Steger ini melambangkan bangunan. Jadi, isu yang kita angkat itu adanya void di antara bangunan-bangunan itu seringkali tidak di-desain dengan baik, dan kita memberikan solusinya berupa space,” ujar Julian Farrel selaku Ketua HMPSArs 2019. 

Pada steger-steger tersebut dipajang pameran-pameran dari semua wadah minat yang ada di HMPSArs dan karya ataupun hasil program kerja yang sudah dijalankan pada masa periode 2019 ini. 

“Untuk tema nya itu, kita mengambil urban pocket. Jadi urban pocket ini merupakan suatu permasalahan di Kota Bandung yang menciptakan ruang residu akibat perencanaan kota yang kurang baik. Pemilihan tema ini selaras dengan tujuan awal dari FAP sendiri, yaitu meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap suatu isu di Kota Bandung,” jelas Ariq Naufal selaku Ketua Pelaksana FAP 2019.

Tujuan dari FAP 2019 dibagi menjadi 2, yaitu tujuan internal dan eksternal. Internal untuk anggotanya sendiri, sebagai momen kerja bersama 2 angkatan dalam satu himpunan dan juga malam penutupan bagi himpunan yang sedang berlangsung. Untuk tujuan eksternal, kita berharap apa yang kita kerjakan ini akan berdampak ke masyarakat Kota Bandung, khususnya Ciumbuleuit. Diharapkan masyarakat yang datang dapat mengetahui esensi dari permasalahan tersebut dan teman-teman naik arsitek atau non arsitek dapat merencanakan desain dengan pertimbangan massal di ruang residu tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat disana,” tambah Julian Farrel.

“Konsep panggung kali ini bagus, ngejadiin pembangunan PPAG jadi background panggung, cocok jadinya sama apa yang mau disampaikan sama FAP,” ujar Hagai Batara, salah satu pengunjung FAP kemarin.

Ariq berharap, acara FAP selanjutnya dapat lebih baik dalam mengangkat isu arsitektur, dan mampu memberikan dampak yang berpengaruh terhadap perkembangan arsitektur.

Selain instalasi dan pameran, ada juga beberapa penampilan yang ikut meramaikan FAP yaitu Bluben, Arslongga, Grrl, MLB Band, Listra, Square Island and Friends, Stepars, 37 Degrees, Samanars, Garhana, dan KILMS yang sukses memeriahkan puncak acara FAP.

Novita, Risca Pratita, Anthony Hartono || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top