Fenomena Calon Tunggal Kembali: Gejala Krisis Organisasi PM Unpar

LIPUTAN, MP – Tahun ini, fenomena calon tunggal kembali menyertai pelaksanaan Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) Unpar. Fenomena yang berulang ini datang kembali, dengan penekanan pada banyaknya kursi Senat Mahasiswa yang tidak direbutkan. Dua program studi, yaitu Ilmu Hubungan Internasional dan Teknik Mekatronika, tidak akan mendapatkan perwakilan di Senat Mahasiswa tahun depan. Selain itu, hanya dua dari tujuh fakultas yang memiliki lebih dari satu calon Badan Pemeriksa dan calon tunggal ketua BEM.

Ketua KPU Rama Fauzi Setiawan, Senat HI Grace Natalie, dan Calon SM Teknik Industri Adelina Louisa, mengatakan bahwa perkuliahan online cukup mempengaruhi fenomena ini, juga adanya pandemi COVID-19. Penjelasan-penjelasan lain yang dipaparkan adalah takut akan tanggungjawab organisasi dan kurangnya regenerasi.

Rama memaparkan bahwa banyak pola pikir yang takut dan berkecil hati dari bakal calon peserta PUPM. “Berkecil hati duluan melihat lawan calonnya…takut untuk memikul tanggungjawab besar di organisasi,” ujarnya. Ia juga menunjuk kondisi daring dari PUPM itu sendiri, penyesuaian dari calon maupun panitia, sebagai salah satu penyebab calon tunggal. “Situasi online sangat berpengaruh ke peserta,” ujarnya.

Namun, ia sendiri yakin bahwa PUPM telah cukup menjangkau mahasiswa Unpar pada masa pendaftaran kemarin. “Kami sudah menggunakan Instagram dan OA Line, terlebih…meminta bantuan PM Unpar yang sekarang menjabat untuk menyebarluaskan informasi,” ujarnya. Meskipun ia menyatakan bahwa pejabat PM tidak wajib membantu, namun ia mengklaim mereka telah membantu menyebarluaskan informasi mengenai PUPM. “Mereka membantu syukur, kalau tidak, ya tidak apa-apa.” ujarnya.

Grace Natalie, anggota Senat dari Hubungan Internasional, juga memperkirakan bahwa fenomena yang terus terjadi ini juga ada kaitannya dengan keadaan daring. “Dari SM sendiri, kita lembaga legislatif dan kita cuman bisa memberikan info seluas-luasnya kalau PUPM ini lagi jalan, kita gabisa narik mahasiswa sih,” ucap Grace. “Kembali lagi ke pribadi mahasiswa masing-masing apakah ingin menjadi bagian dari PM.” lanjutnya. Dia juga menekankan bahwa lembaganya akan mendorong KPU agar melakukan sosialisasi lebih jauh. “Senat akan memberitahu KPU untuk sosialisasi yang lebih digemborkan lagi untuk nanti pemilu.” terangnya.

Sedangkan Adeline Louisa, calon tunggal senat dari jurusan Teknik Industri, merujuk pada pagebluk yang sedang terjadi sebagai salah satu alasan. “Corona cukup mendisrupsi di aspek manapun,” paparnya, “(Salah satunya) mungkin SM ada banyak agenda yang harusnya bisa dihadiri offline, untuk exposure mereka juga.” terangnya. Ia juga memperkirakan bahwa mahasiswa Unpar cukup takut untuk masuk ke dalam apa yang tidak mereka ketahui, dan Senat Mahasiswa belum cukup baik diketahui oleh mahasiswanya sendiri. “Senat dianggap hanya menampung aspirasi, padahal juga berkewajiban untuk mencari.” terangnya. Ia berjanji ketika menjadi pejabat PM, isu regenerasi akan ia bawa sebagai bagian dari tanggungjawabnya nanti.

Namun, Tanius Sebastian, dosen Fakultas Hukum sekaligus pengamat dinamika kemahasiswaan yang pernah juga berkiprah dalam organisasi kemahasiswaan di Unpar, memberikan banyak catatan dari berulang-ulangnya fenomena calon tunggal ini. Ia menekankan bahwa bisa jadi fenomena ini merupakan bagian dari gejala krisis kepimpinan, organisasi, maupun politik mahasiswa Unpar yang lebih luas dan dalam.

Permasalahan yang Tak Berubah

“Masalah dari dulu sudah ada, pertanyaannya itu-itu terus, jawabannya itu-itu terus,” tegas Tanius Sebastian, dosen Ilmu Hukum sekaligus pengamat PM Unpar. Ia langsung menekankan bahwa masalah yang sudah berlangsung sejak lama ini, perkiraannya sejak tahun 2013-2014, bisa jadi mencerminkan masalah yang lebih besar. Ia menengarai persoalan terdapat di pembinaan kemahasiswaan.

Ia juga sangsi terhadap rasionalisasi yang sudah beredar di kalangan mahasiswa. Menanggapi anggapan “calon tunggal sudah didukung semua orang”, ia berpendapat bahwa tidak adanya adu gagasan menyiratkan masalah budaya politik mahasiswanya. “Kenapa lalu tetap ada yang tidak sreg atau protes (dengan kabinet yang ada)? Rasionalisasi ini belum final.” sanggahnya.

Ia menekankan permasalahan yang terdapat di kultur organisasi mahasiswa. “‘Seberapa penting organisasi bagi mahasiswa, ini pertanyaan berulang,” ujarnya. Bagi Tanius, permasalahan ini tidak terletak di organisasi yang sudah ada di Unpar. “Wadahnya kan ada, well-established, asal jalan, business as usual,” tegasnya, “(karena itu) tidak relevan akhirnya calonnya ada berapa”.

Dari sekian ribu mahasiswa Unpar, mereka yang tertarik masuk organisasi dan mau mempertaruhkan diri begitu sedikit, menghasilkan fenomena calon tunggal ini. “Kata kuncinya kepemimpinan,” terangnya, “jangan-jangan (mahasiswa) krisis kepemimpinan”.

Ia juga merasa ada yang janggal dengan fenomena tunggal yang justru dianggap biasa dan ketika ada dua calon baru dianggap sebagai ‘alternatif’. “Mengapa dua, tiga calon itu dianggap melawan arus utama—bukan suatu hal yang normal?” ujarnya. Baginya, ini bagian dari pendidikan politik, apakah pendidikan tersebut masih ada di Unpar, dan bentuknya seperti apa.

Mahasiswa, baginya, perlu untuk menanyakan lebih dari itu. “Pertanyaannya (harusnya) fokus di mahasiswa Unpar itu seperti apa, karakternya seperti apa, bagaimana mereka hidup dalam kebersamaan?” terangnya.

Masalah calon tunggal ini, papar Tanius, menimbulkan lebih banyak pertanyaan yang lebih mendasar. “Tanggungjawab, hati nurani, intelektualitas, bagaimana ditumbuhkembangkan? Ada nilai, nilai itu ‘yang berharga’, kalau cuma melanjutkan yang sudah ada, apa itu berharga? Kalau dijawab iya, perlu refleksi, mengapa berharga?” ujarnya. Ia melanjutkan dengan mensituasikan pertanyaan tersebut di kondisi saat ini, “nilai-nilai seperti apa yang seharusnya ada dan tercerminkan di PUPM?”

Banyaknya pertanyaan yang muncul dari pengamatan singkat terhadap fenomena bertahun ini memberikan gambaran bahwa fenomena calon tunggal menahun saat pemilu ini barangkali tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari masalah yang lebih mendasar dan lebih genting tentang dinamika kemahasiswaaan Unpar. “Apa iya kondisi sekarang sudah mencerminkan apa yang dianggap berharga (nilai) oleh mahasiswa Unpar?” pungkas Tanius.

Debora Angela | Alfonsus Ganendra | Naufal Hanif | Novita

*Naskah ini mengalami perbaikan pada Kamis, 5 November 2020 pukul 22.00, dengan perubahan pada nama. Rama Fauzi selaku Ketua KPU dan Grace Natalie selaku Senat Hubungan Internasional dalam klarifikasinya menyebutkan terdapat kekeliruan dalam penulisan nama Ketua KPU, Rama Fauzi.

*

*

Top
Atur Size