Efek Samping Tutupnya Unpar: Para Penjual Makanan

warung bambu

LIPUTAN, MP – Pandemi coronavirus menyebabkan pihak UNPAR mengambil kebijakan untuk meniadakan kegiatan perkuliahan tatap-muka selama sisa semester genap 2019/2020. Tidak hanya kegiatan perkuliahan mahasiswa, berdasarkan surat edaran nomor III/R/2020-03/585 dari rektorat, akses untuk masuk ke area kampus juga dibatasi. Hanya tenaga kependidikan dan karyawan UNPAR yang diperbolehkan untuk masuk ke area kampus selama kebijakan ini berlaku.

Kebijakan kampus ini tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tenaga kependidikan, dan karyawan UNPAR, tetapi juga pada pelaku ekonomi di sekitar UNPAR. Akibat kebijakan kampus untuk membatasi/menghentikan sementara kegiatan, banyak penjual mengalami penurunan pendapatan.

Didi Wahyudi, misalnya; pemilik Kedai Vio di warung bambu (Warbam) ini mengatakan bahwa penjualannya menurun sejak ditiadakannya kegiatan mahasiswa di kampus. “Sangat drastis,” tutur Didi, “Mulai dari hari Senin (16/03) sekitar 80 persen.” Didi tidak menyangka bahwa pemberhentian aktivitas sampai akhir semester genap di kampus akan terjadi, katanya, “Dari edaran wali kota (Bandung) sendiri kan hanya dua minggu, tapi UNPAR ternyata sampai akhir semester genap.” Hal ini berpengaruh besar, mengingat hampir 100 persen pelanggannya adalah mahasiswa, ia menjelaskan, “Pesanan mayoritas dari mahasiswa, bahkan GoFood maupun GrabFood, dan sekarang hampir semua kembali ke rumah masing-masing,” imbuhnya.

Penjual lain di Warbam yang mengalami hal serupa adalah Elsie. Ia memiliki usaha jus buah dan mengakui mengalami penurunan penjualan yang drastis, bahkan lebih drastis dibandingkan bulan puasa. “Saat bulan puasa turun 5 sampai 10 persen, tapi sekarang hingga 50 persen,” ujarnya. Mengenai keberlangsungan usahanya sendiri, Elsie masih menunggu karena beberapa pertimbangan, “Untuk sementara kami lihat dua minggu ke depan, sesuai dengan anjuran pemerintah, setelah itu kami lihat apakah UNPAR masih menerapkan kebijakan yang sama. Tapi untuk sekarang kami belum bisa mengambil keputusan.”

Berbeda dengan Elsie, Pak Ana, penjual sop di Racun, memutuskan untuk libur selama dua minggu. “Sepi, paling libur dulu,” ujarnya saat ditanya. Pak Ana sendiri berusaha untuk menangani penjualannya yang tidak laku dengan mengurangi supply barang. “Tapi itu juga nggak abis barangnya,” timpalnya sambil bergurau.

Tidak hanya penjual di depan UNPAR, hal yang sama juga dialami oleh Yuki Pratama di Jalan Bukit Jarian. Karyawan Sambel Seuhah ini merasakan dampak yang cukup besar terhadap penjualan. “Sehari bisa menjual 30 boks, sekarang tidak lebih, paling cuman seberapa,” ujarnya. Penurunan penjualan ini bukan hanya karena kampus, tetapi juga aktivitas masyarakat yang menurun, ia menambahkan, “Pelanggan kami tidak hanya mahasiswa di daerah Ciumbuleuit, tapi di luar (mahasiswa) juga. Biasa kami dapat pesanan untuk acara, sekarang tidak ada pesanan yang masuk.”

Meskipun lokasi dan produk yang dijual berbeda-beda, semua penjual mengharapkan hal yang sama: coronavirus dapat segera diatasi dan keadaan semakin membaik. “Mudah-mudahan cepat selesai. Kalau cuman dua minggu masih bisa ditutupi kekurangannya, tapi kalau dua bulan atau lebih memang mengkhawatirkan. Dan semoga sehat selalu, bisa jaga kesehatan,” ujar Didi.

Menurunnya omset para pedagang di sekitar Unpar adalah efek samping dari kebijakan menutup kampus untuk sementara waktu. Kebijakan ini penting dan harus dilakukan untuk mencegahan penyebaran virus corona, namun sebagaimana dampak dari bencana alam dan non-alam lainnya, para pedagang makanan yang beroperasi secara harian cenderung mendapatkan dampak lebih besar daripada lainnya.

Hanna Fernandus, Muhammad Rizky, Esyela Fransisca|Novita, Naufal Hanif

Related posts

*

*

Top