Dominasi Bayern Munich di Jerman dalam Satu Dekade Terakhir

INTERNASIONAL, MP – Berbeda dengan liga-liga lain di Eropa yang persaingannya sangat ketat semisal Liga Inggris yang sangat sulit diprediksi dengan beberapa kali menghasilkan tim underdog sebagai juara seperti Leicester, atau La Liga Spanyol yang merupakan arena bagi persaingan sengit antara FC Barcelona dan Real Madrid, Kompetisi Liga Jerman yaitu Bundesliga dikenal cukup membosankan dalam 10 musim terakhir.

Sejak musim 2010-2011, hanya ada dua klub yang berhasil menjuarai Bundesliga. Kedua klub tersebut adalah Borussia Dortmund dengan 2 kali juara yakni pada musim 2010-2011 dan 2011-2012, dan sisanya adalah Bayern Munich dengan 8 kali juara yang diraih secara beruntun sejak musim 2012-2013 hingga musim 2019-2020 ini. Akibat kedigdayaan Bayern Munich, sebelum musim Bundesliga dimulai, publik sepakbola dunia kerap kali langsung “memastikan” jika Bayern Munich akan kembali keluar sebagai juara.

Tidak hanya di kancah Bundesliga, kompetisi internal lainnya yang diikuti oleh 64 tim Jerman dari berbagai kasta tiap musimnya yaitu DFB Pokal, juga diakhiri oleh keberhasilan Bayern Munich yang keluar sebagai juara DFB Pokal 2019. Bayern Munich menjadi tim dengan gelar DFB Pokal dan Bundesliga terbanyak hingga sekarang.

Robert Lewandowski, striker andalan Bayern Munich sukses menjadi top scorer Bundesliga selama 4 kali sejak kepindahannya ke Bayern pada musim 2014-2015. Ini menunjukkan bahwa Bayern Munich sangat mendominasi sepakbola di Jerman.

Aturan 50%+1 dan Kedigdayaan Masa Lampau Bayern

Dalam sepakbola modern sendiri, banyak klub yang berhasil meningkatkan kualitasnya melalui investasi dan suntikan dana dari pemiliknya. Paris Saint-Germain (PSG) merupakan gambaran jelas. PSG berhasil menguasai Liga Prancis dengan Arab Money dari Emir Qatar sejak 2011 lalu yang kemudian bisa membeli pemain top dunia dengan harga yang fantastis.

Dua yang paling mahal adalah Neymar dan Mbappe dengan total nilai transfer Rp5,66 triliun. Tetapi, berbeda dengan PSG, Bayern Munich bukanlah klub instan yang dibangun dalam sekejap hanya dengan bermodalkan dana dari pemiliknya saja.

Kedigdayaan Bayern sudah muncul sejak dekade 80an dan 90an. Mereka juga sudah sering memenangkan kompetisi Bundesliga. Keberhasilan tersebut meningkatkan popularitas dan keuangan klub yang hingga kini menghasilkan aset bernilai Rp42,725 triliun.

Dengan aset sebanyak ini, Bayern dengan mudahnya bisa menggaet pemain-pemain bintang, yang salah satunya adalah membeli Lucas Hernandez dari Atletico Madrid pada jendela transfer musim panas 2019 lalu dengan nilai transfer mencapai Rp1,280 triliun, memecahkan rekor sebagai transfer termahal dari Die Bayern.

Tak heran, julukan “FC Hollywood” pun disematkan karena Bayern sering menjadi rumah bagi pemain-pemain bintang.

Bayern yang meraup pundi-pundi kekayaan sejak dekade 80an dan berhasil tampil gemilang di kancah Eropa semakin memperkecil kans klub-klub Bundesliga lainnya untuk bisa menghentikan dominasi Bayern. Di Jerman, berlaku aturan 50+1 yang mengatur bahwa kepemilikan klub sebagian besar berada di tangan fans (lebih dari 50 persen). Investor komersial memegang saham kurang dari 50 persen sisanya. Sehingga mayoritas suara dalam manajemen klub berada di tangan suporter.

Pihak penyelenggara juga tidak memperbolehkan klub untuk berpartisipasi di liga jika tidak mengikuti aturan 50%+1 ini, dengan tujuan agar investor swasta tidak dapat mengambil alih klub dan berpotensi mendorong kebijakan yang memprioritaskan keuntungan di atas keinginan suporter.

Dengan kata lain, aturan ini dibentuk agar tradisi sepakbola Jerman bisa berjalan dengan menjunjung tinggi prinsip yang menganggap bahwa supporter merupakan pemain ke-12 dalam sepakbola serta prinsip “klub ada untuk keinginan suporter.”

Regulasi pembatasan finansial ini memaksa klub untuk terus memutar otak agar tetap mendapatkan pemain berkualitas dengan harga murah. Satu-satunya cara adalah dengan mengandalkan pemain akademi, tanpa harus merogoh kocek untuk mendatangkan pemain potensial dari akademi sepakbola negara lain seperti Spanyol, Prancis, maupun dari negara-negara Amerika Selatan.

Hal itu dilakukan oleh Bayern yang pada awal musim 2019-2020 ini melakukan promosi 3 pemain berusia di bawah 20 tahun dari FC Bayern II, klub akademi milik Bayern Munich yang kini berkompetisi di kasta ke-3 Liga Jerman.

Maka tak heran, hampir setiap tahun selalu ada bintang muda potensial asal Jerman yang naik daun karena performanya yang apik. Leroy Sane, Leon Goretzka, dan Kai Havertz merupakan beberapa diantaranya.

Inkonsistensi Lawan dan Transfer Ciamik Bayern

Hal pendukung lain dalam kedigdayaan Bayern adalah inkonsistensi klub Jerman lain yang kerap menjual pemain bintang dan berganti pelatih. Misalnya saja yang terjadi pada RB Leipzig yang berhasil mentas di Champions League setelah menjadi runner-up pada musim keduanya di Bundesliga. Saat itu publik seakan mendapat hawa segar setelah jenuh melihat Bayern yang terus-terusan juara. Harapan mereka hanya satu, ada klub yang mampu menandingi sekaligus memberhentikan dominasi Bayern di Bundesliga.

Sayangnya, di akhir musim RB Leipzig malah menjual salah satu pemain kunci mereka, Oliver Burke ke West Bromwich Albion dengan nilai transfer Rp248 miliar. Musim selanjutnya, RB Leipzig hanya mampu finish di urutan 5 klasemen dengan selisih 29 dari Bayern yang (tetap) menjadi pemuncak klasemen di akhir musim.

Sebenarnya tidak hanya RB Leipzig yang membuat keputusan fatal. Rival abadi Bayern Munich, Borussia Dortmund harus rela kehilangan dua pemain kunci mereka dalam dua musim beruntun yaitu Mario Gotze dan Robert Lewandowski. Bahkan, Lewandowski berhasil “diambil” oleh Bayern secara gratis atau free transfer.

Padahal, saat itu — sebelum pindah ke Bayern Munich — Lewandowski menjadi top scorer Bundesliga. dua tahun berselang, giliran kapten Dortmund Matt Hummels yang hengkang ke Bayern Munich. Ini yang membuat Dortmund sulit untuk mematahkan dominasi Bayern di Bundesliga.

Hiburan pengganti bagi penonton Bundesliga sengitnya persaingan klub-klub yang berusaha menduduki posisi 2 hingga 4 klasemen untuk memperebutkan slot di Champions League. Klub-klub seperti Schalke 04, FC Augsburg, Borussia Mönchengladbach, Bayern Leverkusen, hingga Borussia Dortmund bergantian menjadi langganan pengisi posisi 4 teratas — kecuali posisi 1 klasemen karena sudah pasti diisi oleh Bayern Munich — dengan selisih poin di posisi 2 sampai 4 yang tipis pada akhir musim. 

Persaingan ini menjadi satu-satunya hiburan mengingat hampir mustahil untuk bisa menghentikan dominasi Bayern selain pada saat-saat tertentu di mana Bayern sedang sial. Seperti pada musim 2008-2009 dengan hasil akhir Wolfsburg yang secara mengejutkan keluar sebagai juara, atau pada musim 2010-2011 dan 2011-2012 yang dibumbui oleh ambisi tinggi Jürgen Klopp dan berhasil membawa Dortmund sebagai juara.

Penulis: Muhammad Rizky

Editor: Alfonsus Ganendra

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size