Diskriminasi Nyata Bagi Mahasiswa Papua di Bandung

Aksi Mahasiswa Papua di Yogyakarta Melawan Diskriminasi dan Rasisme. dok/Tirto

LIPUTAN, MP — Sudah bertahun-tahun lamanya diskriminasi terhadap mahasiswa Papua sering terjadi. Berbagai tindakan rasisme berupa lontaran kasar dan sejenisnya kerap dialami oleh mahasiswa Papua di berbagai daerah, tak terkecuali Bandung.   

William Robert Nulini salah satunya. Alumni Sistem Komputer 2015 UNIKOM ini mengungkapkan bahwa pengalaman diskriminasi kerap ia dapati dari lingkungan sekitar, kampus, bahkan gereja. “Di kampus, ada aja mahasiswa yang jika ketemu saya langsung panggil ‘eh si kaka beta’ atau ‘sumber air su dekat’”, kata William. “Bagi mereka mungkin biasa aja tapi bagi saya kata-kata itu bernada rasis,” lanjut William. “Apabila menjawab mereka, nanti disusul dengan pertanyaan tidak masuk akal seperti ‘kak di timur ada air bersih gak?’ atau ‘di Papua ada kereta gak?’”.

Pola hidup masyarakat Papua sendiri lebih mengutamakan prinsip kolektivitas. Ketika sedang berkumpul bersama teman-teman Papua di Bandung, William pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan. “Waktu lagi nongkrong di kontrakan, tiba-tiba ormas (organisasi masyarakat) dan RT/RW setempat datang marah-marah,” kata William. “Mereka ngomong dari ormas tapi tidak pakai atribut,” lanjutnya. 

Dia juga mengatakan oknum tersebut mengintimidasi mereka yang berkumpul, bahkan diancam akan mengeluarkan mereka dari kontrakan. “Kami tidak melakukan apapun tapi dimarahi seperti itu,” ucap William. Dia menyatakan ada prasangka buruk dari berbagai pihak terhadap aktivitas mahasiswa Papua di kontrakan.

Setelah itu, William mempublikasikan dokumentasi kejadian yang berlangsung ke Facebook. “Tanggapan paling banyak dari kawan-kawan Papua,” ucap William. Selain itu, dia juga menyebutkan ada solidaritas dari organisasi yang peduli demokrasi. 

William mengaku setelah kejadian tersebut, teman-teman Papua tidak lagi mengadakan kegiatan diskusi atau nongkrong di kontrakan. “Ancaman berupa intimidasi oleh ormas menyebabkan kawan-kawan jadi trauma,” tuturnya. 

Saat demo perayaan hari buruh atau yang dikenal sebagai Mayday pada 2017 lalu, William mengatakan pernah diteriaki monyet oleh oknum Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI). “Massa yang dari Papua saat itu hanya saya sendiri,” kata William. “Hampir semua kawan-kawan berpakaian hitam membela saya, akhirnya pun bentrok,” jelas William. 

Hal yang serupa juga dirasakan oleh alumni Hubungan Internasional 2015 Unpar, Dorthea Wabiser. Dorthea mengaku sudah mengalami perlakuan rasisme semenjak pertama kali menginjak kaki di Bandung. “Pas masih semester satu, aku mau ke gereja. Pas naik angkot, aku duduk di bagian pintu masuk, terus tiba-tiba semua yang duduk disampingku pindah semua dan lihat aku sambil ketawa,” ucap Dorthea. Dorthea juga menceritakan saat sedang berjalan, dia kerap diperhatikan dan dipanggil dari pinggir jalan seperti ‘Woi mace!’.  

Di kampus sendiri, Dorthea mengaku salah satu dosen pernah secara tidak langsung mengatakan bahwa orang-orang kulit hitam itu kotor dan tidak terurus. “Mungkin itu bukan spesifik untukku, tapi agak kesal karena aku satu-satunya orang berkulit hitam disitu,” katanya. Dia mengatakan teman-teman non-Papua juga menjadi kesal dengan dosen tersebut.

Tak berhenti disitu, adapun beberapa mahasiswa yang secara blak-blakan melontarkan pertanyaan yang aneh. “Aku pernah ditanya, kami di Papua pakai bahasa apa,” ujar Dorthea. “Terus juga ditanya disana tinggal di rumah yang layak atau tidak,” lanjut dia. Namun, Dorthea mengatakan dia tidak pernah mengalami perlakuan diskriminasi fisik secara langsung di kampus. “Selain orang-orang selalu minta untuk pegang rambutku,” jelas Dorthea. 

Selain itu, Dorthea mengatakan pernah ada sekelompok anak yang mengujarkan kalimat berbau rasis kepadanya. “Mereka perhatikan aku dari jauh terus bisik-bisik sambil bilang ‘awas ada Papua’” ucapnya. 

Dorthea mengaku sudah terbiasa akibat seringnya perlakuan diskriminasi yang dialaminya. Tapi tak dipungkiri, perlakuan tersebut membekas di hatinya. “Jujur awal-awal shock dan kecewa juga karena di Papua aku belajar banyak tentang budaya lain,” kecewa Dorthea. “Terus pas kesini aku mengerti tipe orang-orang yang melihat seakan aku alien,” lanjutnya.  

Dorthea mengatakan bahwa ia merasa lebih nyaman di Unpar dibandingkan teman-teman Papua lainnya di kampus lain seperti PTN. “Diskriminasinya lebih jelas,” ucap Dorthea. Namun dia merasa di Unpar sendiri tidak ada diskriminasi karena mereka tidak peduli kalau orang Papua sering mengalami rasisme. “Bukan karena mereka paham bahwa rasisme itu ada,” jelas Dorthea. “Tapi ini disekitar HI ya soalnya aku tidak terlalu bergabung dengan jurusan lain”.

“Kalau di KSMPMI saat diskusi tentang White Supremacist, dari situ aku menemukan banyak anak yang paham tentang isu ini,” lanjut Dorthea. 

Relevankah Gerakan Black Lives Matter Dengan Kondisi di Indonesia?

Sejak beberapa hari terakhir, gerakan Black Lives Matter digaungkan oleh masyarakat di seluruh dunia baik melalui sosial media maupun turun langsung ke jalanan. Gerakan ini diprakarsai sebab kasus meninggalnya George Floyd, seorang pria berkulit hitam oleh Polisi Kota Minneapolis, Senin (25/5) lalu. 

Dari situ, munculnya gerakan Papuan Lives Matter di berbagai media sosial dari masyarakat Indonesia. Seperti yang diketahui, masalah diskriminasi kerap terjadi oleh masyarakat berkulit hitam. Gerakan ini dianggap menjadi dasar pergerakan untuk memenuhi hak-hak orang Papua. 

William sendiri mengungkapkan pandangannya mengenai pergerakan ini. Menurut dia, gerakan Black Lives Matter yang belakangan ini muncul ke permukaan bukanlah sebuah persoalan baru melainkan kesadaran masyarakat yang semakin peka terhadap isu kemanusiaan. “Gerakan ini juga sebenarnya adalah puncak gunung atau bom waktu yang terus menerus diciptakan oleh aparat negara,” jelas William. 

Lanjutnya, dia mengatakan bahwa persoalan utama dalam gerakan BLM ini bukan muncul semata-mata karena persoalan rasial, melainkan disebabkan oleh pandemi serta persoalan ekonomi politik yang terjadi di semua negara. 

William mengakui bahwa gerakan Black Lives Matter ini relevan dengan kondisi di Indonesia. “Karena Indonesia menganut semboyan Bhinekka Tunggal Ika, maka semestinya rakyat juga paham dan bergerak bersama melawan rasisme,” ujar William. Dia juga berkata masyarakat harus melawan struktur penindasan yang menciptakan pengelompokkan sehingga struktur kelas mayoritas kemudian menindas minoritas. “Tentu sangat relevan, selama hak-hak serta martabat manusia masih dihancurkan, sewajibnya rakyat Indonesia juga menganggap gerakan ini penting,” lanjutnya. 

Menurut Dorthea sendiri, pergerakan BLM relevan jika dikaitkan dengan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. “Berbagai pelanggaran HAM yang belum diselesaikan seperti di Nduga, ada keterkaitan untuk ikut dalam gerakan BLM apalagi kondisi sekarang banyak masyarakat yang ditindas,” jelasnya.

Dorthea juga mengatakan bahwa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini merupakan momentum besar orang-orang Indonesia terutama orang Papua untuk meningkatkan kesadaran bahwa di Papua sendiri juga terjadi kasus seperti itu. “Selama ini pergerakan untuk membela hak-hak orang Papua tidak dianggap serius atau bahkan diabaikan,” ujar Dorthea. Menurutnya, hal itu terjadi karena orang-orang mempunyai mental kolonial.

“Menurut pengalaman pribadi, setiap ada yang tanya pendirianku tentang konflik di Papua, respon yang muncul itu seperti ‘Memangnya kalian sudah siap untuk berdiri sendiri?’ atau kata-kata seperti belum ada Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup untuk meraih kemerdekaan,” jelas Dorthea. Selain itu, menurut dia banyak orang yang tidak tahu mengenai permasalahan di Papua sehingga menganggap Papua baik-baik saja seperti daerah lain. 

Adapun pro dan kontra mengenai gerakan Papuan Lives Matter. Beberapa netizen mengatakan jangan menyamakan orang Papua dengan orang Afrika. William mengatakan bahwa argumen tersebut keliru. “Faktanya masyarakat Papua pun masih banyak mengalami diskriminasi rasial kok,” ujarnya. Menurut William, Papua dan Afrika itu sama secara biologis. “Papua juga berkulit hitam dari kelompok ras negroid,” ujarnya. “Makanya relevan menurutku,” lanjutnya.

Menurut Dorthea sendiri, argumen tersebut muncul dari orang yang rasis. “Memang orang Papua beda dengan orang Afrika, tapi kan gerakan ini gerakan Black Lives Matter bukan African Lives Matter,” ujarnya. Dorthea menjelaskan bahwa orang Papua mempunyai kriteria yang cocok untuk ikut terlibat dalam gerakan Black Lives Matter. “Problemnya itu human right bukan ‘asal kamu darimana’” lanjutnya.

Dorthea menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia sendiri perlu sadar bahwa Indonesia itu beragam dengan budaya masing-masing. “Instead of ignorance dan cuman berfokus di tempat dia dibesarkan saja,” ucapnya. Dengan adanya kesadaran tersebut, Dorthea berharap kedepannya tidak akan ada lagi tindakan ataupun pertanyaan rasis yang dianggap biasa namun sebenarnya menyinggung orang Papua. 

Reporter: Novita
Editor: Naufal Hanif

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size