DISKO: Peristiwa Blackout dalam Perspektif Ekonomi Nasional

Suasana berlagsungnya Disko di SC Ekonomi

Pada Kamis (19/09) lalu, telah diadakan diskusi terbuka yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan (HMPSEP) Universitas Katolik Parahyangan. Bertempat di Student Center Ekonomi, diskusi ini mengambil tema “Apa dampak blackout bagi perekonomian di Indonesia?”

“DKI merupakan pusat perekonomian. Makanya itu berdampak banget.“ Jawab Stevany Tiara saat ditanya mengenai alasan pemilihan kejadian blackout sebagai tema diskusi kali ini. Adanya mata kuliah yang berhubungan dengan perekonomian juga menjadi alasan lainnya.

Tiara sebagai ketua pelaksana Disko (Diskusi ekonomi) mengatakan bahwa program ini merupakan hal penting karena dari diskusi inilah para mahasiswa bisa mengemukakan pendapatnya secara langsung. Diskusi ini diikuti sebanyak 55 mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan dari berbagai angkatan aktif.

Disko ini tidak menjadi diskusi yang terakhir, karena akan diadakan kembali diskusi dalam beberapa bulan kedepan dengan tema yang berbeda. Tiara menginginkan keterlibatan yang lebih tinggi dari mahasiswa Unpar, baik dari jurusan ekonomi pembangunan maupun dari jurusan lainnya, mengingat diskusi ini terbuka untuk umum. “Semoga diskusi selanjutnya akan lebih interaktif lagi.” Tutup Tiara.

Berdasarkan diskusi yang telah berlangsung, didapatkan beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari diskusi ekonomi tersebut. Blackout yang terjadi di Jakarta dan di bebebrapa tempat di Pulau Jawa pada tanggal 4-5 Agustus dinilai sangat merugikan banyak pihak. Tercatat setidaknya mati listrik yang terjadi selama 6-8 jam tersebut telah meruguikan bebrbagai pihak setidaknya 330 miliar rupiah secara akumulaitf. Pihak yang paling terdampak kejadian ini terutama adalah pada sektor industri seperti tekstik, ritel, dsb. Tidak hanya pada sektor industri konvensional saja namun juga industri jasa seperti layanan keuangan. Pada kejadian tersebut bahkan mesin EDC (Electroni Data Capture) bahkan sempat tidak dapat diakses yang menyebabkan kesulitan pembayaran secara elektronik. Kerugian juga terjadi pada UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) bahkan memiliki dampak yang lebih signifikan, hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM memang tidak memiliki genset sehingga sulit bagi mereka untuk melakukan usaha pencegahan mati listrik berkepanjangan.

Arah diskusi kemudian juga menyentuh sampai pada titik alternatif dari kejadian blackout tersebut. Perlu diketahui sebelumnya bahwa mati listrik berkepanjangan ini menjadi tanggung jawab dari PT. PLN sebagai perusahaan yang memegang pasar monopoli listrik di Indonesia. Melihat bahwa pola manajemen yang diterapkan PLN adalah salah satu sumber masalah, menyebabkan alternatif oligopoli juga sempat diperbincangkan. Setidaknya oligopolilah pendekatan ekonomi untuk masaah suplai listrik yang dilaksanakan di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam tersebut pihak swasta memilki kesempatan untuk membuka perusahaan yang bergerak pada bidang kebutuhan pokok sebuah negara. Sayang sekali ternyata pembukaan sektor usaha pada swasta dengan membuka kemungkinan oligopoli ternyata tidak menjamin akan membebaskan sebuah negara dari peristiwa blackout. Sebab setidaknya pada tahun 2011 hal yang sama terjadi di California dan Arizona.

Pada akhir diskusi juga dibahas menganai tingkat kewajaran dan toleransi dari peristiwa mati listrik berkepanjangan. Blackout listrik sebenarnya normal terjadi jika rentang waktu kejadiannya 10-15 tahun sekali, karena sarana prasarana kelistrikkan juga dibuat oleh manusia dan bisa saja ada unsur human error. Namun, jika blackout sering terjadi maka menjadi tidak normal dan dapat memengaruhi perekonomian negara tersebut. Tidak menutup kemungkinan terjadinya krisis karena tidak adanya pasokan listrik. Konsumsi masyarakat dapat mendorong perekonomian suatu negara dan sebaliknya, jika suatu perekonomian meningkat maka daya beli masyarakat juga akan meningkat.

 

Alfonsus Ganendra

*

*

Top