DISKO : Indonesia, Investasi Asing dan Kolonialisme Modern?

Suasana Diskusi Ekonomi (Disko) di Student Centre Ekonomi

Sore hari  tanggal 28 November 2018 di student center Ekonomi UNPAR, berkumpul segelintir mahasiswa yang akan melakukan kegiatan diskusi. Diskusi yang diadakan oleh HMPSEP ini bernama Diskusi Ekonomi (Disko). Disko sendiri sudah diadakan sejak lama dan merupakan program yang berkelanjutan.

“Jadi latar belakangnya itu dulu anak-anak di ekbang suka nongkrong di SC. Terus mereka suka diskusi-diskusi hal tentang isu ekonomi dari koran dan bentuknya informal,” jelas Otniel selaku ketua disko. Berangkat dari alasan itu, HMPSEP berinisiatif untuk mewadahi kegiatan diskusi ini untuk mahasiswanya. Disko mengangkat tema diskusi “Investasi asing = kolonialisme era modern?”. Adapun tema ini merupakan isu hangat yang masih segar dalam ingatan untuk didiskusikan oleh mahasiswa.

Diskusi ini diawali oleh kata sambutan dari ketua diskusi. Diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai angkatan disambut hangat oleh penyelenggara diskusi. Suasana di student center Ekonomi menjadi sesak dengan munculnya beberapa mahasiswa lainnya serta dosen yang secara aktif mengajak mahasiswanya untuk beropini. Gelak tawa menjadi  pelengkap acara diskusi.

Jalannya diskusi dipercayakan kepada moderator bernama Nizam Fadhlurrohman, Ekonomi Pembangunan 2014. Ia membuka diskusi ini dengan menjelaskan terlebih dahulu pengertian investasi.

Mahasiswa mulai mengeluarkan opini mereka mengenai pentingnya dana dari luar untuk pembangunan Indonesia. Salah satunya adalah mahasiswa bernama Radit, yang menjelaskan bahwa Indonesia memerlukan investasi asing, tetapi hal tersebut harus dijadikan pembelajaran untuk Indonesia supaya meningkatkan sumber daya serta teknologi sama seperti Freeport.

Belum berhenti sampai situ, ternyata sebuah investasi asing dipengaruhi oleh kebijakan tenaga kerja asing (TKA)  yang diatur oleh pemerintah Indonesia. Salah satu kebijakan yang disinggung dalam diskusi ini adalah tidak lagi mewajibkan TKA untuk berbahasa Indonesia. Kebijkan ini turut mengundang opini pro dan kontra dikalangan mahasiswa yang terlibat dalam diskusi ini.  Adapun seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa di era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) sudah seharusnya masyarakat Indonesia berbahasa asing (red. Inggris) agar memudahkan proses transfer ilmu dari TKA ke masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, kebijakan ini belum relevan diimplementasikan di Indonesia mengingat angka pengangguran yang masih tinggi di Indonesia. Justru kebijakan ini mampu memperburuk angka pengangguran di Indonesia. Kedua ini diamini oleh setiap mahasiswa yang tergabung dalam diskusi ini.

Diskusi berlanjut dengan isi pembahasan penghapusan sektor Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk mengejar defisit transaksi berjalan. Dari berbagai opini yang disampaikan, hampir setiap mahasiswa yang beropini lebih banyak melontarkan opini tidak setuju.

Contohnya adanya DNI ini membuat salah satu sektor usaha yang dahulu dimiliki oleh pengusaha Indonesia dapat diakusisi 100%.  Disela-sela diskusi, terdapat seorang mahasiswa yang diketahui berasal dari Ekonomi Pembangunan 2018 menawarkan kepada setiap mahasiswa secangkir kopi. Hal ini membuktikan bahwa diskusi bersifat informal yang merangkul semua kalangan dengan keramahan dari tuan rumah.

Diskusi ini ditutup dengan topik yang mengajak mahasiswa mengemukakan pendapat mengenai cara meminimalisir dampak negatif investasi asing. Isu hangat yang dibahas, diharapkan bermanfaat bagi para mahasiswa. Mahasiswa baru dapat menggunakan kesempatan ini untuk melatih kemampuan berkomunikasi di depan publik. Belum sampai disitu, bahkan mahasiswa yang sedang menjalankan semester 5 ke atas juga dapat beropini sekaligus mengkritisi isu-isu yang ada dekat dengan kelimuan mereka.

Akhirnya, diskusi ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar. Diskusi ini juga memiliki tujuan agar setiap orang yang berkontribusi didalamnya mendapatkan wawasan dan pandangan baru mengenai topik-topik yang didiskusikan. Semoga kegiatan ini tetap dilestarikan dan dikembangkan agar menghasilkan manusia-manusia yang mampu mempertanggungjawabkan opini mereka.

 

Laurensius Marcel Hutabarat | Novita

Related posts

*

*

Top