Debat Senat Mahasiswa HI-Adbis: Representasi Kelayakan Perwakilan

Suasana debat Senat Mahasiswa jurusan HI dan Adbis di SC Ekonomi, Jumat (8/11) lalu. dok/MP

STOPPRESS, MP – Jumat (08/11) lalu telah diadakan debat calon Senat Mahasiswa (SM) jurusan Hubungan Internasional (HI) dan Administrasi Bisnis (Adbis) di Student Centre (SC) Ekonomi. Debat ini dihadiri oleh kurang dari 10 orang dan beberapa panelis debat. Awalnya, debat direncanakan akan dimulai pada 14:30 WIB. “Ini ada force majorjadi debat baru akan dimulai jam 3,” ujar Daffa selaku Ketua KPU Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ternyata, acara kembali tertunda dan dimulai pada 17.00 WIB dikarenakan belum ada penonton yang datang untuk menonton debat terbuka tersebut. 

Acara dimulai dengan debat calon SM HI, Grace Natali Estomini atau Nana (nomor urut 1) dan Abraham Satriaseno Wiraputra atau Satria (nomor urut 2). Visi nomor urut 1 adalah “Menjadi senat mahasiswa yang peduli, berintegritas, serta profesional dalam membangun dan mengayomi.”

Langkah konkret yang akan diambil Nana adalah melibatkan setiap golongan dalam pengambilan keputusan agar tercipta lingkungan yang diinginkan. “Saya akan menjalin kemitraan dengan rektorat juga untuk menciptakan lingkungan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Satria memiliki visi: “Menjadi Senat Mahasiswa yang bisa menampung aspirasi untuk mendukung terwujudnya PM Unpar yang berintegritas, berbela rasa, cinta damai, dan profesional.” Satria berkata bahwa ia akan meningkatkan koordinasi antarlembaga dan menciptakan lingkungan yang aman untuk pengembangan individu. “SM kemudian akan menjadi cermin dalam konteks kualitas peningkatan akademik maupun nonakademik,” ujar calon nomor urut 2 tersebut.

Dalam debat ini, calon SM juga memaparkan keberadaan Senat Mahasiswa yang menjalankan fungsi check and balance antarlembaga. Hal ini mengacu pada pembaharuan struktur menurut Peraturan Rektor tentang Organisasi Kemahasiswaan (PROK) tahun 2018. Menurut Nana, masing-masing lembaga harus mengetahui job desk-nya. “Jadi nggak perlu simpang siur mengurusi hal lain,” jelas calon nomor urut 1.

Lain halnya dengan Nana, Satria mengatakan bahwa SM mempunyai tiga fungsi: legislatif, pengawasan, dan aspiratif. Ia melanjutkan, “Dengan begitu, SM bisa menjadi wadah untuk menyimpan aspirasi tersebut agar dapat diteliti, dinilai, dan
didiskusikan ke sesama SM.”

Lembaga SM tentunya akan berurusan dengan berbagai macam aspirasi. Oleh karena itu, muncul pertanyaan dari panelis mengenai ranah dan batasan dari SM sendiri dibandingkan dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Nana menjawab bahwa kekuasaan MPM berhubungan dengan urusan akademik, fakultas, dan regulasi. “Sedangkan LKM membangun pribadi mahasiswa dimana mereka bisa berperan aktif,” tambahnya lebih lanjut.

Tidak seperti Nana, Satria menjelaskan bahwa tugas SM membuat peraturan, sementara LKM lebih terfokus pada pengembangan diri.

Debat Calon SM Adbis

Setelah debat SM HI, acara dilanjutkan dengan debat SM Adbis. Identitas kedua calon SM dari Adbis adalah Parsaulian Manalu (nomor urut 1) dan Fabianus Briandityo (nomor urut 2). Kedua calon masing-masing berasal dari angkatan 2017 dan 2018.

Fabianus memiliki visi untuk “Berdinamika secara aktif dalam merespon kebutuhan mahasiswa Unpar”. Menurut Fabian, untuk mencapai visi tersebut, diperlukan misi dengan mengoptimalkan fungsi SM, menjalin relasi yang baik di dalam maupun di luar Unpar, dan menyerap serta menyampaikan feedback yang baik dan efektif.

Sementara itu, Parsaulian memiliki visi “Menjadikan Senat Mahasiswa senat yang responsif”. Misi untuk mencapai visi tersebut, menurut Parsaulian antara lain dengan memberikan pelayanan terdepan dan optimal serta meningkatkan kepekaan SM terhadap fenomena yang ada di dalam maupun di luar Unpar.

Menurut Fabianus, aspirasi yang akan dikumpulkan tentunya sesuai dengan fungsi SM, yaitu aspirasi di bidang akademik, regulasi, dan keuangan.  Ketika ditanya oleh moderator mengenai pendekatan yang akan digunakan, Fabianus memilih pendekatan personal ke pihak mahasiswa Adbis untuk mengumpulkan aspirasi dan musyawarah untuk mufakat.

Pendekatan yang berbeda disampaikan oleh Parsaulian; ia akan melanjutkan “Safari” melalui himpunan. Sebagai info, “Safari” adalah proker MPM yang bertujuan mengumpulkan seluruh aspirasi mahasiswa Unpar. Ia menjelaskan lebih lanjut, “Dari ‘Safari’, saya bisa mengetahui masalah di kalangan mahasiswa karena ada komunikasi.”

Saat salah satu penonton debat lalu bertanya mengenai masalah prioritas aspirasi, Fabianus menekankan pada urgensi aspirasi yang ada di kalangan mahasiswa. “Aspirasi pasti masuk ke ranah tertentu, terus dilihat mana prioritasnya. Harus selektif dan objektif terhadap aspirasi, sesuai dengan fungsi senat,” jawab nomor urut 2 mengenai pemilihan aspirasi yang akan diutamakan.

Lain halnya dengan Parsaulian. Ia memberikan penekanan terhadap bidang akademik sebagai salah satu fungsi senat dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa. “Terutama di bidang akademik. (Misalnya) telat FRS, akan diprioritaskan terlebih dahulu karena jika telat mengumpulkan FRS, tidak bisa ikut kegiatan perkuliahan,” jelasnya.

 

Hanna Fernandus, Alfonsus Ganendra || Brenda Cynthia

 

*perbaikan dilakukan pada Senin, 11 November 2019 pukul 18:47 dengan mengubah nama dan nomor urut paslon Senat Mahasiswa Adbis.

**perbaikan dilakukan pada Sabtu, 16 November 2019 pukul 17:11 dengan menghilangkan salah satu pernyataan calon SM Adbis.

Related posts

*

*

Top