Debat Capresma dan Cawapresma 2019: Sigap atau Dedikasi?

Suasana Debat Calon Presiden Mahasiswa di Student Centre (SC Teknik) pada Jumat (26/4) lalu. dok/ MP.

Jumat (26/04) lalu, KPU PUPM Unpar mengadakan debat calon presiden mahasiswa (Capresma) dan calon wakil presiden mahasiswa (Cawapresma) di SC Teknik. Debat yang dimulai pada pukul 17.30 WIB ini dimulai dengan pemaparan visi, misi, serta struktur kabinet yang mereka tawarkan, lalu dilanjutkan dengan sesi pertanyaan.

Pasangan nomor urut 01, Gallus Presiden Dewagana dari Arsitektur 2016 dan Miftahul Choir dari Hubungan Internasional 2016, dengan jargon “Sigap” mendapat giliran pertama untuk menyampaikan gagasan yang akan mereka bawa selama enam bulan ke depan. “Kami ingin mewujudkan mahasiswa Unpar yang intelektual kreatif,” kata Presiden.

Presiden menjelaskan bahwa mahasiswa intelektual kreatif yang mereka maksud adalah mahasiswa yang memiliki daya pikir kritis, selalu berkembang dan berinovasi. “Untuk mencapai mahasiswa intelektual kreatif, kami akan mewujudkan LKM yang melayani esensial dan pro-mahasiswa,” tambahnya.

“Untuk mahasiswa yang memiliki talenta di bidang seni ataupun non akademik, kami akan akomodasikan melalui Kementerian Ekonomi Kreatif, dimana kementerian kami ini menghadirkan wadah untuk berlatih, mempromosikan, dan mengekspresikan karya-karya mereka, serta memberikan pelatihan-pelatihan yang mereka butuhkan,” tambah Miftah.

Mereka lalu menjelaskan empat misi mereka, yaitu, melakukan advokasi untuk kesejahteraan mahasiswa, melakukan pendekatan lembaga secara personal, mengedepankan transparansi dan responsif, dan mewadahi pengembangan minat bakat dari jiwa sosial mahasiswa.

Miftah, cawapresma nomor urut satu, mengenalkan struktur kabinet baru yang mereka tawarkan. Mereka menghadirkan kementerian koordinator serta biro statistika dan pengarsipan. “Program serta struktur yang kami tawarkan ini tidak bisa bekerja apabila tidak ada kolaborasi antara mahasiswa, lembaga, HMPS, UKM, ataupun MPM serta pihak-pihak yang ada di unpar, yaitu biro atau dengan rektor itu sendiri,” tutup Miftah.

Selanjutnya paslon nomor urut dua, Denny Rizky Setiawan dari Hukum 2016 dan Dzikra Ahsanulalif Muiz dari Akuntansi 2016, dengan jargon “Dedikasi” menyampaikan visi misi mereka. Visi mereka adalah menjadikan lembaga kepresidenan mahasiswa sebagai wadah kolaborasi yang bergerak secara esensial.

Untuk mewujudkan visi tersebut, mereka telah merumuskan empat misi, yaitu melakukan komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh elemen Unpar, mewujudkan fungsi LKM sendiri sebagai wadah pemenuhan kebutuhan mahasiswa, bergerak secara esensial, dan mewujudkan pembangunan nilai dalam rangka regenerasi organisasi untuk menyambut masa transisi dari PROK 2008 ke PROK 2018.

Lalu perbedaan mereka dengan periode sebelumnya adalah pada struktur LKM mereka. “Kami menambahkan bidang kewirausahaan dalam Kementerian Keuangan dan mengadakan kembali Direktorat Jenderal Kesejahteraan Mahasiswa,” tambah Denny.

Pro Mahasiswa atau LKM-sentris

Denny  mengkritik struktur yang pro mahasiswa yang dibawa oleh paslon 01. Denny memberikan contoh kasus mengenai kebiasaan merokok mahasiswa Unpar, “Pro mahasiswa disini, apakah akan ke arah sana?” tanyanya.

Presiden menjawab bahwa tentu apa yang diinginkan mahasiswa belum tentu sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. “Apapun aspirasi yang masuk, harus kami kaji terlebih dahulu, lalu kami elaborasi dengan peraturan-peraturan yang lain, dan kami sampaikan kepada biro terkait,” jawab Presiden.

Pada sesi pertanyaan, moderator memberikan pertanyaan terkait tanggapan para paslon mengenai kebiasaan buruk LKM yaitu, mengesampingkan tugas etisnya untuk turut mencerdaskan serta meningkatkan mahasiswa Unpar, dan malah terlalu fokus pada pelaksanaan program kerja.

Denny menjawab, bahwa perlu adanya survei mengenai kebutuhan mahasiswa, lalu mengedepankan sebuah proker yang sudah ada sejak dulu. “Apa yang kami tawarkan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa, di sini kami ada kepemimpinan LKM. Di sini kami menyiapkan sebuah sistem bahwa siapa pun nanti staffnya kita berhak untuk mendapatkan sebuah pembelajaran dan mengembangkan diri mereka lebih baik lagi secara rutin,” jawabnya.

Calon wakil presiden dari paslon 2, Dzikra Muiz dari Akuntansi 2016, menambahkan bahwa penyebab kualitas menurunnya sumber daya manusia dan organisasi kurang berdampak adalah kurangnya andil seorang staff proker. “Staff biasanya hanya menjalankan perintah tetapi tidak terlibat dalam perencanaan dan persiapan, maka staff hanya menjalankan apa yang sudah ada dan tidak mengembangkan pola pikir dan kepribadian dalam sebuah organisasi,” jelasnya.

Namun, Presiden menanggapi jawaban dari pasangan nomor urut 02 terlihat jelas sistem yang dibawa sangat LKM sentris. “LKM seharusnya tidak hanya bekerja untuk LKM, tetapi juga bekerja untuk mahasiswa,” katanya.

Dzikra membalas dengan penjelasan bahwa ketika LKM menjalankan program kerja, akan melibatkan seluruh prodi dan fakultas. Maka dari itu, rencana kerja LKM akan berdampak pada semua fakultas dan prodi. “Kita tidak ingin menghilangkan budaya LKM,” tambah Denny.

Esensi LKM

Pada sesi tanya jawab dari penonton, Presiden Mahasiswa periode 2018/2019, Louis, memberikan beberapa pertanyaan, salah satunya adalah mengenai apakah esensi yang dimiliki LKM periode ini kurang, dikarenakan dalam visi kedua paslon sama-sama memiliki kata “esensi”.

Presiden menjawab, bahwa seperti pada kasus alumni Vincent, dimana Vincent membawa nama Unpar ke pengadilan karena tuntutan informasi, dan Vincent tidak mendapat banyak bantuan dari LKM sebagai organisasi mahasiswa. Lalu, Denny juga menjawab bahwa LKM yang sekarang ini esensial namun belum sepenuhnya memenuhi. “Saya merasa kebutuhan mahasiswa belum terpenuhi,” jawab Denny.

Debat pada malam itu cukup ramai dan berbeda dari tahun sebelumnya, dimana hanya ada satu pasangan calon. Debat tersebut ditutup dengan yel-yel dari para pendukung kedua paslon dan dorongan dari kedua paslon untuk mengikuti pemilu pada 2 hingga 3 Mei 2019 nanti.

 

Dionny Nathan | Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top