Debat Calon Ketua HMPSTI 2020: Himpunan Untuk Apa/Himpunan Untuk Siapa?

Debat Calon Ketua HMPSTI 2020: Himpunan Untuk Apa/Himpunan Untuk Siapa?

Pada hari Jumat, 27 November 2020, telah dilakukan debat calon ketua himpunan Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan periode 2021. Terdapat dua calon untuk ketua himpunan periode ini, yakni calon dengan nomor urut pertama, Demetrius Nobel Manulang dan Vicky Lim sebagai nomor urut kedua. Debat ini juga dimoderatori oleh Gerardus Aditya dan turut dihadiri 5 orang panelis.

Kegiatan debat ini diawali dengan kegiatan pemaparan visi misi dari setiap calon ketua. Visi dan misi dari calon nomor urut pertama, Dimetrius Nobel, yang akrab disapa Nobel sendiri, berpusat untuk mempersiapkan mahasiswa terhadap perubahan revolusi industri yang akan terjadi di masa depan, dengan menekankan pada tiga keterampilan, yakni creativity, emphaty, serta technical skills.

Visi yang dibawakan Nobel adalah mewujudkan HMPSTI yang inklusif guna meningkatkan kreativitas, empati, dan kemampuan untuk mengaplikasikan keilmuan teknik industry pada mahasiswa Teknik Industri UNPAR. “Inklusif disini berarti terbuka, yang artinya transparan, dan masyarakat dapat berkontribusi langsung,” jelas Nobel.

Inklusif ini diharapkan dapat menjawab ketiga keterampilan kunci yang telah disebutkan sebelumnya. Kreatif, dapat diperoleh dari kontribusi langsung oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan kreativitas. Empati, diperoleh dari aspek inklusif yang transparan, dapat membukakan mata masyarakat akan kebutuhan dan fenomena yang terjadi. Terakhir, inklusif ini akan meningkatkan efektivitas dari pengaplikasian ilmu TI.

Untuk mencapai visi tersebut, telah disiapkan tiga buah misi, yakni pertama, menciptakan lingkungan kerja HMPSTI yang terbuka bagi seluruh mahasiswa TI UNPAR, kedua, menerapkan sistem pengumpulan, penyaringan, dan perwujudan dari mahasiswa TI UNPAR, serta terakhir, membangun hubungan dengan pihak eksternal untuk mendukung pemenuhan kebutuhan mahasiswa.

Menurut Nobel, untuk mencapai inklusivitas ini, akan terdapat beberapa perubahan dalam melahirkan sebuah program kerja (proker). Perubahannya terdapat pada perancangan teknis acara, dimana teknis dari acara proker itu akan dilempar ke mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat mengungkapkan ide-idenya mengenai acara dalam proker. Namun ide-ide tersebut akan disaring terlebih dahulu dan nantinya mahasiswa akan memilih ide mana yang ingin dimasukkan ke dalam proker tersebut.

Sistem ini akan dapat meningkatkan partisipasi dari mahasiswa serta keterbukaan dari himpunan, sehingga mahasiswa dapat merasa lebih nyaman dalam himpunannya sendiri. Selain itu, mahasiswa pun akan dituntut untuk dapat menghasilkan ide-ide kreatif dan mengikuti fenomena yang kini terjadi, sehingga dapat menumbuhkan empati.

Untuk struktur organisasinya, terdapat sebuah divisi baru, yakni pengaplikasian keilmuan TI. “Divisi ini yang akan menjawab kebutuhan masyarakat dalam mengaplikasikan keilmuan, yang benar-benar berfokus pada pengaplikasian ilmu TI,” tegas Nobel.

Sedangkan untuk visi dari calon ketua nomor urut kedua, yakni Vicky Lim, akrab disapa Vicky, adalah, terwujudnya HMPSTI yang peduli, sistematis, adaptif, untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa TI dalam persiapan menuju dunia kerja. “Visi ini berangkat dari visi UNPAR sendiri, yaitu menjadi komunitas akademik humanum yang meningkatkan potensi lokal dan global demi meningkatkan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan.” ucap Vicky.

Visi ini juga didasarkan pada PROK 2018 pada Pasal 6 mengenai tujuan organisasi kemahasiswaan. Dari kedua hal tersebut, visi ini berfokus pada peningkatan kompetensi mahasiswa TI dalam persiapan menuju dunia kerja. Peduli dalam visi ini berarti pendekatan secara personal untuk menyampaikan informasi. Sistematis, karena sebagai mahasiswa Teknik Industri, kita selalu berhubungan dengan sistem, jadi perlu pola pikir yang sistematis. Adaptif, dalam keadaan yang tidak menentu ini, perlu kemampuan adaptif. Vicky mengungkapkan adaptif yang dimaksud bisa dalam bentuk teknologi, karena dalam keadaan seperti ini, kita didorong untuk bisa memanfaatkan teknologi yang ada sebaik mungkin.

Untuk menjawab visi tersebut, terdapat empat misi yang dibawakan Vicky, yakni pertama, melibatkan sistem data yang terintegrasi guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mencari kebutuhan dan menyebarkan informasi, kedua, menciptakan wadah bagi mahasiswa Teknik Industri untuk mengembangkan pola pikir terbuka, sistematis, adaptif, efektif, dan efisien, ketiga, proaktif dalam menyediakan wadah pemenuhan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi, dan terakhir, menjalin hubungan dengan pihak internal dan eksternal UNPAR guna mendukung berjalannya aktivitas berorganisasi.

Salah satu contoh bentuk kepedulian yang dimaksud Vicky adalah dalam program kerja ISSUE, terdapat surel yang dikirimkan ke setiap mahasiswa TI UNPAR guna menyebarkan informasi mengenai lomba di ISSUE dan mengundang mahasiswa yang bersangkutan. Penyebaran informasi secara personal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dan akan disesuaikan dengan minat bakat dari mahasiswa yang bersangkutan.

Untuk struktur sendiri, terdapat hal baru, yakni wakil. “Ini disesuaikan dengan visi dan misi saya, untuk mengembangkan potensi mahasiswa Teknik Industri untuk persiapan ke dunia kerja,” jelas Vicky. Wakil model insani ini akan diisi oleh divisi kewirausahaan, divisi pengembangan prestasi, dan divisi akademik dan profesi.

Sesi kedua ini merupakan sesi tanggapan maupun pertanyaan dari panelis, kepada calon yang telah memaparkan visi dan misinya. Pertanyaan untuk calon nomor urut pertama adalah mengenai struktur organisasi HMPSTI 2021, yang dinilai cukup banyak berubah dari struktur organisasi HMPSTI 2020. Perubahan struktur ini sebenarnya dengan tujuan agar dapat membentuk HMPSTI yang lebih berfokus pada kemahasiswaan dan kemasyarakatan TI.

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai inklusif, apakah HMPSTI periode sebelumnya sudah melakukan inklusivitas ini. Menurut Nobel, HMPSTI periode sebelumnya sudah melakukan inklusivitas ini, namun yang hendak dibawakan dalam visi misinya adalah jauh lebih inklusif lagi. Contohnya, proker yang lahir dalam HMPSTI merupakan hasil dari perancangan ring 1 maupun staf lain yang turut ambil bagian dalam proker tersebut. Hal inilah yang hendak diubah Nobel. “Inginnya itu dari sebelumnya, masyarakat bisa  memberikan idenya dari awal dan ada kesempatan untuk masyarakat luar berpikir, meskipun masyarakat tidak memberikan idenya, akan ada space masyarakat tau masalahnya apa dan berpikir,” jelas Nobel.

Hal ini menjadi penting, karena ketika masyarakat tahu proses terbentuknya proker dan mengenal alasan dibalik dibuatnya sebuah proker, masyarakat akan lebih mengerti kenapa sebuah proker dibuat seperti ini. Hal ini akan meningkatkan partisipasi dan kontribusi dari masyarakat TI UNPAR terhadap proker-proker yang nantinya diluncurkan, karena masyarakat akan tahu kebutuhan yang dijadikan dasar perancangan sebuah proker. “Melakukan sesuatu yang beralasan akan memberikan dampak pada partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan melakukan sesuatu yang bukan karena alasan yang kuat,” ungkap Nobel.

Selanjutnya terdapat pertanyaan mengenai ukuran performansi dari inklusivitas yang ditawarkan calon nomor urut pertama. Nobel sendiri mengungkapkan bahwa ukuran performansi ini berkisar pada dua pilar, yakni transparansi dan kontribusi langsung. Transparansi berkaitan dengan apakah mahasiswa dapat mengakses informasi dari HMPSTI atau tidak, berkaitan dengan program kerja yang ditawarkan dan sebagainya. Untuk kontribusi langsung sendiri, akan dilihat dari apakah sistem yang diterapkan agar mahasiswa bisa berkontribusi langsung itu sudah berjalan dengan baik atau tidak, jadi lebih dilihat ke arah keberhasilan sistemnya.

“Inklusif ini berarti dari, untuk, dan oleh mahasiswa, yang berarti, fokus kita adalah kebutuhan mahasiswa, yang berarti adalah apakah kita sudah menjawab kebutuhan mahasiswa atau tidak. Akan diukur dari segi apakah kebutuhan mahasiswa sudah terjawab atau belum,” jelas Nobel.

Sedangkan untuk calon nomor urut kedua, terdapat pertanyaan mengenai visi dan misi yang didasari pada visi UNPAR. Visi yang dibawakan UNPAR sendiri dibuat untuk meningkatkan potensi lokal. Pengembangan potensi ini menurut Vicky tetap cocok dilakukan dalam kondisi pandemi seperti ini. Apalagi dalam kondisi pandemi ini, partisipasi dari mahasiswa TI semakin meningkat. “Artinya ada kesempatan disini. Kondisi yang sekarang ini malah membuka peluang baru untuk meningkatkan potensi,” ujar Vicky.

Pertanyaan selanjutnya ditujukan pada misi terakhir dari calon nomor urut kedua, mengenai membangun hubungan dengan pihak eksternal dan internal UNPAR. Contoh dari pengapliasikan misi ini, untuk yang internal adalah dengan melibatkan APPK. Informasi mengenai ketenagakerjaan, keprofesian, dan sebagainya bisa didapat melalui APPK. Sedangkan untuk yang eksternal, bisa melibatkan alumni agar mahasiswa TI bisa semakin mendalami profesi yang mereka akan geluti nantinya setelah menginjakkan kaki keluar dari kampus.

Untuk sistem terintegrasi yang sempat disinggung pada misi pertama sendiri, Vicky mengungkapkan komponen yang akan diintegrasikan adalah data-data mengenai peminatan mahasiswa, kebutuhan mahasiswa, referensi keilmuan serta profesi mahasiswa nantinya, dan sebagainya. Data ini nantinya akan disimpan dalam database dan digunakan dalam menunjang kebutuhan mahasiswa. “Misal, si A ini minatnya di bidang manufaktur. Begitu ada informasi mengenai manufaktur, misal ada lomba atau keprofesian mengenai manufaktur, kita bisa langsung follow-up ke mereka,” jelas Vicky.

Sesi berikutnya adalah mengenai studi kasus yang diberikan oleh panelis. Untuk kasus pertama, terdapat pertanyaan mengenai bagaimana menyeimbangkan antara kehidupan berorganisasi dengan kehidupan mahasiswa sebagai pelajar, apabila nantinya calon ketua terpilih.

“Sebagai mahasiswa, kita mempunyai tugas utama untuk menyelesaikan kewajiban akademik kita,” ungkap Vicky. Namun tentunya ketua himpunan akan memiliki kewajiban tambahan. Vicky menyebutkan bahwa dirinya akan memprioritaskan kegiatan akademik terlebih dahulu, dan kegiatan kemahasiswaan akan dilakukan setelahnya. Namun demikian, dalam organisasi kemahasiswaan ini, ia tidak bergerak sendiri. Terdapat divisi-divisi yang akan saling bahu membahu dalam menyelesaikan kewajiban yang diberikan sebagai sebuah tim. Dengan demikian, antara akademik dan organisasi dapat tetap seimbang. Untuk staf himpunan sendiri, tetap sama, tetap difokuskan pada akademik terlebih dahulu, baru menyusul kegiatan kemahasiswaan.

Sedangkan menurut Nobel, untuk menyeimbangkan antara organisasi dan akademik, terdapat dua hal konkrit yang dapat dilakukan. Pertama, efisiensi rapat, yakni mencoba membuat rapat seefektif dan seefisien mungkin. Kedua, melalui divisi kesejahteraan mahasiswa yang mempedulikan stress mahasiswa. “Karena di Teknik Industri kita belajar, stress akan menambah waktu untuk mengerjakan sesuatu,” ungkap Nobel. Melalui hadirnya divisi kesejahteraan mahasiswa yang peduli terhadap keadaan mental dan stress dari mahasiswa, diharapkan tingkat stress ini akan menurun. Waktu yang digunakan dalam rapat maupun dalam akademi akan lebih efektif dan efisien, sehingga dapat tercapai keseimbangan.

Metode efisiensi rapat yang dimaksud Nobel adalah membaginya ke dalam segmentasi-segmentasi. Misalnya seperti brain storming. Brain storming tidak boleh dilakukan setiap kali rapat karena memakan waktu yang lama. Ada waktunya maksimumnya sendiri untuk brain storming. Dan untuk pelaksanaan rapat, bisa langsung ke inti utamanya, tidak perlu ada brain storming lagi. “Namun tetap ada beberapa rapat yang perlu brain storming,” tambah Nobel.

Bisa juga melihat dari urgensi rapat, tidak perlu setiap hari dilakukan rapat, melainkan berdasarkan kepentingan apa yang akan dibahas. Hal ini membuat hasil dari rapat tidak sia-sia, tidak banyak rapat namun hasilnya sedikit. Namun benar-benar dilakukan rapat ketika urgensinya jelas da nada.

Untuk studi kasus kedua adalah pandangan bahwa HMPSTI kurang bergerak keluar. Meski memiliki internal yang baik, HMPSTI dinilai kurang bergerak keluar. Menurut Nobel, keluar dalam hal ini bisa berarti pengabdian, bisa melalui lomba, maupun kolaborasi. Tentu harus dilihat kembali bagaimana yang dimaksud dengan kurang ini. Nobel beranggapan bahwa HMPSTI sudah cukup keluar. Bisa dilihat dari proker-proker yang ditawarkan, yang bekerja sama dengan pihak eksternal maupun masyarakat di sekitar TI UNPAR.

Hal konkrit yang akan dilakukan Nobel menanggapi hal ini adalah sesuai dengan visinya, yakni pengaplikasian ilmu TI.  Pengaplikasian ini akan ditingkatkan, sehingga otomatis HMPSTI akan lebih bergerak keluar. Hal ini dikarenakan pengaplikasian ini membutuhkan objek di luar, sehingga akan meningkatkan keaktifan HMPSTI untuk menunjukkan HMPSTI yang lebih keluar.

Sedangkan menurut Vicky, langkah pertama yang diambil adalah dengan sosialisasi. Kita kenalkan organisasi diluar UNPAR ke dalam himpunan, untuk melakukan sebuah kolaborasi. Hal ini membuat mahasiswa TI bisa mengenal lebih banyak organisasi diluar. Mahasiswa TI bisa lebih mengenal banyak bidang dan organisasi yang berkenaan dengan bidang studi Teknik Industri ini, sehingga bisa menemukan minat maupun memiliki gambaran bagaimana pekerjaan setelah lulus nantinya.

Sesi berikutnya diberikan kesempatan bagi calon ketua HMPSTI untuk saling mengajukan pertanyaan, calon kahim dengan nomor urut 1 akan memberikan pertanyaan kepada calon kahim nomor urut 2 kemudian akan ditanggapi oleh calon kahim nomor urut 2 dan begitu pula sebaliknya.

Kesempatan pertama diberikan kepada Calon kahim TI nomor urut 1 Demetrius Nobel Manulang kepada calon kahim TI nomor urut 2 Vicky Lim. Nobel melontarkan pertanyaan terkait dengan visi dan misi dari calon kahim nomor urut 2 mengenai data terintegrasi, Nobel mempertanyakan urgensi dari pencarian fenomena dan pembuatan data terintegrasi tersebut, ia juga mempertanyakan apakah sebelumnya tidak ada data terintegrasi mengingat bahwa setiap divisi membuat google docs dan ia juga merasa bahwa untuk pencarian kebutuhan dapat dilakukan dengan komunikasi yang cukup mudah dalam himpunan itu sendiri.

Ia juga menanyakan terkait dengan pernyataan Vicky sebelumnya mengenai jika terdapat perubahan maka dapat merubahnya di dalam google docs saja. Ia menanyakan apakah perubahan yang dimaksud itu dapat dirubah kapan saja atau bagaimana, dan jika terdapat perubahan apakah akan terjadi perubahan terus menerus terhadap program kerja. Pertanyaan ketiga yang dilontarkan oleh Nobel adalah mengapa pertama-tama masyarakat perlu menuliskan kebutuhannya mengingat bahwa kebutuhan masyarakat akan terus berubah, sehingga apa urgensinya masyarakat perlu menuliskan kebutuhannya atau merubah kebutuhannya untuk sesuai dengan form tersebut.

Pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh Nobel kepada Vicky, Nobel mengatakan bahwa dengan adanya data terintegrasi ini maka dapat terjadi bentrokan antara komunikasi antar divisi dengan data yang terintegrasi mengenai fenomena yang dicari, sehingga dapat mengurangi komunikasi antar divisi, ia bertanya apakah hal ini merupakan konsekuensi yang sudah dipikirkan oleh Vicky atau apakah Vicky merasa hal ini bukanlah suatu concern.

Tanggapan Vicky Lim mengenai pertanyaan pertama, ia menjawab bahwa memang sudah ada data sebelum adanya data terintegrasi, tetapi menurutnya data tersebut masih tersebar diantara divisi dan belum menjadi satu data yang terintegrasi, kemudian menurut dia urgensi untuk data terintegrasi ini adalah untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan oleh unpar berupa email unpar sebagai media penyebaran informasi, sehingga informasi dapat dengan mudah di follow up. Terkait perubahan yang ada, vicky menjawab perubahan yang ada terkait dengan penyebaran informasi, jika sewaktu-waktu yang awalnya mereka tertarik dalam bidang bisnis dan kemudian ingin berpindah ke bidang lain, disitu perubahan yang terjadi, terkait dengan penyebaran informasi dan untuk pengembangannya mungkin tidak akan banyak berubah dan lebih kepada penyebaran informasi dan pengembangannya akan tetap melihat rancangan awal yang telah dibuat.

Lalu ia menjawab kenapa mereka harus mengisi kebutuhan ini, karena menurut Vicky, yang akan mendapatkan benefit adalah masyarakat TI itu sendiri agar tidak ketinggalan informasi dan dapat di follow up dari himpunan itu sendiri.

Vicky mengatakan untuk data yang dapat diganti merupakan data di awal yaitu mengenai peminatan, jadi untuk nanti fenomenanya berangkat dari peminatan tersebut yang kemudian nanti akan dibentuk program kerjanya. Lalu data yang itu sebatas data peringatan sebagai informasi sehingga jika ada informasi tentang itu tidak akan terlewat. Perubahan data peminatan dapat dilakukan kapan saja. Menurutnya hal ini malah menambah kolaborasi antar divisi karena datanya terpusat.

Berikut diberikan kesempatan bagi calon kahim nomor urut 2 untuk memberikan pertanyaan kepada calon nomor urut 1. Ia menanyakan tentang parameter untuk voting agar proker tersebut dapat terjalankan. Jika Voting tidak memenuhi parameter apakah akan tetap dijalankan atau tidak. Kemudian mengenai inklusifitas, ia mempertanyakan jika mahasiswa dilibatkan untuk pemilihan proker, apakah hal tersebut dapat menyebabkan proker yang akan dilaksanakan tidak terfokus mengingat bahwa masyarakat akan memiliki ideologi dan pandangan yang berbeda, sehingga pendapat akan menjadi terlalu luas.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Nobel menjawab bahwa mengenai voting, ia tidak memberikan parameter tertentu, karena yang dimaksud bukan program kerjanya apa melainkan teknisnya seperti apa, maka menurutnya tidak perlu ada parameter untuk hal tersebut. Ia mengatakan bahwa worst case scenario adalah tidak ada orang yang mengirimkan idenya, dimana ia telah menyiapkan backup plan yang teknisnya berasal dari himpunan itu sendiri. Untuk masalah apakah tidak akan terfokus menurut dia tidak, dimana Nobel mengatakan bahwa terdapat fleksibilitas untuk ketua pelaksana proker tersebut melibatkan atau mengkolaborasikan informasi / ide yang ada dari masyarakat, dimana dasarnya tetap pada proker yang telah ditetapkan tersebut.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Atur Size