Debat Calon Ketua HMPSIHI: Nyanyian Rancangan-Rancangan Perubahan

Suasana Debat Calon Ketua HMPSIHI, Tubagus Taufik Hidayat dan Leonardo Gamal Prakoso di ruangan Audio Visual Fisip pada hari Selasa (23/4) lalu. dok/ HMPSIHI.

Debat antar calon ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) telah diselanggarakan pada selasa silam (23/4) di Ruangan Audio Visual, Gedung 3 Unpar. Debat sendiri memiliki dua calon ketua himpunan yaitu Tubagus Taufik Hidayat dan Leonardo Gamal Prakoso, serta dimoderatori oleh Richard Theo.

Sesi pertama terdiri dari pemaparan visi dan misi serta aktualisasinya yang telah disiapkan oleh para calon. Kedua calon membawa visi dan misi yang cukup komprehensif, memiliki banyak persamaan, namun terdapat sedikit perbedaan fokus.

Calon nomor urut 01, Tubagus, hadir dengan visi dan misi yang menekankan pada akuntabilitas dan transparansi dari himpunan. Dengan visi mewujudkan HMPSIHI yang harmonis, transformatif, dan terpercaya. Dengan visi dan misi yang dibawa, Tubagus bermaksud untuk melakukan reformasi serta penataan ulang struktur maupun program kerja dari himpunan. Untuk mewujudkan visinya ini, ia ingin menumbuhkan keselarasan dan keserasian dalam rasa, gagasan, dan aksi-aksi himpunan untuk seluruh elemen masyarakat program studi Hubungan Internasional. Dalam usahanya mencapai keterpercayaan dan keserasian ini, Tubagus menitikberatkan pada penting bagi himpunan untuk akuntabel dan transparan agar lebih terbuka kepada mahasiswa Hubungan Internasional secara lebih luas.

Sedangkan calon nomor urut 02, Leonardo, mengedepankan keseimbangan dalam dualitas empati dan profesionalitas. Sepanjang sesi debat, ia menekankan pentingnya empati dan tenggang rasa kekeluargaan antaranggota, agar pekerjaan dilakukan dengan tulus dan senang hati. Ia menamakannya ‘profesionalisme yang murni’. Lebih lanjut, Leonardo menambahkan bahwa himpunan hanya bisa bereksistensi dan berfungsi secara optimal jika himpunan tersebut dan para anggotanya memiliki idealisme dan nilai-nilai krusial. Sebagai perpanjangan visinya, dalam misinya ia memaparkan perlunya penanaman etos kerja karya berdasarkan tanggungjawab dan komitmen dengan kepengurusan yang transparan dan fasilitatif, demi tujuan terjalannya program-program yang mendukung aspirasi mahasiswa.

Visi dan misi masing-masing calon menjadi acuan dasar bagi keduanya untuk menjawab setiap pertanyaan baik dari moderator maupun audiens.

Tubagus, misalnya, ketika ditanyakan mengenai contoh konkrit mengapa himpunan memerlukan transparansi dan akuntabilitas. Tubagus mengkritik kondisi internal himpunan saat ini yang ia pandang cenderung eksklusif dan tertutup. Banyaknya program kerja yang kepanitiannya bersifat tertutup atau close recruitment. Sarat dengan kongkalikong dan nepotisme, dinilai olehnya menghambat kinerja dan efektivitas dari program kerja himpunan itu sendiri, serta meminimalkan peran-peran mahasiswa HI yang lebih luas atas program-program HMPSIHI.

Sedangkan Leonardo mengedepankan nilai-nilai dan hasil positif yang sudah ia dapatkan sebelumnya di himpunan. Dalam menjawab pertanyaan mengenai dasar keinginan dan kepantasan menjadi ketua himpunan, ia mengatakan bahwa ia akan membawa nilai-nilai yang dirasa perlu ke himpunan, meskipun tidak dijelaskan lebih lanjut nilai-nilai apa yang dimaksud. Namun, diimplikasikan adalah bagian sentral dari visinya, empati dan profesionalitas—ingin ia sebarluaskan dan ratakan agar memiliki efek positif bagi semua.

Aspirasi juga menjadi salah satu topik penting dalam debat ini. Bagaimanapun juga, aspirasi menjadi parameter yang efektif dalam menilai manfaat dari suatu program kerja. Suatu kekurangan dalam sistem parameter, pengumpulan, maupun penelaahan aspirasi, seperti yang diimplikasikan kedua calon, dapat berdampak negatif pada program kerja himpunan.

Kedua pasangan calon menekankan pentingnya aspirasi yang berkualitas, tidak hanya sekedar menang kuantitas. Dalam pertanyaan berkaitan dengan parameter keberhasilan, keduanya mengacu pada pengumpulan aspirasi, dengan Tubagus mengemukakan bahwa diperlukan evaluasi jangka-pendek, sedang Leonardo mengatakan bahwa gejala-gejala permasalahan HMPSIHI harus hilang terlebih dahulu, dihitung, kembali lagi, dari aspirasi masyarakat HI. Sistem pengumpulan aspirasi ini, program kerja bernama ‘Kumur’ (Aku Mau Bersuara), dirasa kurang dan tidak representatif atas masyarakat HI. Kedua calon berjanji akan mencari cara untuk memperbaiki progam ini agar himpunan lebih tepat dalam menyelesaikan permasalahan mahasiswa HI Unpar.

Pada sesi tanya jawab yang terakhir, aspek-aspek detil dari masing-masing calon mulai menonjol. Leonardo kembali menekankan pentingnya idealisme dalam himpunan yang ideal. Ia mengatakan bahwa ‘kedewasaan’ sebagai aspek penting dalam program himpunan. Salah satu penonton bertanya mengenai bagaimana sesuatu bisa dinilai ‘dewasa’. “Sifat-sifatnya sudah cukup jelas,” jawab Leonardo menanggapi pertanyaan.

Struktural maupun non-struktural himpunan, bagi Leonardo, harus disatukan dengan rasa kenyamanan dan sense of belonging. “Kita harus membuat mereka (red. masyarakat HI) nyaman,” jelas Leonardo.

Sementara Tubagus menyatakan bahwa setiap aksi himpunan harus didasari data agar tepat sasaran. Ia berencana akan mengembangkan dan meluaskan hak dan kewajiban bagian penelitian dan pengembangan (litbang) dan meningkatkan posisinya. “Litbang sekarang tidak buruk, namun masih sangat bisa dikembangkan,” ujar Tubagus. Serupa dengan Leonardo, ia menyatakan perangkulan non-struktural himpunan tidak semata-mata menjadi tugas mutlak himpunan, melainkan juga harus terdapat keinginan dari pihak-pihak itu sendiri.

Banyak terdapat persamaan di antara dua calon. Selain dari perbaikan ‘Kumur’, program kerja pengumpul aspirasi, dua-duanya juga menginginkan adanya himpunan yang transparan. Tubagus dan Leonardo berpendapat sama bahwa ingin berfokus di internal sebelum melenggang keluar, dan sama-sama menginginkan WH (Warta Himahi) untuk mengkritik kinerja himpunan. Ketika ditanyakan mengenai perbedaan keduanya, bahkan dua-duanya mengakui lebih banyak persamaan di antara mereka. “Kami disini sama-sama ingin memajukan himpunan,” jelas Leonardo.

Moderator kemudian menengahi bahwa jika keduanya sama saja, maka esensi dari debat publik ini akan hilang.

 

Naufal Hanif

Related posts

*

*

Top