Debat Calon Ketua HMPSIHI November 2019: Evaluasi, Ekspektasi, dan Kekecewaan

Calon tunggal Ketua HMPSIHI, Tubagus Taufik ketika mengucapkan kata penutup saat AADC. dok/Reiva Areta

FEATURE, MP – AADC (Awasi dan Amati Diri Cakahim) HMPSIHI (Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional) diselenggarakan Senin (4/11) silam dengan calon tunggal yang merupakan Ketua HMPSIHI periode 2019 ini, Tubagus Taufik Hidayat.

Tubagus Taufik Hidayat kali ini berdiri sendiri pada di ruang 3301 gedung 3 FISIP Unpar. Debat tersebut menghadapkan Tubagus langsung pada audiens yang tak hanya penasaran, tetapi juga menyuarakan kekhawatirannya. Respon audiens bercampur-aduk: beberapa mengakui adanya perubahan pada masa kepemimpinan Tubagus, beberapa yang lain mengungkapkan kekecewaannya.

Debat yang dimoderatori Fransiska Andita dari HI 2016 ini berjalan selama dua setengah jam dan ditujukan untuk, salah satunya, mengevaluasi kinerja susunan pengurus milik Tubagus pada enam bulan terakhir.

Namun, tidak ada yang berubah dari visi, misi, serta tujuan yang dicanangkan oleh Tubagus Taufik. Poin-poin utama dari sejak awal ia akan menjabat tetap dibawa sampai tahun depan. Poin ini meliputi bagaimana ia akan hadir—sesuai dengan slogannya, HMPSIHI Hadir—bagaimana ia akan mentransformasi himpunan secara struktural, dan menekankan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program himpunan.

Ia juga ingin HMPSIHI hadir bagi semua orang. “Adanya pemisahan ‘himpunan’ dan ‘non-himpunan’ menandakan bahwa masih ada pemisahan,” tuturnya. “Padahal semuanya adalah bagian, yang membedakan hanya pengurus dan non-pengurus,” tambahnya. Himpunan yang hadir memang merupakan tagline dalam masa kepemimpinannya, dan hal ini akan dilanjutkan untuk setahun ke depan.

Meskipun visi, misi dan tujuan serasa tidak ada yang berubah, tapi bagaimana ia akan mengeksekusinya belum tentu sama. “Caranya bisa berbeda,” ujarnya. Sebab, menurutnya, masa setengah periode yang hanya enam bulan ini belum bisa dilihat hasilnya, dan masih merupakan masa-masa trial and error. Ia mencanangkan bahwa pengalamannya pada enam bulan terakhir akan digunakan untuk membentuk cara-cara yang dianggap tepat dan sesuai dengan jalannya himpunan.

“(Makanya) pada setengah periode ini membentuk formulasi,” ujarnya.

Pada setengah periode ini, beberapa orang jelas mengutarakan kekhawatiran mengenai ekspektasi yang tidak terpenuhi. “Pasti ada yang menyatakan kekecewaannya” ujarnya. Tetapi, ia memandang banyaknya pertanyaan yang ditujukan audiens padanya sebagai suatu hal yang positif. “Menunjukkan masih ada yang peduli terhadap HMPSIHI,” jelasnya.

Pertanyaan yang disampaikan pada acara memang tajam. Masyarakat HI mempertanyakan visi misi dan keselarasannya dengan visi misi kampus, lalu bagaimana ia melakukan quality control terhadap anggotanya. Pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan moderator juga langsung menuju pada evaluasi, seperti menyoal permasalahan tahunan yang masih ada dan bagaimana partisipasi masyarakat HI dalam himpunannya sendiri masih minim.

Ia sendiri mengakui ada perubahan sudut pandang sebelum dan setelah menjabat selama enam bulan. “Perlu banyak kolaborasi, tidak bisa dilakukan sendiri,” ujarnya. Ia mengakui bahwa ternyata, dari seluruh visi, misi, dan tujuan yang ia canangkan, tidak bisa semuanya dapat hanya dilakukan oleh pengurus, tetapi juga pihak lain yang ternyata memiliki andil besar, seperti pihak universitas.

Mengenai faktor mahasiswa baru, ia mengatakan bahwa partisipasi mereka tentu saja dihalangi oleh peraturan rektor yang baru, yaitu bagaimana mahasiswa baru bisa mendaftar menjadi pengurus himpunan pada semester tiga. Dengan keterbatasan tersebut, ia tetap ingin “menjaga keterlibatan angkatan baru,” lengkapnya.

 

Naufal Hanif || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top