Debat Cakahim Teknik Elektro: Himpunan yang Melibatkan Masyarakat

Suasana debat calon Ketua HMSTEM pada Kamis (7/11) lalu. dok/MP

STOPPRESS, MP – Debat Calon Ketua Himpunan Program Studi Teknik Elektro konsentrasi Mektaronika (HMPSTEM) diadakan pada hari Kamis (7/11) pukul 18.00 WIB di ruang 10122. Debat ini dihadiri oleh kurang lebih 31 orang. 

Debat dimulai dengan pemaparan visi misi oleh kedua calon Ketua Himpunan (Cakahim) yang bernama Wendi Kristianto selaku cakahim dengan nomor urut 1 dan Hernando selaku calon nomor urut 2. Setelah visi misi, debat berlanjut ke sesi pertanyaan dari panelis. Para cakahim diberi pertanyaan mengenai faktor yang mempengaruhi keberhasilan proker dengan feedback dari seluruh bagian mahasiswa Mekatronika.

Wendi Kristianto berkata bahwa koordinasi dan diskusi dengan elemen masyarakat Mekatronika untuk masalah proker sangat diperlukan. “Dalam perubahan proker, himpunanlah yang tahu awalnya,” jelasnya.

“Baru ada masukan. Sekarang (kita) cari solusi bareng-bareng.” Nomor urut 1 berkata tindakan tersebut merupakan solusi yang tepat karena menginginkan perbaikan dari akar permasalahan lewat komunikasi. “Gimana divisinya deketin masyarakat lain,” pungkasnya.

Namun, menurut Hernando, bahwa ia sangat aktif baik di proker HMPSTEM maupun luar HMPSTEM dan juga sudah berusaha berbicara dengan setiap angkatan mengenai hal ini. Ia memberikan penekanan pada pentingnya sosialisasi dengan seluruh elemen mahasiswa Mekatronika mengenai proker dan perlunya kritik jika ada kesalahan dalam pelaksanaanya.

“Kita refleksikan apa yang salah dengan program kita. Kita terbuka aja; lihat dulu apa buruk dan baiknya dan ikutin prosedurnya,” jelas Hernando. Menurutnya, jika ada perubahan minor dalam proker, yang diperlukan hanyalah sosialisasi ke mahasiswa Mekatronika. Namun, apabila konsep proker itu diubah, harus diadakan perundingan kembali.

Kedua cakahim juga ditanyai soal strategi dalam memilih anggota himpunan dan standar yang diterapkan selain nilai IP. Cakahim 2 merespon bahwa ia tidak akan meminta IP. “Ini kan himpunan. Saya ingin membuat himpunan yang kekeluargaan, bukan profesional. Saya ingin mereka (mahasiswa) berkembang lewat himpunan,” jawab Hernando.

Cakahim nomor urut 2 menjawab bahwa meskipun mahasiswa tidak menjadi pengurus himpunan, mereka dapat berpartisipasi dalam proker himpunan. Kompetensi dan kemampuan komunikasi bisa dilatih dan dikembangkan lebih lanjut.

Gak mungkin seseorang join proker (dengan) berharap bisa dirangkul pemimpinnya dan pemimpin menilai berkompeten. Lebih ke hubungan timbal balik,” jelasnya.  “Dan jika ada masukan dari masyarakat, itu akan berlaku sebagai stepping stone, apakah mau ambil tempat berpijak itu atau nggak.”

Setelah sesi panelis, dibuka sesi tanya jawab antara cakahim dan mahasiswa. Seorang mahasiswa menanyakan, perihal strategi para calon ketua himpunan dalam memilih anggota himpunan. “Apakah ada standar tertentu selain IP?” Adapun jawaban dari cakahim nomor urut 2 adalah tidak akan meminta riwayat IP. “Pengalaman berpengaruh, tapi ini kan himpunan, saya ingin buat himpunan kekeluargaan, bukan profesional saja,” jelas Hernando.

Sedangkan Wendi merespon perihal pengurus himpunan yang berhak untuk ikut proker juga layaknya mahasiswa pada umumnya. 

Berbagai pertanyaan mengenai teknis himpunan memunculkan pertanyaan yang paling mendasar perihal rekam jejak para calon itu sendiri, yaitu, “Seberapa jauh anda menderita untuk himpunan?”

Baik nomor urut 1 dan 2 mengatakan hal yang bermakna sama, yaitu mereka memaparkan hal-hal yang pernah mereka lakukan untuk himpunan. Hernando mengatakan, bahwa ke depannya ia akan belajar lebih banyak lagi. Sedangkan Wendi menganggap HMPSTEM seperti rumah dan tempat tinggal. “Ke depannya, saya tidak akan bekerja sendiri,” pungkasnya.

 

Alfonsus Ganendra, Hanna Fernandus || Brenda Cynthia

 

*perbaikan dilakukan pada Jumat, 15 November 2019 pukul 23:01 dengan mengubah beberapa pernyataan masing-masing calon Kahim yang tertukar.

Related posts

*

*

Top