Dampak Covid-19 Terhadap Mahasiswa Unpar

Para Mahasiswa FISIP saat Ospek Fakultas 2019. dok/MP

LIPUTAN, MP – Pandemi coronavirus akhirnya telah menarik respon dari pihak kampus Unpar. Tak hanya himbauan yang telah dikeluarkan sejak tanggal 4 maret, pada 15 maret silam Unpar mengikuti langkah kampus-kampus lain yaitu meniadakan pertemuan tatap muka dan mempersiapkan kegiatan belajar-mengajar, termasuk ujian tengah semester yang tengah berlangsung, dengan metode daring via IDE.

Unpar juga meniadakan semua kegiatan tatap muka langsung yang melibatkan kehadiran pihak luar, melarang pegawai melakukan perjalanan dinas, dan meminta mereka yang berasal dari wilayah beresiko tinggi untuk melakukan isolasi diri. Namun, dampak langkah-langkah pencegahan penyebaran COVID-19 tidak hanya sampai di situ, tetapi juga mengubah–jika tidak bisa dikatakan mengganggu–kegiatan mahasiswa pada umumnya.

Segera setelah Rektor mengumumkan penundaan UTS dan persiapan pembelajaran metode daring, Perpustakaan Unpar meniadakan pelayanan tatap muka, seperti peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan, dan hanya memberikan layanan secara online. Hal ini pertama dicanangkan dari tanggal 16 sampai 28 Maret 2020, namun akan dievaluasi lagi untuk waktu-waktu berikutnya. Segala bentuk layanan administrasi, termasuk perpanjangan peminjaman, hanya bisa dilakukan secara daring melalui surel library@unpar.ac.id

Meskipun begitu, perlu diperhatikan bahwa perpustakaan Unpar memiliki fasilitas daring yang cukup luas, termasuk koleksi jurnal elektronik gratis seperti Proquest dan Emerald, yang bisa diakses kapan dan dimana saja. Namun, untuk katalog dalam Wiley, Sage, dan Springer, mahasiswa perlu mengajukan permohonan melalui email terkait.

Selain itu, pelaksanaan tes TOEFL yang sudah terjadwal dibatalkan, termasuk pendaftaran tes baru. Tak hanya itu, kini mahasiswa mencetak dan mengambil sertifikat secara daring, termasuk permohonan konversi hasil tes di luar Unpar. Mahasiswa yang telah membayar untuk melakukan tes, mengajukan permohonan sertifikat, maupun konversi tetap berlaku dan tidak hangus. Mengingat perlunya tes TOEFL bagi kelulusan mahasiswa, maka pembatalan ini akan mendapat prioritas jika menyangkut dengan syarat kelulusan atau sidang mahasiswa.

Mengenai pembelajaran, bagaimana dengan layanan IDE yang biasa digunakan mahasiswa maupun dosen sebagai sarana belajar-mengajar secara daring? Media Parahyangan masih menghubungi pihak BTI selaku penyelenggara tentang kesiapan IDE, namun pada dua hari silam (19-20 Maret) layanan IDE sementara ditutup atas alasan ‘kegiatan backup dan resize server IDE’. Mengingat tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang memadai untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara daring, maka pihak kampus melalui BKA (Biro Kemahasiswaan dan Alumni) juga sedang mendata mahasiswa-mahasiswa yang akan kesulitan mengikuti seluruh kegiatan melalui IDE. 

Tak tanggung-tanggung, sebagai tindak lanjut dari surat edaran Rektor yang sama, mahasiswa kini sudah tidak boleh mengadakan kegiatan di area kampus sampai waktu yang tidak ditentukan. Hal ini sudah diberlakukan untuk mahasiswa Fakultas Teknik sebelumnya, dimana mereka yang ingin masuk kampus harus memakai surat izin, namun kali ini bersifat universal untuk seluruh mahasiswa Unpar. Mereka yang bersikeras atau merasa sangat perlu berkegiatan di kampus harus meminta izin dengan Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA).

Aktivitas mahasiswa akan berlangsung sedemikian serupa dan mengalami perubahan drastis dalam waktu yang tidak ditentukan—selama wabah coronavirus masih menggurita, maka perubahan-perubahan ini dirasa perlu dan penting untuk dilakukan.

Menjauhi pertemuan tatap muka dan menjaga kesehatan adalah cara-cara agar penyebaran virus ini bisa dikendalikan dan bisa ditangani oleh kapasitas sistem layanan kesehatan kita–apapun selain itu dapat berdampak buruk bagi semua orang, termasuk mahasiswa Unpar.

Penulis: Naufal Hanif

Editor: Novita

Related posts

*

*

Top