Covid-19 Menunjukkan BEM Unpar Tidak Relevan

OPINI, MP — Jika Anda membuka akun media sosial Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perguruan tinggi negeri seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, atau Institut Teknologi Bandung, Anda akan menemukan berbagai pengumuman agenda diskusi, kajian, atau pernyataan sikap dalam rangka mengawasi penanganan pemerintah atas Covid-19. 

Sekarang kita coba lihat BEM Unpar. Alih-alih dipenuhi oleh agenda diskusi atau sikap dari organisasi yang merepresentasikan mahasiswa Unpar di tingkat eksternal, BEM kita justru masih menjalankan agenda-agenda yang biasa dilakukan pra-Covid: membuka dan menjalankan berbagai program kerja yang diadakan dengan skala besar.

Keputusan tersebut tentu saja sangat tidak rasional mengingat kondisi yang tidak pasti atau bahkan cenderung memburuk hingga saat ini. Berbagai studi telah menemukan bahwa praktik physical distancing kemungkinan akan terus diterapkan hingga akhir tahun ini. Seharusnya BEM serta ketua lembaga lainnya cukup pintar memahami situasi tersebut sehingga tidak perlu menunggu kepastian dari pihak universitas.

Akibatnya, sangat terlihat bahwa apa yang sedang dilakukan BEM saat ini adalah sebuah optimisme buta yang dilakukan untuk menjaga relevansinya sebagai sebuah event organizer berkedok organisasi mahasiswa. Karena apabila berbagai acara tersebut tidak lagi dilakukan, maka apalagi alasan mereka bergabung dengan BEM? Satu-satunya identitas BEM, yaitu sebagai EO terancam akibat pagebluk ini. 

Konsepsi BEM sebagai event organizer sudah berkali-kali menjadi diskursus di kalangan mahasiswa Unpar. Hal tersebut ditengarai oleh kegiatan BEM (atau dulu LKM) yang tidak mewakili esensi dari organisasi mahasiswa: advokasi, pengabdian, dan pengembangan. Sejak sebelum Covid pun, kegiatan intelektual atau advokatif masih luput dari kegiatan BEM. Orientasi selalu mengarah kepada berbagai kepanitiaan yang bahkan belum jelas manfaatnya untuk  masyarakat. 

Meskipun sempat membawa nuansa positif di awal jabatan, nampaknya kepemimpinan Hakkinen Malik dan Ruth Evelyne masih belum berhasil mengubah orientasi tersebut. Visinya yang ingin mewujudkan BEM Unpar yang “akomodatif dan progresif”  masih belum terwujud apabila BEM masih terus berorientasi pada kepanitiaan dibanding hal-hal strategis lainnya.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Optimisme buta terhadap berbagai program kerja membuat BEM Unpar merasa ‘kebingungan’ ketika krisis seperti ini melanda. Konsekuensinya adalah aktivitas yang dilakukan pun merupakan status quo dari agenda sebelumnya, tanpa ada adaptasi atau perubahan ke strategi yang lebih relevan. Padahal, banyak hal-hal yang seharusnya BEM Unpar lakukan saat ini, terutama apabila ingin menuju BEM Unpar yang “akomodatif dan progresif”.

Pertama, tentu saja perlu diapresiasi langkah BEM untuk melakukan eksplorasi kondisi mahasiswa pada masa Covid-19. Namun, yang sangat disayangkan adalah laporan yang disajikan tersebut hanya terlihat sebagai gimmick dan tanpa substansi yang jelas. Masih belum jelas apa kesimpulan dari temuan tersebut dan apa tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan. Padahal, dari data tersebut ditemukan berbagai permasalahan yang dialami mahasiswa, terutama terkait pembayaran UKT dan persediaan kuota. Kemana advokasi yang seharusnya dilakukan oleh BEM terhadap kasus tersebut? Jumlahnya memang mungkin tidak seberapa, tetapi bukan berarti BEM dapat menutup mata terhadap permasalahan tersebut.

Sebagai Advokat dari mahasiswa Unpar, semestinya dalam acara tersebut BEM memposisikan diri sebagai pejuang kepentingan. Namun yang terjadi kala itu bukanlah suatu organisasi yang membawa kepentingan mahasiswa, tetapi lebih kepada sekadar orang-orang yang kenal dengan birokrat kampus, mempersilahkan mahasiswa untuk menyampaikan keluh kesah.

Kedua, belajar dari BEM kampus lain, seharusnya yang menjadi titik orientasi BEM saat ini adalah Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat). Namun nyatanya, Kastrat sepertinya belum menjadi prioritas dari kabinet Malik dan Ruth. Departemen ini memberikan berbagai informasi dan diskursus dalam rangka mengawasi penanganan yang dilakukan oleh pemerintah.  

Namun sayangnya, budaya EO masuk juga ke dalam departemen yang seharusnya bernuansa akademis ini. Proker dan kajian hanya dilakukan secara ‘terprogram’ atau sesekali saja tanpa ada keberlanjutan, demi memenuhi rencana program yang dirancang di awal. Hal tersebut dan terjebak dalam birokrasi yang diciptakan sendiri kian menghilangkan makna ‘strategis’ dari departemen tersebut.

Ketiga, masa-masa seperti ini adalah waktu yang tepat bagi BEM, terutama Departemen Kastrat untuk kembali belajar dan meningkatkan kapasitasnya dalam rangka mewujudkan fungsi yang sebenarnya. Seperti yang kita tahu juga bahwa tidak ada program pembangunan kapasitas di BEM, sehingga para anggota Kastrat atau departemen lainnya belajar secara trial and error.

Akibatnya, meskipun sekali lagi perlu diapresiasi mereka telah mengeluarkan kajian ilmiah, tetapi masih jauh dari kata memuaskan. Terlihat sekali bahwa kajian tersebut hanya dibuat sekedar untuk menuntaskan sebuah program fungsional, bukan karena kesadaran untuk membuatnya.

Hal tersebut terlihat dari kajian yang masih tersusun tidak sistematis dan tidak mendalam. Sumber-sumber akademis yang telah teruji pun masih luput dalam daftar referensi kajian tersebut.  Akibatnya, kajian tersebut dapat dikatakan hanya berada pada level deskriptif dan tidak menggambarkan posisi BEM Unpar secara kokoh.

Selain itu, posisi BEM Unpar yang berada dalam kajian tersebut pun masih sangat abstrak dan lemah. Hal ini diakibatkan belum jelas juga posisi ideologis dari BEM ada dimana, sehingga waktu ini menjadi saat yang tepat bagi BEM untuk mempertanyakan kembali posisi ideologisnya sehingga dapat mengeluarkan kajian yang lebih bagus dan kuat. Ini juga berkaitan dengan apa dampak yang dapat/ingin diberikan oleh hasil kajian-kajian yang dilakukan. Tanpa adanya suatu orientasi yang jelas, sulit bagi kajian tersebut untuk membawa dampak. Bagaimana BEM memposisikan diri akan berkaitan secara langsung dengan tujuan akhir (end goal) dari pengkajian, bahwa apakah hanya sekadar menjabarkan ulang masalah (deskriptif), ataukah ingin membedah dan memberi solusi (analitis).

Senat Mahasiswa Kemana?

Saya rasa, seharusnya opini saya ini pertama kali muncul dari anggota Senat Mahasiswa sebagai lembaga yang berwenang untuk mengawasi kinerja dari BEM ataupun lembaga lainnya yang berada dibawah PM Unpar. Posisi kalian sebagai Senator (dari Latin: Senex: old man, elder) semestinya memposisikan diri sebagai lembaga yang mengimbangi kinerja dari eksekutif (BEM, HMPS) karena anggapan bahwa kalianlah orang-orang bijaksana untuk dapat mewakili kepentingan pemilih.

Hal ini seharusnya dilakukan melalui fungsi pengawasan itu tadi, yaitu dengan melihat dan memperhatikan pekerjaan dari BEM dan HMPS dalam merespon pandemi ini. Saat melakukan pengawasan tadi, SM harusnya mempunyai standar untuk bagaimana semestinya target pengawasan mereka itu (BEM dan HMPS) bertindak. Standar tersebut hanya dapat disusun jika mereka sendiri peka dan sadar akan kebutuhan dari para konstituen. Maka diperlukan suatu upaya masif dari lembaga legislatif ini untuk secara aktif kembali kepada para pemilih dan mendengar aspirasi. Kritik terhadap SM (atau dulu MPM) adalah kinerja mereka yang sebetulnya tidak jelas: tidak produktif dalam membuat peraturan, dan cenderung selalu membela lembaga eksekutif dikarenakan ‘sama-sama PM Unpar’.

Dengan adanya suatu target jelas dalam beroperasi, seperti misalnya bagaimana menjaring aspirasi secara baik di tengah pandemi, seharusnya kritik yang sudah tergolong basi itu dapat dengan mudah disangkal oleh SM periode perdana ini. Fungsi legislatif yang secara umum dapat dibagi menjadi tiga: legislation (legislasi: membuat peraturan), representation (representasi: mewakili), dan oversight/supervision (pengawasan: mengawasi), tentu saja membuat SM akan selalu dan senantiasa produktif.

Di masa krisis seperti ini, kinerja SM pun semakin dipertanyakan. Apa sebetulnya yang dilakukan oleh SM saat ini? Apakah pantas dana beasiswa disisihkan untuk sekelompok orang yang tidak melakukan fungsi apa-apa?

Justru di masa seperti inilah peran SM seharusnya dapat semakin relevan. Selayaknya peran DPR yang mengawasi tindakan pemerintah, SM seharusnya turut mengawasi kinerja Malik-Ruth dan terus mempertanyakan tindakan-tindakan BEM yang tidak rasional ini. Bukan hanya sebatas business as usual.

Kembali ke ‘Akomodatif dan Progresif’

BEM Unpar memiliki kesamaan yang unik dengan rezim Jokowi. Sama-sama optimis bahwa masalah COVID-19 akan segera selesai. Bahkan rezim telah membuat timeline dan optimis aktivitas ekonomi dapat dijalankan seperti semula pada Juni 2020. Kesamaan lainnya adalah dengan banyaknya gimmick namun substansi kosong.

Dengan terus memaksakan acara di saat situasi tidak mendukung, kian memperkuat konsepsi bahwa BEM hanyalah sebuah EO. Apabila Malik dan Ruth ingin membawa BEM Unpar menuju ‘akomodatif dan progresif’, maka inilah saatnya. Masa-masa krisis ini seharusnya menjadi momentum perubahan orientasi BEM Unpar untuk semakin keluar dan menjadi cambukan kepada seluruh jajaran BEM bahwa organisasi kemahasiswaan bisa lebih dari event organizer.

Teruntuk panitia yang terlanjur mengerjakan program kerja karena tuntutan senior di berbagai lembaga masing-masing, ini juga merupakan saatnya untuk bersikap dan melawan para kepala lembaga yang bertindak irasional. 

Dengan adanya pandemi ini, tatanan kerja yang biasanya dilakukan oleh PM Unpar (terutama BEM dan HMPS) telah mengalami disrupsi masif. Diperlukan suatu kepemimpinan yang inovatif untuk melalui masa yang sulit ini. Sekarang saatnya hadir PM Unpar 2.0.

Miftahul Choir, Brenda Cynthia, Matthew Adit

Penulis

Related posts

3 Comments

  1. agnes said:

    halah lain kali tulis aja di judulnya opini lah biar ga bikin kesel

  2. Fadli said:

    Opininya sudah bagus, ditulis rapi dan punya tujuan yang konstruktif. Saran aja, untuk setiap opini yang dipublibkasikan, jangan lupa menuliskan secara eksplisit, “opini tidak merepresentasikan posisi MP”, boleh di awal/akhir tulisan, agar dapat secara utuh dikonsumsi pembacanya. Overall, great article. Keep it up.

*

*

Top
Atur Size