[CERPEN] Jati Diri

Ilustrasi kontributor cerpen "Jati Diri".

Oleh: Ricky Rialdi Sinaga, mahasiswa Hubungan Internasional 2018

 

23 Oktober 2004, hari ini aku dan keluarga ku bersiap diri untuk berangkat ke kampung halaman ibu ku. Kami berkunjung hanya untuk sekadar bersilahturahmi, sudah lebih dari 3 tahun keluarga ku tidak melihat saudaranya, terbelenggu rasa rindu, datanglah kami kesana untuk melepas belenggu ini. Menanyakan kabar, melihat apa yang berubah, dan bernostalgia untuk apa yang telah terjadi. Tentu seorang saudara yang terpisah sangat jauh terkadang memiliki rindu yang kuat, terutama dari keluarga ku yang bersuku Batak, mereka memiliki sifat kekeluargaan yang sangat kuat.

Kami duduk di pesawat yang akan membawa kami ke sana, aku duduk pada bagian kanan, beruntung aku mendapatkan tempat di sebelah jendela sehingga aku bisa melihat pemandangan yang jarang kusaksikan langsung dengan mata ku. Di sebelah ku ada ayah ku, dia sedang asik dengan bukunya. Di bagian kiri pesawat di sana ada ibu ku dan adik ku. Aku iseng melihat-lihat di sekitar ku, dan ku ketahui ada dua turis asing duduk di belakang ku, dan sisanya hanya orang Indonesia. Mereka yang tinggal di Bandung dan ingin pergi ke Medan dan berbahasa Batak, dari informasi itu aku bisa mengasumsikan bahwa mereka pergi dengan niat yang sama dengan keluarga ku, yaitu bertemu dengan keluarga mereka di kampung halamannya.

Pesawat sudah mulai lepas landas, siap untuk menjelajahi langit Khatulistiwa. Beberapa menit kemudian pesawat sudah berada di langit. Aku yang duduk dekat jendela bersyukur dapat melihat daratan dan lautan yang ada di Indonesia. Beberapa kulihat daratan penuh dengan gedung dan rumah-rumah, kadang ladang, dan paling sering yang kulihat adalah hamparan laut. Semakin tinggi pesawat terbang, segala yang di bawah nampak semakin kecil, lama-kelamaan hilang tertutupi oleh awan-awan putih. Aku melihat fenomena itu sangat bersyukur dapat menyaksikan pemandangan di Indonesia yang jarang kusaksikan ini.

“Bapa, mau ngapain nanti kita di sana?” ucap ku kepada Ayah untuk membuka percakapan sekaligus menghabiskan waktu. “Ya kita ngumpul sama saudara-saudara kau di sana. Nanti kau ketemu sama mama tua, dan opung mu dan saudara kau lainnya, harus baik-baik kau sama mereka,” balas Ayah ku. Aku cukup heran dengan sebutan ‘mama tua, dan opung’ sejujurnya aku pernah mendengar sebutan-sebutan tersebut, biasanya aku mendengar itu kalau sedang ada perkumpulan orang Batak di rumah keluarga ku.

“Apa maksud opung sama mama tua pa?” tanya ku. “Amangon.. kalau ada kumpul di rumah kita jangan diam di kamar, main sama la­e mu balas ayah ku, sekarang aku tidak tau apa sebutan lae itu. “Mama Tua itu kakaknya mama yang tertua, kalau Opung artinya nenek mu”

“Kalau lae?

“Saudara mu yang seumuran dengan kau, bisa kau panggil teman”

“Ohhh…”

“Nanti kalau kau udah sukses, jangan lupa sama marga mu, Sinaga. Biar saudara-saudara mu yang bermarga Sinaga pun kenal kau.”

Mengingat itu, nama ku memang ada tertulis Sinaga, persisnya di akta kelahiran ku tertulis seperti ini, Laurensius Ruis Riyadi Sinaga, manusia yang dilahirkan di Bandung. Saat aku kecil dulu, aku kira Sinaga tidak berarti apa-apa, nama itu hanyalah nama pada umumnya yang memberikan identitas individual kepada manusia. Teringat oleh ku bahwa ada manusia yang dinamakan Sinaga pula pada akhirannya, seperti Anicetus Bongsu Antonius Sinaga seorang uskup emiretus Katolik, Ferdinand Sinaga pesepak bola, Paulus Sinaga nama ayah ku, adik-adikku pun memiliki nama akhiran yang sama dengan ku dan beberapa teman ku yang memiliki nama serupa pada akhirannya. Untuk menjawab rasa keinginan tahuan ku aku bertanya pada Ayah, kenapa banyak yang memiliki nama akhiran Sinaga. Ayah memberi tahu ku bahwa mereka yang memiliki akhiran nama Sinaga merupakan saudara-saudara ku, meskipun aku belum pernah melihat atau berkenalan dengan mereka, mereka tetap saudara ku.

Membanyangkan itu rasanya aku bangga, beberapa orang yang bermarga Sinaga tentunya pasti ada yang sukses, aku harap aku bisa menjadi orang yang sukses pula di masa depan. Tapi realita pada umumnya yang memberikan kesenangan dan kesedihan terkadang membuat ku untuk berpikir dua kali. Orang yang bermarga Sinaga pun ada yang masih berjuang untuk hidup. Tapi aku menyakinkan diri ku, siapa pun mereka, mereka adalah keluarga ku, yang sudah sepatutnya aku perlakukan sebaik-baiknya.

Tinggal beberapa menit lagi kami sampai di Bandara Kualanamu. Aku pun menengok ke jendela lagi untuk melihat seperti apa tanah dan air di Sumatera, kebanyakan apa yang kulihat sama seperti apa yang kulihat di Jawa Barat, seperti perkotaan, pedesaan, dan lainnya. Rasa kagum ku tidak berkurang, mungkin lebih sedikit karena mengingat apa yang kusaksikan ini adalah tanah kelahiran orang tua ku dan leluhurku. Tapi rasa kagum ku menjadi sama kembali karena aku mengingat bahwa aku dilahirkan di tanah Jawa Barat, 50-50.

Untuk mencapai kampung halaman Ibu ku tepatnya Silalahi dekat dengan danau Toba, kami mesti menghabiskan waktu sekitar 3-5 jam dengan kendaraan mobil. Aku sangat lelah, sehingga aku tidak bisa menikmati perjalanan nanti. Akhirnya aku tertidur.

Tiba di sana aku dibangunkan oleh Ayah. Aku melihat jam tangan untuk mengetahui waktu, ternyata pukul dua siang waktu kami tiba di Silalahi. Turun dari mobil, aku dan keluarga ku berjalan kaki menuju perbukitan, pengalaman ini sama seperti aku pergi ke desa-desa yang ada di kaki gunung. Kulihat disekitar ku di tempat yang kecil ini banyak pengalaman tercurahkan, kulihat ada anjing menggonggong karena kehadiran kami, anak-anak bermain kelereng, melihat ke danau Toba bisa kulihat para nelayan sedang beraktivitas di sana, dan banyak kejadian yang terjadi di tempat ini. Jika aku berusaha dan cukup kreatif, mungkin aku bisa menulis cerita dari apa yang kulihat ini.

Setelah beberapa menit kami berjalan akhirnya kami tiba di rumah yang kata ibu rumah opung ku. Tiba di sana aku bisa melihat saudara ibu ku memanggil dia dengan bahagia, mereka langsung berpelukkan dan saling cium pipi kiri kanan.

“Ohhh,, ini Riyadi. Oh anakku, dah besar kau,” ucap seseorang yang ibu ku panggil kaka, dia memelukku dan mencium pipi kiri kanan ku. Begitu kami sampai di sana, keluarga ku sangat di sambut ramah oleh mereka. Kami dipersilahkan masuk, di dalam kulihat ada seseorang sedang bekerja, aku tidak tahu bagaimana menyebutkannya tapi mereka sedang membungkus ikan yang mungkin akan dijual. Keluarga ku menyalami mereka, begitu pula aku.

Aku duduk di lantai melihat kumpulan foto-foto yang tertempel di dinding. Ada foto bayi, foto pernikahan, foto keluarga, bahkan foto saat mereka sedang makan bersama, aku bisa melihat ibu ku di gambar itu saat dia muda bersama dengan saudaranya. Dari cara foto tersebut dibingkai aku bisa mengetahui betapa berharganya setiap orang yang ada di dalam foto tersebut. Apa yang kulihat merupakan suatu keindahan secara batin dan lahir.

Hari-hari berjalan seperti biasa, sebenarnya banyak hal yang menarik untuk keceritakan tapi jika aku menuliskan itu, apa yang kutulis merupakan novel, padahal aku sedang tidak berniat untuk menjadikan cerita ini sebuah novel. Tapi aku bisa menceritakan satu kejadian yang berkesan bagiku. Sehari sebelum kami pulang, kami mengadakan makan malam bersama, sebelum makan aku sempat ngobrol dengan adik ku. Aku bertanya “Kenapa mama tua ngomongin kita, terus banyak ngucapin ‘barbahasa batak’ ke bapa mama?”

“Ya bang mereka ngomongin kau karena kau paling gede, abang kuliah jurusan sastra perancis, bisa mewarisi budaya orang lain, tapi budaya sendiri gak dipikirin.”

“Ohhh… gitu?”

“Olo…” (artinya “iya” dalam bahasa batak)

Memikirkan itu memang ada benarnya. Untuk mudah menuangkan apa yang kupikirkan ini aku akan menceritakan apa yang terjadi saat makan malam. Setelah makan malam, kami berkumpul dan duduk melingkar, semua keluarga hadir, kami berkumpul untuk membicarakan apa yang ada di hati dan pikiran kami. Mencurahkan semuanya untuk didengar dan keluarga akan merespon itu sebaik-baiknya. Opung ku berbicara kepada ku dengan bahasa Batak, sebenarnya opung tau aku tidak bisa berbicara Batak tapi entah kenapa untuk berkomunikasi dengan ku dia tetap memakai bahasa Batak, alhasil aku tidak tau apa yang dia katakan, menyadari itu rasanya sedikit miris bagi ku.

Mama tua berbicara pada ku juga, tapi dia menggunakan bahasa Indonesia karena mengerti aku. Dia berpesan kepada ku untuk tidak lupa pada keluarganya di kampung. “Anak ku adalah adik atau abang mu ya Riyadi. Aku adalah kaka mama mu, tapi aku pun adalah mama kau juga, suami ku pun bisa kau anggap bapa kau. Ingat keluarga mu ya Riyadi, karena darah dan daging mu adalah darah daging orang Batak, kau harus nerima itu, jangan nerima saja seharusnya kau berbahagia untuk itu, jadi ya Riyadi karena kau yang akan mewarisi keluarga mu karena kau anak pertama, junjung budaya yang ada di dalam kau.”

Yah apa yang ada di dalam diriku terdapat darah dan daging batak, aku harus menerima dan mensyukuri hal itu.  Itu adalah jati diri ku maka aku tidak boleh lupa tentang siapa aku dan sejarah yang membuat siapa aku.

28 Oktober 2004 merupakan tanggal kepulangan kami. Aku pulang dengan membawa banyak cerita dan kesan yang tidak mungkin untuk dilupakan. Kenang-kenangan yang dapat kupikirkan untuk menghabisi waktu saat di perjalanan pulang nanti.

Kami duduk di pesawat dengan tujuan ke bandara Soekarno-Hatta dan kebetulan lagi aku duduk dekat pada jendela. Aku kembali lagi ke bandara yang diberi nama dwitunggal tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Mengetahui hal itu entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang lebih tinggi lagi. Aku yang terkadang skeptis ini memberi pertanyaan pada diriku sendiri “Boleh kah aku berbangga akan budaya ku sendiri?” Yah akan kupikirkan itu saat pesawat ini akan lepas landas.

Tidak lama pesawat lepas landas, menjelajah langit, kulihat dari jendela tanah kelahiran orang tua dan leluhurku semakin lama semakin mengecil seiring pesawat terbang lebih tinggi. Melihat itu aku sadar bahwa aku pun merupakan bagian dari entitas yang menaungi setiap perbedaan budaya, aku bagian dari Indonesia pula dan hal itu harus aku banggakan sebagaimana aku membanggakan budaya ku. Tapi aku mengerti bahwa mereka siapapun dapat sukses karena bantuan orang lain pula, dan orang lain di sini bisa siapa saja. Setiap manusia memiliki perannya dalam membuat manusia lain berharga pula, dan aku memercayai itu.

Ferdinand Sinaga tidak mungkin dapat menjadi pesepak bola nasional yang handal tanpa bantuan orang lain, yang pastinya mereka tidak hanya bersuku Batak saja. Ferdinand pasti sadar kesuksesan yang dia raih dan apa yang menjadikan dia bersinar sekarang itu karena berkat dari orang yang di sekitarnya. Dia sadar bahwa dia tidak hanya ditolong oleh orang sesama sukunya saja, orang dari suku lain pun tentunya membantu dia dengan toleransi yang baik. Oleh karena itu dia bersyukur. Untuk menunjukkan rasa syukurnya itu dia berusaha mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Sebenarnya aku tidak yakin bahwa pandangan ku terhadap Ferdinand dapat dibenarkan begitu saja, Ferdinand sendiri belum tentu setuju tentang pandangan ini terhadap dia. Yah ini semua hanya proses berpikir ku untuk mengetahui jawaban yang sebelumnya kutanyakan pada diri ku sendiri.

Mengetahui bahwa aku hidup tidak hanya dengan sesuku ku, aku ingat terhadap teman-teman ku seperti Rahman dari suku sunda, Raka dari suku Jawa, Maria yang terlahir dari keluarga  Papua, dan Sherafim dari suku Tionghoa. Aku mengenal baik mereka sebagaimana mereka mengenal baik tentang diriku. Aku yakin bahwa mereka pun memiliki kebanggaannya tersendiri terhadap budaya suku mereka sendiri, dan mereka tentunya memiliki cerita yang pantas untuk menggambarkan betapa bahagianya menjadi suku tertentu, sebagaimana aku bangga akan budaya ku. Apa yang dibanggakan orang terkadang patut untuk dihargai. Rahman sangat bangga dengan jati dirinya menjadi orang sunda, oleh sebab itu aku harus menghargai dia sebagai orang Sunda, begitupula dengan teman-teman ku lainnya mereka pantas untuk dihargai karena jati dirinya.

Menyadari hal itu, aku memiliki banyak perbedaan untuk dihargai. Pada titik ini aku sadar pula bahwa Indonesia lah yang dapat menghargai dan menjaga budaya serta perbedaan yang begitu banyak. Cerita kehidupan ku tidak hanya tentang suku ku saja, banyak orang lain pula yang hadir dalam kehidupan ku, dan aku berterima kasih kepada mereka yang memberikan ku kehidupan. Pada titik ini aku sadar betapa indahnya menjadi seorang Indonesia, seseorang yang mampu berterima kasih terhadap banyaknya perbedaan tetapi dapat menjadikannya satu dan terkristalisasikan menjadi entitas yang disebut Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika dan Sumpah Pemuda adalah pernyataan simbolis untuk menggambarkan rasa terima kasih itu. Mereka yang memahami itu adalah orang Indonesia. Aku patut bangga akan suku ku karena itulah jati diriku, oleh sebab itu aku mesti paham akan budaya ku sendiri. Tapi Indonesia pun merupakan bagian dari diriku, karena kehidupan ku tidak hanya sebatas suku ku saja, oleh sebab itu aku berterima kasih menjadi orang Indonesia.

Selesai menjawab pertanyaan yang ku ajukan sendiri, posisi pesawat sangat begitu tinggi menembus awan, dari ketinggian ini apa yang kulihat sangat kecil. Meskipun kecil, aku tahu bahwa itu sangat berharga.

Related posts

*

*

Top