[Cerpen] Di Balik Senyum Kemerdekaan

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

Ada pepatah berkata, “mati satu tumbuh seribu”.

Baginya, ketika ia mati, takkan ada lagi yang sepertinya.

Arya baru berusia 6 tahun ketika ia pertama bertemu kematian. Walau sudah hampir 20 tahun berlalu, ingatannya masih sangat jelas.

Ia berbaring di atas tikar di dalam kamarnya. Ibunya menyuruhnya untuk tetap di kamar sampai ia kembali. Ia cukup beruntung tidak perlu susah payah bekerja membawa batu seperti Enes dan Harsa. Apalagi setelah melihat Harsa pulang ke rumahnya berlumuran darah.

Tidak, Harsa tidak mati. Namun ia tak pernah melihat Harsa keluar rumah lagi. Ibunya bilang Harsa sedang sakit. Namun ia tahu Harsa tidak sakit. Ia tahu hal itu ketika tak sengaja melihat Harsa keluar rumahnya, berjalan tanpa kedua kaki dan matanya hilang.

Ia tidak takut. Banyak orang terluka. Ini dunia yang keras. Ibunya selalu bilang begitu.

Arya mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Ia menimbang sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu. Di sana, berdiri Enes dengan wajah pucatnya.

“Kamu gak ke kota ambil batu?” tanya Arya bingung. Lelaki itu menggeleng lemah. Tangan kecilnya mengangkat sebuah benda berwarna kuning cerah.

“Kamu nyuri pisang dari mereka lagi?” tanya Arya lagi.

“Buatmu,” jawab Enes.

Arya melihat keadaan Enes. Celananya robek dan tubuhnya kusam. Bahkan saking kurusnya Enes, ia dapat melihat tulang tubuh Enes, menempel langsung dengan kulitnya. Namun ia hanya diam saja, karena kondisinya sama seperti Enes.

Kedua anak itu keluar rumah, memilih untuk duduk di bawah sinar matahari ketimbang dinginnya rumah. Arya mengupas pisang itu dan melahapnya. Ia belum makan sejak kemarin pagi.

Ketika asyik makan, beberapa lalat kemudian terbang mengerumuni Enes. Bau tak sedap dicium Arya. Enes sendiri masih diam, duduk dengan kepala menunduk. Arya tak tahan dengan baunya, ia pun memilih untuk masuk ke rumah, meninggalkan Enes sendiri.

Sejak itu, Arya tak pernah bertemu Enes.

Anak itu meninggal, dengan luka menganga di kepalanya, yang entah kenapa tak terlihat oleh Arya. Arya kira kematian itu sesuatu yang besar, penuh tanda-tanda. Nyatanya, kematian di sini harganya kecil. Orang-orang mati dengan mudah, kehilangan nyawa dalam hitungan detik. Darah dan tangis menggema dimana-mana, semua meneriakan kerinduan mereka, kehausan mereka akan kebebasan.

Kalau tahu Enes akan meninggal, ia pasti akan memberikan pisangnya.

.

Namun, Arya bukan anak kecil. Kini, bambu runcing sudah temannya sehari-hari.

Di siang hari ia dijajah, malam hari ia melawan.

Semangat kemerdekaan menggebu-gebu dalam diri Arya. Sudah muak ia melihat keluarganya dipukuli akibat kesalahan kecil. Sudah jijik ia melihat temannya ditangkap tanpa alasan, kembali dengan kepala bocor dan tubuh penuh luka-luka. Ia sudah cukup marah.

Baginya, kemerdekaan rasanya sangat jauh. Ia yang hanya seorang diri ini bisa apa?

Tiap malam ia melawan, berusaha mengusir Nippon dari tempat mereka. Namun kelompok mereka terlalu kecil dan lawan mereka terlalu besar. Ia takkan pernah bisa.

Ia sudah berusaha memimpin mereka, namun ia tak cukup kuat.

Suatu hari, seorang gadis datang bergabung. Kecil, pendek, namun suaranya sangat keras. Ia dipanggil Abaya, yang berarti wanita pemberani. Dan menurut Arya, namanya sangat cocok dengan kepribadiannya.

Kisahnya kemudian dimulai.

.

Entah sudah berapa kali Arya mengayunkan bambu runcingnya, tiap ayunannnya selalu lebih kuat dari sebelumnya. Hari sudah sangat gelap, namun ini satu-satunya waktu mereka bebas. Dilihatnya sekeliling dan banyak anak sebayanya melakukan hal yang sama. Mereka semua berlatih. Arya akhirnya melihat sebuah wajah yang ia rindukan.

“Abaya!” teriak Arya, mengundang perhatian dari anggota lainnya. Namun mereka hanya senyum-senyum sendiri. Mereka tahu siapa Abaya bagi Arya.

“Maaf, ibuku menahanku tadi. Aku nyaris tidak bisa kesini,” keluh Abaya.

“Kenapa lagi memangnya?” Arya menggenggam tangan Abaya yang dingin.

“Dia ingin menjodohkanku dengan bangsawan itu lagi,” jawab Abaya, tubuhnya terasa nyaman di dekat Arya.

“Dan kau lari?”

“Masa kamu mau aku menikahinya! Aku kan sudah punya laki-laki,” jawab Abaya sambil memeluk Arya.

“Tentu saja aku hanya bercanda.”

“Lagipula aku punya tanggung jawab disini. Tak bisa kulepas begitu saja hanya dengan menikahi bangsawan bodoh,” jelas Abaya panjang.

Gadis itu lantas mengambil bambu yang digunakan Arya tadi, mulai berlatih menggunakannya. Arya lagi-lagi terkagum melihat besarnya kekuatan yang disimpan dalam tubuh mungil itu. Ia tahu Abaya kuat, namun ini perang. Manusia mati dengan mudah. Ia tak mau Abaya mati.

Kedua tangannya tanpa sadar memeluk Abaya dari belakang. Gadis itu berteriak terkejut, dan segera menghentikan latihannya.

“Kau bisa saja terluka tadi!”

Arya hanya diam. Dieratkannya pelukannya, seolah ia tak mau kepunyaannya ini lepas diambil dunia. Disandarkannya kepalanya pada bahu mungil gadis itu. Abaya seolah menyadari ada yang salah.

“Kenapa? Ibumu marah kau ikut beginian lagi?” tanya Abaya.

“Ibuku takkan pernah setuju aku ikut kelompok pemberontak seperti ini,” jawab Arya.

“Lantas apa?”

Arya tidak menjawab. Sementara anggota lain sibuk beratih, ia hanya diam memeluk Abaya dari belakang. Ia selalu bertanya-tanya, kalau situasinya berbeda, kalau ia dilahirkan di tempat dan waktu yang berbeda, kira-kira akan seperti apa ia? Akan sebahagia apa ia dengan Abaya?

“Besok, jangan pergi,” jawab Arya. Abaya melepas pelukan Arya dan menatap matanya.

“Arya…” jawab Abaya.

“Kita tidak kekurangan orang. Kamu tidak perlu kesana,” elak Arya.

“Kalian butuh aku di sana.”

“Aku butuh kamu di sini, aman.”

Tangan Abaya terangkat, menghapus keringat yang menghiasi pelipih kekasihnya. Sejak ia bergabung, Arya selalu khawatir. Ia selalu takut Abaya akan mati. Namun semua manusia akhirnya akan mati. Nilai seseorang ditentukan dari apa yang ia perbuat selama ia hidup, dan Abaya ingin jadi orang yang bernilai.

“Tidak ada kata aman disini, kalau kita hanya diam. Aku akan ikut, tak peduli kamu setuju atau tidak,” jawab Abaya keras kepala.

Arya tahu ia takkan bisa membujuk Abaya yang keras kepala. Dipeluknya gadis itu dengan erat.

“Jangan mati di depanku,” bisiknya.

“Kau juga.”

.

Arya tak menyangka mereka akan menang.

Pasukan kecilnya yang bahkan berisi orang-orang yang tidak terlatih berhasil membobol markas pertahanan Jepang. Merebut senapan-senapan serta senjata serta membunuh pimpinan mereka disana. Ia benar-benar tak mengira mereka akan berhasil. Bukannya ia tak percaya pada kelompoknya. Ini perang. Ia berhak takut dalam perang.

Ia tengah berada dalam kampnya ketika Abaya berjalan masuk. Gadis itu buru-buru menjatuhkan senjatanya dan berlari memeluk Arya. Dibalasnya pelukan gadis itu.

“Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka kan?” tanya Arya khawatir. Ia belum bertemu Abaya sejak penyerangan.

“Harusnya aku yang tanya begitu!” teriak Abaya. “Apa sakit?”

“Ini?” Arya menunjuk mata kanannya yang kini bolong. “Sedikit.”

“Bohong! Kenapa kamu terus yang terluka?”

“Jangan menangis,” ujar Arya lembut.

“Berisik.” Abaya meninggalkan Arya sendiri, namun ia tahu gadis itu tidak marah. Ia hanya butuh waktu sendiri, sampai semuanya tenang.

Tangannya terangkat, meraba mata kanannya yang berlumuran darah. Perjuangan belum selesai, pasukan Jepang bisa kapan saja kembali menyerang mereka. Dan kalau pada percobaan pertama mereka ia kehilangan matanya, entah harga apa yang harus dibayar untuk kemerdekaan nantinya.

.

“Besok, jangan pergi.”

Tangan Arya dengan sibuk mengelus uraian rambut Abaya. Gadis itu selalu memotong pendek rambutnya, supaya tidak risih saat latihan. Ia saja sangat cantik dengan rambut pendek, lebih cantik dari gadis-gadis luar itu. Entah bagaimana kalau Abaya rambutnya panjang.

“Jawabanku tetap sama,” ujar Abaya dengan berani. “Aku ikut.”

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Jangan takut. Aku tidak akan pergi kemana-mana,” jawab Abaya.

Malam itu keduanya menghabiskan waktu memandangi bintang, di depan hangatnya api yang menyala-nyala. Meski hanya dengan satu mata, pandangannya akan Abaya tidak berubah. Wanita pemberani, berbeda dengannya yang penakut.

Arya mengecup kening Abaya dengan pelan.

“Jangan mati di depanku.”

“Kamu juga.”

.

Dari jauh terdengar teriakan-teriakan pemuda. Banyaknya asap dan debu membuat Arya kesulitan melihat, namun ia tahu suara itu dari kelompoknya.

“Berhasil! Kita berhasil! Jepang jatuh!” teriaknya berulang-ulang.

Hati Arya dipenuhi rasa bahagia. Ia lantas segera berlari mencari Abaya. Hari itu malam, gelap. Namun karena latihan terus menerus dalam kegelapan, kini matanya bisa melihat dengan baik. Ia berlarian dan melihat pasukannya saling berpeluka, air mata bahagia mengalir. Mereka pantas menangis. Kini hanya tinggal sedikit lagi langkah untuk mengusir orang asing itu.

Namun demikian, kaki Arya tak berhenti berlari. Masih ada sosok yang belum ia temukan dalam kerumunan. Aneh, padahal biasanya ia dengan cepat menemukan gadis itu.

Hatinya langsung tenang begitu melihat Abaya. Gadis itu penuh luka di sekujur tubuhnya, namun matanya berlinangan air mata. Senyumnya sangat lebar, sampai-sampai membuat Arya turut tersenyum melihatnya.

“Kita menang!” teriaknya, melempar senjatanya ke tanah.

Arya mengangguk mengiyakan, senyum terplester di wajahnya. Namun jarak di antara keduanya terlalu jauh, sehingga Abaya tak dapat melihat anggukkan Arya.

Arya pun berjalan mendekati Abaya. Gadis itu dengan setia diam di tempatnya, menunggu Arya untuk datang mendekatinya.

Matanya tiba-tiba menangkap sesosok prajurit berseragam, tergeletak tak sadarkan diri di tanah yang dingin. Namun ia tak peduli, fokusnya kini hanya pada Abaya. Ia perlahan mengikis jarak di antara keduanya, ketika tiba-tiba ia mendengar suara senapan. Dekat sekali dengannya.

Dan detik berikutnya, tubuh Abaya jatuh ke tanah, dengan kepalanya yang bocor.

Arya mematung, tak bisa bergerak. Ia hanya dapat melihat Abaya jatuh, nyawanya menghilang. Nafasnya tercekat. Meski demikian, gadis itu masih tetap membuka matanya. Tatapannya selalu saja menuju Arya. Bahkan di saat-saat terakhir sekalipun.

Arya menyesal tidak menahan Abaya lebih keras.

.

Arya tak tahu sejak kapan ia lebih dekat dengan kematian, dibanding dengan teman-temannya. Dari sekian banyak kematian yang ia saksikan, kematian Abaya paling menyiksanya.

Jujur, ia marah. Marah pada dirinya sendiri. Kenapa pula ia masih punya semangat untuk merdeka? Apa gunanya merdeka kalau ia tak bisa dengan Abaya? Bukan kemenangan namanya kalau kita kehilangan orang yang disayangi.

Ia kesal. Ia marah, kenapa ia dilahirkan di dunia seperti ini? Apa sesusah itu untuk memperoleh kemerdekaan. Berhari-hari ia tak makan, ia tak minum. Ia menolak bertemu teman-temannya, bahkan menolak bertemu Harsa. Ia menolak melakukan apa-apa.

Ia tak mau merdeka kalau orang-orang kesayangannya semua pergi.

Pintu ke kampnya tiba-tiba terbuka.

“Gawat, Arya! Mereka datang lagi!”

Pemuda itu memperingatkan Arya dan segera pergi membantu teman-temannya. Arya menghela nafasnya. Ia lelah. Dulu, ketika masih ada Abaya, ia takut mati. Ia takut meninggalkan Abaya sendiri dan gagal melindunginya. Kini, ia tak lagi takut mati.

Dulu ia berperang supaya tidak mati. Kini, ia berperang agar bisa menang.

Apa yang akan dilakukan Abaya pada posisinya? Arya mendengus pelan. Apa ia perlu bertanya? Gadis itu tentunya tanpa ragu akan mengambil senjatanya dan mulai melawan. Bahkan tanpa senjata sekalipun Abaya akan tetap keluar dan melawan. Terus melawan tanpa henti.

Gadis itu selalu berani, tapi ia tak pernah jadi berani.

Ia tak punya apa-apa lagi. Semuanya sudah direnggut habis. Tangannya kemudian mengambil penutup mata yang dibuatkan oleh Abaya. Memakainya membuatnya merasa seolah Abaya ada dengannya, turut berperang di sampingnya.

Ia tak mau merdeka kalau orang-orang kesayangannya semua pergi. Namun nyatanya, mereka tak pernah pergi. Mereka ada di sini bersamanya, selalu.

Abaya, sekarang giliranku untuk jadi berani.

 

Kontributor: Agnes Zefanya, mahasiswi Teknik Industri 2018.

 

Related posts

*

*

Top