[Cerpen] Apa Benar Indonesia Sudah Merdeka?

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

“Kek, apa benar Indonesia sudah merdeka?” tanya seorang cucu pada kakeknya ketika mereka sedang menonton siaran langsung upacara kemerdekaan di Istana Negara lewat televisi.

“Oh jelas,” ungkap si Kakek dengan lantang. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya sang Kakek kebingungan dengan pertanyaan cucunya.

“Kek, apa benar Indonesia sudah merdeka?” dengan polosnya si cucu kembali bertanya.

“Tentu saja!” Dengan suara yang lebih keras si kakek menjawab. “Apa kamu buta sampe tidak bisa ngeliat bagaimana kita sekarang? Dulu ketika kakek masih seumuran kamu, kakek berjuang bersama para pahlawan, memasuki hutan-hutan untuk bergerilya agar bangsa ini tetap berdiri tegap dan setara dengan bangsa Eropa yang dulu menjajah kita!” lanjutnya dengan menggebu-gebu sembari mengingat masa remajanya dahulu.

“Kalau kita merdeka, lalu kenapa kita masih miskin kek?” tanya si cucu.

“Kita ini merdeka artinya kita ini bebas dari penindasan penjajah, kita bebas menentukan nasib sendiri, kita bebas bersuara. Nah kalau kamu miskin, bodoh, melarat, sengsara itu urusanmu,” balas sang Kakek. “Gini, kalau kamu mau kaya raya, pintar, terpandang, bahagia kamu harus mengusahakannya sendiri, harus berani bersaing, harus berani berkorban, tidak ada yang akan menolong, itu bukan urusan merdeka atau terjajah,” lanjutnya.

“Kalau begitu, kita belum merdeka dong?” tanya sang cucu.

“Kita merdeka, bukan berarti kita bisa mendapatkan apa yang kita mau, kalau kamu mau mendapatkan apa yang kamu mau, kamu harus mengusahakannya sendiri, tapi dengan cara yang baik, karena kemerdekaanmu dibatasi oleh kemerdekaan orang lain” jawab sang kakek.

Di televisi, bendera merah putih telah digerek hingga setengah tiang, lagu Indonesia Raya sudah setengah jalan dikumandangkan. Si kakek terbawa suasana sampai tak sadar ikut memberi hormat di depan televisi, teringat ketika ia berjuang saat masa revolusi. Tayangan itu melemparkan dirinya ke saat ketika ia ikut bergerilya memasuki hutan-hutan bersama para pejuang lain.

Teringat pula dulu ketika ia dengan gagahnya menembaki tentara-tentara kolonial, juga haru bahagia ketika ia bersama teman seperjuangannya mendengar proklamasi kemerdekaan lewat radio, atau ketika mendengar kabar bahwa tentara NICA telah ditarik mundur dari wilayah NKRI. Si Kakek merasa bangga telah ikut andil untuk mengibarkan sang Merah Putih di seantero Nusantara.

Upacara itu juga mengingatkannya pada kejadian-kejadian setelah NICA pergi dari Indonesia, saat pembangunan yang dijanjikan hanya berjalan di Jawa saja, ketika ia ikut dengan PRRI untuk menuntut pemerataan pembangunan, ketika PRRI dibasmi dan ia dicopot dari TNI dan disulitkan mencari pekerjaan. Ingatan-ingatan itu membuat mata sang kakek berkaca-kaca, dalam hati ia pun bertanya,

“Apakah kita benar-benar merdeka?”

 

Kontributor: Pena Merah

Related posts

*

*

Top