Opini articles

Skandal Festival Merah Putih: Lesson Learned

Skandal Festival Merah Putih: Lesson Learned

Ditulis oleh: Miftahul Choir, anggota PUSIK Parahyangan. OPINI, MP – Permasalahan seperti Festival Merah Putih (FMP) tidak terjadi dalam setiap periode. Tidak sering Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) mengalami permasalahan terkait laporan keuangan salah satu acara dan mendapatkan gugatan dari masyarakat. Konsekuensinya adalah LKM dan pihak lain yang terkait harus mengambil respon yang tidak pernah diambil

Cashless: Jembatan Menuju Perekonomian Indonesia Maju

Ditulis oleh: Edsel Jeremy, mahasiswa Matematika 2016. OPINI, MP – Cashless adalah kata yang terdiri dari dua kata, yaitu cash yang artinya uang tunai dan less yang artinya kurang atau lebih sedikit. Secara harfiah, cashless memiliki arti yaitu lebih sedikit uang tunai atau kurang uang tunai. Tetapi makna sesungguhnya dari cashless adalah penggantian uang dalam bentuk

PM Unpar Butuh ‘Kebijakan Luar Negeri’

Ditulis oleh Miftahul Choir, anggota Pusik Parahyangan. OPINI, MP – Pada dinamika nasional yang terjadi pada Agustus-September lalu, PM Unpar selaku organisasi yang mewakili mahasiswa di tingkat universitas tidak memiliki respon atau tindakan untuk menyikapinya. Belum melakukan kajian dan tidak merepresentasikan mahasiswa Unpar secara keseluruhan dijadikan alasan absennya tindakan tersebut. Hal tersebut menunjukan bahwa PM

[OPINI] Keraguan 91 Tahun Kemudian

Oleh: Tanpa Suara   Sumpah Pemuda menjadi awal lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia. Mengapa tidak? Pemuda dari seluruh pelosok Nusantara hadir dan mengikrarkan persatuan mereka sebagai sebuah bangsa. Pada zamannya, gerakan masif ini tergolong menakjubkan, mengingat perlunya usaha yang bersungguh-sungguh untuk mengatasi masalah komunikasi dan interaksi antarwilayah. Saya sendiri merasa Sumpah Pemuda adalah mahakarya pemikiran para

[OPINI] Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Persatuan Bangsa Bagi Mahasiswa Unpar

Oleh: Muhammad Rizky, mahasiswa Hubungan Internasional 2019   Hari ini, tepat 91 tahun yang lalu, para pemuda berkumpul dari berbagai daerah di Indonesia, mendeklarasikan persatuan melalui 3 poin penting yang tertuang pada ikrar yang dinamakan Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah persatuan Indonesia dalam menghimpun perjuangan bangsa yang kala itu sifatnya masih kedaerahan. Mungkin,

Buzzer: Propaganda Disinformasi yang Dipelihara

OPINI, MP – Buzzer bukan sekedar caci-makian, tuduhan, atau omongan yang tak berisi—hari-hari ini, buzzer adalah suatu persoalan yang mengkhawatirkan akademisi sekaligus praktisi. Ia bagian dari politik praktis, suatu alat baik untuk pemerintahan maupun untuk oposisi (meskipun akan dijelaskan bahwa sebagian besar praktik dilakukan pemerintah). Ia bagian dari suatu usaha membentuk dan menggeser pendapat orang-orang

RKUHP: Ketika Seks Masih Tabu di Indonesia

Belakangan ini, mahasiswa bersamaan dengan masyarakat sipil bergerak dalam suatu aksi untuk menentang Revisi Undang-Undang yang dianggap “kacau”, salah satunya RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Beberapa isi dari RKUHP sendiri memang cukup dipermasalahkan oleh publik. Apalagi di dalamnya terdapat pasal-pasal yang dianggap ikut campur terhadap kehidupan pribadi masyarakat. Hal tersebut tentu saja mengancam kehidupan

Editorial: Himbauan LKM Tanpa Tindakan

EDITORIAL, MP – Senin (23/9) lalu, terjadi demonstrasi yang dimulai dari Monumen Perjuangan hingga Gedung DPRD Jawa Barat. Beberapa mahasiswa Unpar turut mengikuti demonstrasi tersebut, tetapi sama sekali tidak membawa nama LKM (Lembaga Kepresidenan Mahasiswa) atau setara dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Lalu, tepat pada Senin malam, akun instagram @lkm_unpar mengirimkan pernyataan sikap mereka bahwa

Papua Berhak Menentukan Nasibnya

OPINI, MP – Senin, 2 September lalu, saya mendapatkan undangan peliputan aksi mahasiswa Papua di Gedung Sate, Bandung. Berbekal dengan aplikasi Grab, saya meluncur ke Gedung Sate setelah urusan di kampus selesai. Setiba di sana, saya heran. Saya melihat bahwa aksi tersebut dikelilingi oleh banyak orang, non-aparat, dan massa aksi memiliki mobil yang di kiri kanannya

[Opini] Ga Merdeka-Merdeka Banget, sih

Disclaimer: tulisan ini merupakan opini sederhana yang amburadul dari seorang mahasiswa semester muda yang belum pernah menulis sebelumnya. Teringat pada kolom Prof. Ariel Heryanto di Tirto.id, yang mengatakan bahwa sebenarnya proklamasi kemerdekaan kita memang disusun secara terburu-buru, mengambil kesempatan dalam kesempitan, saat Jepang sudah mulai lengah. Demikian juga Pancasila yang dirumuskan sebagai hasil kompromi terhadap

Top