Cashless: Jembatan Menuju Perekonomian Indonesia Maju

Ilustrasi dari opini "Cashless: Jembatan Menuju Perekonomian Indonesia Maju".

Ditulis oleh: Edsel Jeremy, mahasiswa Matematika 2016.

OPINI, MP – Cashless adalah kata yang terdiri dari dua kata, yaitu cash yang artinya uang tunai dan less yang artinya kurang atau lebih sedikit. Secara harfiah, cashless memiliki arti yaitu lebih sedikit uang tunai atau kurang uang tunai. Tetapi makna sesungguhnya dari cashless adalah penggantian uang dalam bentuk fisik ke dalam bentuk digital atau elektronik. Indonesia pun sedang dalam pergerakan menuju cashless society. Akan tetapi apa dampak yang ditimbulkan dari cashless society kepada negara Indonesia? Apa yang perlu dilakukan agar cashless society dapat memajukan perekonomian di Indonesia?

Munculnya berbagai platform yang dibentuk oleh institusi keuangan maupun non keuangan merupakan sebuah aksi dari pertumbuhan masyarakat cashless. Beberapa contoh diantaranya adalah Ovo, Go-pay, Dana, Link-aja, Sakuku, dan masih banyak lagi. Namun, selain aplikasi–aplikasi tersebut, kartu ATM dan kredit juga merupakan langkah awal dari terciptanya cashless society. Dengan berkembangnya teknologi di Indonesia yang begitu cepat, perlahan–lahan masyarakat lebih condong menggunakan “dompet digital” yang berbasis teknologi.

Dampak yang ditimbulkan dari perubahan ini bermacam–macam. Mulai dari dampak positif hingga dampak negatif. Dengan mengurangi kehadiran uang secara fisik, negara dapat mengalokasikan dana percetakan uang tunai kepada sektor lainnya. Pada tahun 2017, penghematan biaya cetak di Indonesia mencapai angka 16 triliun rupiah. Kemudian dikarenakan transaksi yang dilakukan secara digital, kita dapat melacak dan merekam kegiatan keuangan. Setiap data yang ada tercatat dalam sistem di dalam perusahaan – perusahaan pemilik aplikasi sehingga dapat memudahkan untuk melacak jejak keuangan konsumen maupun produsen. Hal ini dapat mengurangi bahkan menghilangkan “uang gelap” yang beredar di pasar. Kelebihan lain yang dapat dirasakan adalah keefisiensian konsumen karena tidak perlu membawa berlembar–lembar uang untuk keperluan sehari–hari. Sebagai gantinya, hanya perlu membawa kartu dan smartphone untuk melakukan transaksi.

Tetapi di sisi lain, terdapat dampak negatif yang ditimbulkan dari cashless society di Indonesia. Keadaan geografis Indonesia yang unik justru dapat menjadi sebuah batu sandungan untuk menuju cashless society yang merata. Dikarenakan untuk melakukan transaksi diperlukan koneksi internet yang memadai, sementara beberapa daerah Indonesia yang masih memiliki kendala dengan kualitas sinyal. Dampak negatif lainnya adalah, walaupun terhindar dari bentuk kejahatan seperti pencurian atau pencopetan, transaksi berbasis elektronik ini tetap memiliki celah untuk para pelaku kejahatan seperti hacker. Kemudian, untuk dapat memahami sistem kerja daripada cashless perlu pengetahuan teknis yang sebagian orang awam masih belum dapat mengerti. Hal ini dapat mengantarkan pada penipuan kaum jahil yang dapat merugikan. Selain itu, ada budaya di Indonesia, yaitu “aji mumpung”.  Semakin banyak perusahaan yang menawarkan produk pembayaran membuat konsumen harus memilih dari salah satu pilihan yang banyak. Setiap aplikasi menawarkan kelebihan masing-masing dan membuat konsumen harus “membagi” uang yang mereka miliki. Hal lain yang menjadi dampak negatif adalah, dikarenakan konsumen tidak perlu memegang uang fisik, akhirnya membuat konsumen lupa akan pengeluaran uang yang sudah mereka lakukan. Dengan penawaran berbagai macam diskon, cashback, potongan harga, dan promo membuat konsumen sulit untuk mengontrol pengeluaran sehari–harinya. Akhirnya konsumen berakhir memiliki perilaku konsumtif a.k.a boros.

Jadi, bagaimanakah Indonesia dalam menghadapi pergerakan untuk “menghilangkan” uang tunai? Apa yang diperlukan negara ini agar cashless society dapat memajukan perekonomian Indonesia? Mengutip dari apa yang Menteri Keuangan Negara Indonesia katakan, Ibu Sri Mulyani, perlu setidaknya dua hal untuk mendukung kesiapan Indonesia dalam menghadapi ”masyarakat tanpa uang tunai”. Pertama, attitude masyarakat. Masyarakat sendiri harus berperan aktif dan mendukung perubahan ini. Perlu kebijakan dalam memilih produk atau aplikasi, kebijakan dalam mengeluarkan uang, kemauan untuk mempelajari sistem yang ada, keterbukaan akan hal baru, dan hal–hal lain yang mencerminkan dukungan akan perubahan perekonomian Indonesia. Dan yang kedua, financial institution atau institusi keuangan yang mendukung. Selain masyarakat sebagai konsumen, institusi keuangan pun perlu meningkatkan kinerja dan kapabilitas untuk menciptakan instrumen keuangan yang mendukung. Hal tersebut tetapi tidak lepas dari infrastruktur Indonesia yang juga harus ditingkatkan dan lebih merata. Selain dari kedua hal kutipan Ibu Sri Mulyani tersebut, satu poin tambahan dan pandangan saya untuk memajukan perekonomian Indonesia melalui cashless society. Perlu adanya kerja sama antara pemerintah, institusi keuangan maupun perusahaan pembuat aplikasi, dan masyarakat sebagai konsumen yang saling mengerti kebutuhan dalam memajukan perekonomian negara dan bukan hanya mementingkan keuntungan pribadi.

Sebagai penutup, apakah cashless society memajukan atau justru membuat Indonesia semakin terpuruk? Setiap orang memiliki peranan dalam membentuk nasib masa depan keuangan Indonesia. Baik produsen, konsumen, pemerintah, dan masyarakat adalah penentu apakah cashless dapat menjadi jembatan untuk memajukan perekonomian negara atau justru menjadi bumerang penghancur perekonomian negara.

Related posts

*

*

Top