[Resensi] Birds of Prey: Pencarian Emansipasi yang Tersirat

dok/Cinemags

Diusir dari rumah, dikirim ke biara, bekerja di Arkham Asylum yang merupakan rumah sakit jiwa Gotham City, bertemu Joker, jatuh cinta, putus. Cathy Yan, sutradara Birds of Prey (2020) memberikan alur singkat tersebut dalam bentuk kartun yang mengisahkan kehidupan lampau Harley Quinn (Margot Robbie) untuk membawa penonton memahami hal-hal yang menginspirasi “kegilaan” Harley Quinn.

Tokoh Joker tidak ada sama sekali di film ini, sehingga membuat penonton mungkin penasaran apa yang sudah Joker lakukan–dalam bentuk adegan nyata di film–hingga membuat hubungan antara mereka berdua binasa, bukan hanya berdasarkan curhat pribadi Harley Quinn saat monolog Harley Quinn pada awal film.

Ada sangkut pautnya dengan Joker, kegilaan Harley Quinn dalam menyelesaikan suatu permasalahan juga tergolong ekstrim, sehingga bisa tertebak koneksi antara mereka berdua. Ketika Harley Quinn meledakkan pabrik kimia dengan sebuah truk, dan ide itu didapatkan secara perlahan setelah ia mengalami hal yang menyakitkan, sama halnya seperti Joker di film Joker (2019) yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, ketika ia membunuh secara mendadak seorang presenter talk show Murray Franklin (Robert De Niro) karena dianggap sudah menghina Joker lewat komentarnya. Kebahagiaan setelah melampiaskan kekesalan tersebut terbayarkan oleh ulah yang mereka buat yang kemudian menimbulkan trademark berupa kekacauan massal. Dan masih banyak kegilaan lainnya yang dilakukan oleh Harley Quinn untuk menyelesaikan suatu “perkara”, dengan cara yang tidak bisa ditebak tentunya.

Namun, bukan hanya kegilaan Harley Quinn yang menjadi primadona dalam film tersebut. Pertemuan antara berbagai perempuan, dengan berbagai latar belakang yang menghantui mereka, membuat film ini menjadi semakin sarat makna – secara tersirat – mengenai unjuk gigi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, atau dengan kata lain, emansipasi yang tersirat. Dengan berbagai masalah yang mereka alami, ditambah dengan alur yang menceritakan semua latar belakang mereka sebelum alam semesta mempertemukan mereka dengan cara yang unik. Seperti Cassandra Cain (Ella Jay Basco) bertemu dengan Harley Quinn karena “terikat” oleh tujuan yang sama, yaitu berlian milik keluarga Bertinelli, keluarga yang dibunuh oleh sekelompok mafia atas perintah Roman Sionis dan berlian tersebut juga diincar oleh Sionis. Satu-satunya orang yang selamat dari insiden tersebut yaitu Helena Bertinelli (Mary Elizabeth Winstead), merencanakan balas dendam terhadap Roman Sionis.

Berbagai alur yang sedemikian rupa berhasil diatur dengan baik oleh Cathy Yan, dengan memperlihatkan bahwa perempuan – terutama dimata lelaki – memiliki nilai yang rendah serta kurang diapresiasi. Seperti pada adegan Reene Montoya (Rosie Perez) saat berhasil memecahkan beberapa kasus namun tidak pernah mendapat apresiasi dari pihak kepolisian dan bahkan partnernya sendiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memecahkan kasus by herself.

Untuk jenis film DC, film Birds of Prey dengan alur campuran – maju dan mundur – jauh lebih jelas dan lebih bisa dimengerti ketimbang film DC sebelumnya yang tergolong lebih lama dan terasa lebih membosankan, karena alur cerita yang terlalu banyak menyuguhi drama serta konflik batin antara satu superhero dengan superhero yang lain ketimbang actionnya. Karena untuk genre film superhero, kebanyakan penonton akan membandingkan dua rumah film superhero, yaitu DC dan Marvel. Bisa dipastikan, untuk film Marvel, adegan action perkelahian superhero jelas menjadi daya tarik tersendiri. Hal tersebut didukung oleh penikmat superhero yang  juga akan menunggu adegan action dengan berbagai plot twist yang menjadikan film tersebut enak untuk ditonton. Terlebih dengan keberadaan Computer-Generated Imagery (CGI) yang semakin mumpuni.

Film ini merupakan pengalaman kedua Cathy Yan dalam menjadi sutradara film layar lebar setelah film Dead Pigs. Jadi, apresiasi untuk film Birds of Prey dan Cathy Yan yang sudah berani untuk mulai merombak kemonotonan film DC yang sudah ada sebelumnya. Termasuk memasukkan paham-paham yang relevan dengan kondisi sekarang dan dikemas dalam pribadi superhero serta manusia biasa yang ikut terlibat didalamnya, yaitu makna kesetaraan yang membuat kelima perempuan tersebut menjadi manusia yang tidak biasa.

Alfonsus Ganendra

Related posts

*

*

Top
Atur Size