Bertanya Mengenai Beasiswa COVID-19

Bertanya Mengenai Beasiswa COVID-19

MP–Hampir genap setahun perkuliahan Unpar dilakukan secara daring, tepatnya sejak pengumuman tanggal 15 Maret 2020 lalu. Seperti yang sudah diketahui oleh semua orang, pandemi ini jelas berdampak pada sektor ekonomi, tak luput kemampuan ekonomi keluarga mahasiswa. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pihak kampus, dan disebutkan secara spesifik ketika muncul protes akan kenaikan UKT, adalah bantuan beasiswa.

Walaupun secara nyata ada mahasiswa yang terdampak cukup berat dari segi ekonomi, keuangan masih menjadi salah satu isu yang rawan–dan juga ‘tabu’–untuk dibahas secara terbuka. Hal-hal seperti beasiswa pun tidak luput dari keengganan ini, sehingga tidak banyak beredar informasi mengenai beasiswa selain pengumuman yang terbatas pada teknis prosedurnya. Selain itu, tidak banyak mahasiswa penerima beasiswa yang bersedia untuk berkomentar ataupun membahas lebih lanjut terkait bantuan yang diterima mereka.

Untuk mengulik lebih dalam mengenai beasiswa yang sering didengar oleh mahasiswa Unpar, pihak Media Parahyangan berkesempatan mewawancarai salah satu mahasiswa penerima bantuan beasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya. Wawancara ini terkait proses dan tindak lanjut penerimaan beasiswa, serta efektivitasnya.

Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa sebelum pandemi, ia sudah pernah mendaftarkan diri untuk beasiswa dari Unpar, yaitu beasiswa Dharmasiswa yang ditujukan untuk mereka yang tidak mampu secara ekonomi. “Untuk semester ganjil ini, aku ikut (mendaftar) beasiswa bantuan COVID-19,” ujarnya.

Ia lalu menjelaskan mengenai prosedur seleksi beasiswa, di mana seleksi dimulai dengan wawancara perseorangan, “Kita biasa diwawancara satu per satu dan diajukan berbagai pertanyaan mengenai penghasilan keluarga, masalah finansial yang dialami, dan semacamnya.” Menurutnya, proses ini cukup memuaskan pada pendaftaran beasiswa Dharmasiswa.

Mengenai kriteria atau faktor spesifik yang membuat seseorang layak menerima beasiswa Dharmasiswa, narasumber kami mengaku tidak mengetahui hal tersebut secara ekstensif. Tetapi, menurutnya, pertanyaan yang diberikan selama proses wawancara sudah menyiratkan, “Bahwa kriterianya itu mereka lihat dari gaji orang tua kita, kesulitan ekonomi yang lagi kita alami, pengeluaran rumah tangga, dan lain-lain.”

Terkait nominal yang didapatkan dalam program beasiswa Dharmasiswa, narasumber kami menyebutkan bahwa ia mendapatkan bantuan sebesar 5 SKS, atau sekitar 1,5 juta, “Dan segala uangnya otomatis dipakai untuk membayarkan tagihan kuliah kita di semester itu (saat mendaftarkan beasiswa).” Ia tidak tahu mengenai nominal yang didapatkan mahasiswa penerima beasiswa lainnya. “Kalau aku sih (uang beasiswa) segitu sudah membantu, meskipun kalau bisa lebih banyak lebih baik,” ia berkomentar.

Beralih ke beasiswa bantuan COVID-19, prosedur yang ditempuh untuk mahasiswa bisa mendapatkan bantuan kurang lebih sama dengan prosedur beasiswa sebelumnya. Seluruh mahasiswa yang mendaftar bantuan beasiswa COVID-19 mendapatkan bantuan sebesar 6,6 juta. Jelas ini merupakan nominal yang lebih besar dari beasiswa sebelumnya, tapi narasumber kami menceritakan permasalahan dari beasiswa bantuan ini. Ia menjelaskan, “Beasiswa ini sebenarnya lebih nggak jelas sampai sekarang karena aku dan 50-an penerima bantuan ini (sampai) sekarang digantungin.”

Narasumber kami menyebut bahwa memang ada bukti bahwa mereka menerima bantuan tersebut, tapi bantuan itu tidak mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk Semester Ganjil 2020/2021. “Kita memang dapat 6,6 juta itu, tapi baru setelah pembayaran kuliah untuk semester ganjil sekarang sudah lewat—jadinya uang itu ga otomatis terpakai dan masih tersimpan di sistem (masuk ke dalem “kelebihan pembayaran”),” ujarnya. Untuk tindak lanjut setelah menerima uang tersebut, mahasiswa tersebut berkata bahwa belum ada pemberitahuan yang jelas. “Apakah bakalan otomatis terpakai untuk pembayaran semester selanjutnya atau enggak kami ga tahu.”

Mahasiswa tersebut kemudian menunjukan tangkapan layar percakapan sebuah grup Whatsapp untuk para penerima beasiswa bantuan COVID-19, di mana ia juga menjadi anggota grup tersebut. Dalam tangkapan layar tersebut, terlihat bahwa salah seorang mahasiswa penerima beasiswa lainnya menanyakan hal yang sama seperti yang diceritakan oleh narasumber kami, yaitu mengenai bantuan yang belum terpakai. Pertanyaan tersebut ditanggapi dengan jawaban dari perwakilan pihak kampus yang menyatakan akan memeriksa terkait situasi tersebut.

Sekilas, tidak ada yang janggal mengenai percakapan tersebut. Tapi setelah diperhatikan lebih lanjut, percakapan yang dimaksud oleh narasumber kami ternyata terjadi sebelum tanggal 3 November 2020 dan merupakan percakapan terakhir di grup tersebut. Ini berarti bahwa tidak ada kabar apapun setidaknya selama dua setengah bulan terakhir hingga penghujung Semester Ganjil 2020/2021.

Mengenai kurangnya informasi tindak lanjut, narasumber kami mengatakan bahwa mereka (mahasiswa penerima bantuan) hanya mengasumsikan bantuan ini akan otomatis terpakai untuk Semester Genap 2020/2021. Ini pun belum mencakupi kasus jika mahasiswa yang seharusnya bisa menggunakan bantuan saat semester ganjil ternyata lulus pada semester berikutnya. Tidak ada informasi lebih terkait apapun tindak lanjut dari pihak kampus, menurut narasumber kami, setidaknya sampai artikel ini ditulis.

Terakhir, narasumber kami berkomentar mengenai keengganan untuk membuka informasi terkait beasiswa. “Menurutku sih, selama ini informasi yang kita sebar dengan consent sendiri dan kita hanya mengharapkan pelayanan yang baik, ya ga masalah,” ia menambahkan, “Tapi kembali lagi, anak-anak beasiswa kayaknya ga suka protes banyak sih karena kita mah senang-senang aja dapat keringanan pembayaran–sekecil apapun ga masalah.”

(Media Parahyangan – Wawancara)

Reporter: Hanna Fernandus
Penulis: Hanna Fernandus
Editor: Debora Angela, Agnes Zefanya

Catatan redaksi: wawancara dengan mahasiswa penerima beasiswa dilakukan tertanggal Kamis, 14 Januari 2021. Tangkapan layar yang disebutkan dalam artikel ini tidak dipublikasikan untuk menjaga kerahasiaan identitas narasumber maupun identitas-identitas pihak yang terkait.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *