Beko Terakhir Meninggalkan RW 11 Taman Sari

Reruntuhan Rumah RW 11 Taman Sari. dok/MP.

NASIONAL, MP – Pada Jumat (11/1) lalu, alat berat atau beko yang berada di reruntuhan rumah RW 11 Taman Sari, pergi meninggalkan RW 11. Beko yang keluar merupakan beko yang terakhir dari dua beko yang sebelumnya berada di RW 11. Kehadiran beko di Taman Sari tidak memiliki ijin. Selain itu, Beko juga dinilai sebagai bentuk intimidasi dan menggangu psikologi warga.

“Tiba-tiba (red. beko) sudah tidak ada,” jelas Eva selaku sekretaris RW 11 Taman Sari. Berdasarkan keterangan dari salah satu media sosial solidaritas @TamanSariMelawan, bahwa beko keluar dari Taman Sari pada Jumat lalu (11/1).

Terdapat dua beko yang berada di Taman Sari. Beko yang pertama sempat mengeruk rumah warga sampai kebawah sehingga akhirnya beko rusak. Maka dari itu, beko tidak bisa dibawa keluar untuk sementara karena harus diperbaiki. “Yang ini gak bisa kemana-mana, nyangkut gak bisa gerak, jadi tertinggal,” jelas Eva. Sedangkan beko lainnya sudah pergi ketika proses masyarakat melapor kehadiran beko kepada pidana lingkungan pada tanggal 26 Juli lalu.

Eva mengaku terdapat perbedaan pendapat mengenai penarikan beko antara warga dan pemilik beko. Warga tetap ingin keberadaan beko di RW 11 agar menjadi barang bukti perusakan lingkungan pada pengadilan atas gugatan pidana lingkungan. Sedangkan, pemilik beko harus menarik kembali beko karena adanya transaksi jual-beli beko terhadap pihak lainnya.

“Alat bukti (red. perusakan lingkungan) ternyata dapat melalui lewat video, yang penting jelas ini punya siapa, keluarnya kapan dan tanggal berapa,” jelas Eva. Maka dari itu, warga memutuskan agar pemilik beko mengambil beko kembali. “Jadi beko kalau pergi, udah gak punya masalah sama warga,” tambah Eva.

Absensi Perizinan

Sejak awal, kehadiran Beko tidak memiliki ijin. “Masuk sembunyi, keluar juga sembunyi. Awal gak ada surat, keluar pun gak ada.” ujar Eva.

Eva menjelaskan bahwa sebelumnya memang sudah tersebar rumor mengenai kedatangan beko. Tetapi, Eva mengaku bahwa warga tidak menyangka kedatangan beko karena tidak menerima surat perihal tersebut. “Saya bilang, iya gitu beko mau datang? Suratnya aja gak ada, tenang,” tambah Eva.

Kedatangan beko pertama ke RW 11 pada tanggal 6 Desember 2017 jam 1 subuh. Eva mengatakan bahwa ketiadaan perijinan kedatangan beko membuat warga heboh karena tidak menyangka beko datang pada hari itu. “Yang kita pertanyakan surat kedatangan mereka. Tanpa ada surat, mereka datang tiba-tiba,” jelas Eva.

Bukti Intimidasi

Eva mengatakan bahwa beko sudah datang ketika belum ada kesepakatan warga untuk menerima ganti rugi 75 persen berdasarkan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). Warga sempat meminta Ridwan Kamil untuk menghentikan proyek sebelum terjadinya musyawarah dan mufakat. “Tapi kenapa beko udah datang duluan,” ujar Eva.

Kedatangan beko dinilai Eva mempengaruhi psikologi warga. Eva mencurigai bahwa kehadiran beko menjadi bentuk intimidasi kepada warga untuk segera memutuskan menerima ganti rugi 75 persen berdasarkan NJOP atau tidak. “Ancamannya sok mau terima gak, kalau gak terima pun beko udah ada, rumah lu nanti gak dapat apa-apa,” tambah Eva.

 

Ranessa Nainggolan