Banjir Padalarang: “Belum Pernah Sebesar Ini”

Kondisi di daerah Padalarang seusai banjir. dok/MP

STOPPRESS, MP – Tiga kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yaitu Kecamatan Cililin, Ngamprah, dan Cipeundeuy tertimpa bencana banjir bandang pada akhir tahun 2019 silam. Bencana ini disebabkan oleh, salah satunya, jebolnya dua tanggul yang berada di Desa Cipeundeuy, tepat dimana dua sungai bertemu. Daerah tersebut bersebelahan persis dengan pemukiman. Banjir ini memiliki skala yang tak pernah dihadapi sebelumnya oleh daerah tersebut. Ditambah pula, banjir tidak terjadi secara bertahap, melainkan tiba-tiba. Banyak warga yang belum menyadari intensitas banjir yang terjadi sampai ke titik hampir terlambat.

Jumlah korban yang terdampak oleh banjir ini sejumlah 300 orang (per 5/1). Tak hanya barang-barang di dalam rumah yang terdampak kerugian material, namun sejumlah tembok rumah jebol dan hancur dikarenakan tak kuat menahan aliran air yang masuk. Untuk sejumlah bangunan, tembok rubuh dari luar ke arah rumah–situasi yang lebih berbahaya untuk para penghuni.

Tinggi air diketahui mencapai dada orang dewasa dan terjadi pada sore hari, sebelum matahari tenggelam. Diketahui bahwa kejadian ini terjadi saat dan setelah hujan besar pada sore hari sekitar jam 16.00 sampai 17.30. “Jadi laki-laki dewasa belum ada, masih pada kerja” terang warga setempat.

Banjir ini merupakan anomali, sebab daerah tersebut tidak pernah terkena banjir dengan skala sedemikian besar sebelumnya. “Terakhir banjir beberapa tahun lalu saat ada proyek kereta, namun tidak sebesar ini” ujar salah satu warga. Pada banjir kali ini pun, tinggi air jauh melampaui banjir terakhir pada beberapa tahun lalu tersebut. Sebab tidak pernah ada banjir sebesar hari itu, warga pun cenderung tidak memperkirakan debit air yang datang. “Airnya juga datangnya cepat, naiknya cepat. Pompa yang sudah disiapkan malah terseret” terangnya.

Pada lokasi, terdapat beberapa kelompok relawan dari berbagai kalangan, seperti LSM dan ormas seperti FPI, pihak perusahaan seperti Indofood, ataupun dari pihak berwenang seperti Kementerian Sosial. Dari posko logistik tercatat puluhan relawan yang membantu masyarakat untuk memulihkan diri dari peristiwa ini, seperti mengajari anak-anak untuk tanggap bencana maupun membangun kembali tanggul sementara untuk hujan deras berikutnya.

Untuk bantuan sendiri, baik logistik pada umumnya maupun makanan, cenderung sudah cukup. Salah satu relawan menerangkan bahwa apa yang dibutuhkan kali ini adalah membangun kembali infrastruktur milik warga yang rusak.

Ia juga berpendapat bahwa banjir ini dapat terjadi salah satunya disebabkan oleh buruknya drainase yang ada. Daerah tersebut memang pertamanya dikeruk untuk pemukiman, dan sistem drainase yang menampung aliran air belum terlalu memadai, memungkinkan terjadinya banjir dengan skala besar.

Pada skala lebih besar, banjir di daerah ini maupun di daerah tol Cipularang-Purbaleunyi ditengarai memiliki keterkaitan dengan Proyek Kereta Cepat Bandung-Jakarta. Perkiraan awal dari warga menyatakan bahwa proyek ini menutup saluran drainase, mempersempit saluran air yang ada. Beberapa tahun silam, diketahui bahwa kajian amdal untuk proyek besar ini terbit tanpa studi kebencanaan, termasuk untuk gempa, longsor, dan banjir.

Muhammad Naufal Hanif

*

*

Top