Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Keragaman

Kenyataan pahit saat ini persatuan rakyat Indonesia semakin lama semakin terkikis. Padahal jika dilihat dari zaman dahulu, bangsa Indonesia bersatu sepenuhnya demi mengalahkan penjajah untuk memerdekakan Indonesia. Namun, persatuan yang telah dibentuk itu dengan mudah terlupakan dan tercipta konflik baru yang ditunjukkan oleh sesama rakyat sendiri. Kecenderungan masyarakat yang sulit untuk bersatu ini telah menjadi isu yang amat penting untuk dibahas dan dicari solusinya.

Sebagai contoh, kita harus berkaca pada Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan kuno yang paling terkenal dan terkuat yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Majapahit merupakan kerajaan terbesar dengan wilayah yang terluas, bahkan hingga meliputi hampir seluruh Asia Tenggara. Adapun hanya Majapahit yang mampu mencapai hal tersebut. Kejayaan dan keberhasilannya benar-benar tiada bandingan. Kerajaan lainnya pun terlihat segan maupun kagum akan Majapahit. Namun, setelah perang saudara Majapahit yang dikenal dengan sebutan “Paregreg”, kerajaan yang besar tersebut terbelah menjadi dua sehingga mengalami kejatuhan yang fatal. Pada titik ini, segala sistem yang telah terbentuk maupun proses panjang yang telah dialami Majapahit hingga bisa sampai tingkat kesuksesan tersebut sudah tidak mampu lagi menyelamatkan Majapahit dari keruntuhan. Hal tersebut dikarenakan tidak ada satupun hal yang lebih fatal akibatnya selain perpecahan.

Kerajaan Majapahit adalah sebuah refleksi tentang seberapa jauh Indonesia, sebagai bangsa dan negara, dapat bangkit ke puncak kejayaan. Majapahit seringkali dijadikan sebagai standar untuk menantang bangsa Indonesia agar mengikuti jejaknya sebagai sebuah entitas yang besar dan disegani. Namun sayangnya, Majapahit juga merupakan peringatan keras akan seberapa buruknya Indonesia yang sewaktu-waktu dapat jatuh dan runtuh. Terdapat pepatah yang berkata, “Jauh lebih mudah mencapai kesuksesan, daripada mempertahankannya.” Perkataan bijak tersebut terdengar sangat akurat ketika dikaitkan dengan kisah bangkit-runtuhnya Kerajaan Majapahit. Banyak orang dengan mudah tertarik dengan sejarah Majapahit karena jenis kisah seperti ini memperlihatkan kepada kita contoh nyata dari upaya kerja keras dan ambisi yang tak terbantahkan di tengah situasi dan kondisi yang cukup rumit.

Ambilah kisah tentang penemu Kerajaan Majapahit yang tidak mencapai puncak kejayaan hanya dalam hitungan jam, hari, maupun bulan. Penemunya, Raden Wijaya, tengah berada dalam posisi yang sangat buruk ketika ia menciptakan Majapahit. Ia telah kehilangan segalanya, setelah istri dan bapak mertuanya, Sang Raja Singasari, disiksa lalu kemudian dibunuh dalam suatu serangan Kerajaan Kediri. Raden Wijaya sendiri dipaksa untuk menyerah dan setelah tampaknya mengakui kekalahan, ia pun dibiarkan hidup dan dipaksa untuk melarikan diri. Tetapi ia tidak pernah bermaksud untuk membiarkan raja dan istri yang dikasihinya mati sia-sia.

Dengan kemauan dan daya juang yang kuat, ia membalaskan dendam kematian orang-orang terdekatnya dengan secara sembunyi-sembunyi bersekutu dengan Mongol, yang pada waktu itu juga tengah bersengketa dengan Kediri, dan bersama-sama, Raden Wijaya dan pasukan Mongol berhasil meruntuhkan Kediri. Setelah itu, Raden Wijaya mengkhianati Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa. Ia pun kemudian mendirikan kerajaan baru di sebuah desa yang kecil yang dinamakannya Majapahit, dan mulai mempersatukan warga setempat hingga membentuk suatu peradaban yang maju. Dengan demikian, Raden Wijaya telah melanjutkan warisan almarhum ayah mertuanya dengan cara yang ia tahu akan direstui Sang Raja Singasari tersebut.

Terdapat perbandingan paralel yang dapat ditarik dari sejarah Kerajaan Majapahit dan sejarah bangsa Indonesia. Seperti kata pepatah, “Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan terkutuk untuk mengulangi kesalahan yang sama,”. Bangsa Indonesia pun harus menjadikan runtuhnya Kerajaan Majapahit sebagai suatu peringatan dan pengingat agar tidak mengikuti jejaknya yang berakhir dengan tragis. Untuk membuktikan kemiripan nasib serta situasi-kondisi terbentuknya Majapahit dan Indonesia, berikut perbandingan sejarah keduanya: Sama seperti permulaan Kerajaan Majapahit, terbentuknya NKRI sendiri sebagai suatu negara yang bebas dan merdeka tentunya butuh perjuangan yang intens.

Kemerdekaan tersebut harus dipertarungkan, dan bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma, melainkan dibutuhkan juga persatuan dan kompromi dari suatu bangsa yang terdiri atas berbagai kelompok etnis dengan bahasa, kebiasaan, adat-istiadat, dan latar belakang yang berbeda-beda. Banyak sekali pengorbanan yang harus dicurahkan, baik oleh Raden Wijaya dalam usahanya membentuk Kerajaan Majapahit, maupun oleh para pendahulu kita dalam berjuang memperoleh kemerdekaan. Bahkan pendahulu kita sampai mencurahkan keringat, air mata, dan darah untuk menjamin kebebasan anak dan cucu mereka, serta untuk memberikan kita akses menuju masa depan yang lebih baik. Itu bertujuan supaya kita, sebagai penerus bangsa, tidak harus melewati segala macam penderitaan dan kepahitan seperti yang mereka alami dari pengalaman dijajah dan ditindas.

Kini, kita telah merasakan kemerdekaan sebagai  buah hasil juang para pendahulu kita. Sekarang pertanyaannya, apakah yang akan kita perbuat dengan kebebasan yang telah kita peroleh secara “gratis” sejak lahir ini? Apakah kita hanya akan menyia-nyiakannya, sama seperti orang-orang Majapahit yang berbalik melawan satu dengan yang lain? Apakah kita hanya akan membuangnya, dengan membiarkan perbedaan memecah-belah persatuan kita? Apakah kita akan bertindak seperti orang-orang yang tidak tahu berterima kasih kepada para pendahulu kita, dengan bersikap egois dengan mendahulukan kepentingan golongan di atas kepentingan bersama? Ataukah kita akan berlaku masuk akal dengan memelihara persatuan yang telah mereka perjuangkan sebagai tanda rasa syukur kita kepada para pendahulu kita? Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah mudah untuk menerima mereka yang berbeda dari kita. Perbedaan tersebut dapat menciptakan konflik kepentingan dan hal itu selalu menjadi sumber permasalahan. Dan bukankah kita semua harus selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Ya, tentu saja. Tetapi tidak!

Sebelum menjalankan apapun, Raden Wijaya harus pertama-tama mempersatukan orang-orang dari berbagai wilayah dengan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda-beda sebagai fondasi kerajaannya yang baru. Pada saat diikrarkannya Sumpah Pemuda yang pada akhirnya mengukuhkan kemauan para pemuda untuk mengesampingkan semua perbedaan dan kepentingan pribadi demi tercapainya persatuan, barulah kebangkitan dan pergerakan kemerdekaan dapat terwujud.

Inti dari semua ini adalah, kita sebagai anggota masyarakat harus bisa melepaskan ego kita dan menoleransi bahkan merayakan perbedaan dengan sesame. Hal tersebut demi tercapainya kebaikan bersama. Selain itu, memang adakah kebaikan bersama yang lebih penting, daripada masa depan cerah dari negeri yang kita cintai ini? Seperti yang telah kita saksikan sendiri dari bangkit-jatuhnya Kerajaan Majapahit, ancaman yang ditimbulkan dari sebuah peradaban yang terpecah-belah sangatlah serius dan bahkan dapat mengancam eksistensi. Oleh karena itu, hal ini tidak boleh dianggap enteng. Sekalipun kita tidak peduli sedikitpun dengan negeri ini, sehingga kita rela membahayakan masa depan bangsa Indonesia demi mengedepankan kepentingan pribadi, kita tidak boleh pernah lupa bahwa para pendahulu kita yakni para pahlawan nasional, kakek dan nenek buyut kita, dan pejuang kemerdekaan telah mempercayakan negeri yang kaya dan indah ini kepada kita. Sama seperti Raden Wijaya yang telah menetapkan standar tinggi pada dirinya sendiri untuk meneruskan warisan ayah mertuanya, kita pun harus bisa mengikuti jejak kaki para pendahulu kita dengan melakukan yang terbaik untuk merawat kesatuan di antara kita, sebagai suatu bangsa yang mensyukuri kemerdekaannya yang telah diraih dengan susah payah bukan oleh diri kita sendiri, melainkan oleh pengorbanan para pendahulu kita.

Jujur saja, Indonesia tengah berada dalam posisi yang rapuh pada saat ini. Begitu banyaknya masalah, tetapi hanya terdapat satu solusi universal yang dapat menyelesaikan segalanya serta dilihat dari para pendahulu kita yang telah memberikan contoh yang baik yaitu daripada menganggap perbedaan sebagai suatu alasan untuk tidak bergaul dengan satu sama lain, mereka justru merangkul konsep tersebut. Mereka tidak pernah berpikir bahwa mereka semua “berbeda”, sebab kata tersebut selalu dikonotasikan secara negatif; melainkan, para pendahulu kita menganggap diri mereka “beragam”, dan beragam hanyalah istilah lain yang berarti “kaya”. Jadi, karena kini kita semua sudah tidak lagi berbeda, melainkan kita adalah kaya dalam keberagaman, maka kini seharusnya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk terpecah-belah. Tentunya Anda dan saya tidak memiliki kesamaan apapun. Namun, itu tidaklah penting. Apabila saya telah memberanikan diri untuk membuat tulisan ini dan menyampaikan pesan penting ini kepada Anda, maka meskipun mungkin kita berbeda dari segi fisik, kepercayaan, suku, budaya, latar belakang, atau hal-hal enteng lainnya, saya percaya jauh di dalam hati bahwa pada dasarnya Anda dan saya adalah satu. Kita adalah satu bangsa yang amat bangga akan keberagaman yang kita miliki.

Bhinneka Tunggal Ika!

Patrick Steven, Manajemen 2019

Tags

*

*

Top