Somewhere Between Hell and Heaven: Paduan Country, Rockabilly dan Punk Rock

Tampilan album ke-4 Social Distortion, yaitu "Somewhere Between Heaven and Hell"

Album keempat yang dirilis oleh Social Distortion pada tahun 1992, yaitu “Somewhere Between Heaven and Hell” , berhasil menggabungkan dua pengaruh band asal Orange Country, California tersebut, yaitu Johny Cash dan The Clash. Social Distortion dapat menggabungkannya walaupun, kedua musisi memiliki aliran yang berbeda. Album ini merupakan album kedua setelah menandatangani major label.

Berbeda dengan dua album sebelumnya, “Prison Bound” dan “Self Titled”, album ini memiliki nuansa perpaduan country, rockabilly, 50’s rock pada lagu-lagunya. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh punk rock band angkatan 70-80’s seperti The Clash, The Ramones, NoFx, dan lain-lain.

Album dengan sampul sang vokalis (Mike Ness),  melompat dengan gitar Gibson Les Paul-nya ini berdurasi selama 44 menit. Dengan bridge yang relatif panjang di tiap lagunya, selayaknya lagu-lagu Social Distortion lain, menjadikan album ini salah satu album Social Distortion terpanjang.

Album “Somewhere Between Heaven and Hell” dimulai dengan lagu genre punk rock bertempo cepat yang bisa ditemukan dalam album Social Disotrtion sebelumnya, berjudul “Cold Feelings”. Dari liriknya, lagu ini seakan menceritakan perang batin dan mencoba untuk keluar tetapi tidak bisa lari dari persaan tersebut.

Lagu yang berjudul “Bad Luck” memiliki durasi empat menit dua puluh enam detik. Lagu ini memiliki nuansa yang lebih ‘kalem’, cathy, dan radio material dibanding lagu sebelumnya ini dimulai dengan verse 3 chord sederhana. Tetapi verse 3 chord yang sederhana, hingga kini menginspirasi band-band punk rock era 1990-an sampai 2000 seperti Blink 182, Green Day, hingga 5 Second of Summer. Lagu ini merupakan satu-satunya single dari album ini dan berada di posisi empat chart billboard AS. Ini merupakan sebuah awal yang bagus untuk album ini.

Sesuai dengan judulnya, lagu ini menceritakan nasib buruk yang dialami penulis, terutama terkait dengan masalah perjudian. Hal ini terlihat dalam lirik, “some people like to gamble, but you, you always lose”. Selain itu, lagu ini juga memiliki video klip yang menampilkan gaya khas Mike Ness dalam memainkan gitar yang dapat ditemukan di video klip Social Distortion lain seperti “Story of My Life” atau “When the Angel Sing”. Kurang lengkap rasanya jika mengakhiri review terhadap lagu ini tanpa mengapresiasi bass solo Dennis Danell.

Setelah dua lagu bertempo cepat, lagu selanjutnya merupakan cover dari lagu ballad country ciptaan Jimmy Work, berjudul “Making Believe”. Lagu ini dimulai dengan tempo yang lambat tetapi, tempo menjadi semakin cepat ketika masuk verse pertama. Makna lagu ini masih sesuai dengan judul lagunya sehingga mudah ditebak. Lagu menceritakan penulis yang tetap meyakini kekasih lamanya yang masih mencitainya walaupun sang kekasih tersebut sudah memiliki pasangan baru. Perasaan ini terlihat dalam lirik, you’re somebody’s love, you never be mine“. Lagu yang diakhiri dengan lirik ”making believe, i spent my lifetime, loving you and making believe” cocok bagi mereka yang baru saja mengakhiri sebuah hubungan.

Jika dijudul penulis menyebut album ini merupakan paduan country dan punk rock, maka lagu selanjutnya, “Born To Lose” merupakan representasi yang tepat. Dimulai hampir seperti lagu pertama, vokal Mike Ness dilagu ini sangat bernuansa country.

Ciri khas musisi seperti album-album sebelum album Social Distortion, dapat ditemukan di lagu selanjutnya, “Bye Bye Baby”. Detik pertama lagu ini sudah meyakinkan pendengar yang sudah familiar dengan Social Distortion bahwa lagu dengan tempo cepat dan vokal khas Mike Ness ini merupakan material mereka di album-album awal.  Hal yang sama masih juga ditemukan di lagu selanjutnya, “When She Begins:.

Mulai memasuki lagu “99 to Life”, tempo mulai melambat. Pengaruh Johny Cash mulai terasa, baik secara vokal maupun secara musik. Seakan lagu ini merupakan salah satu lagu Johny Cash yang digubah menjadi versi punk rock.

Selanjutnya, lagu “King of Fools” merupakan lagu tersingkat di album ini. Dimulai dengan dentuman drum Chris Reece lalu dilanjut  dengan vokal Mike Ness, “I was born a king of fool”. Lagu ini menunjukan sifat pesimis penulis dan label yang orang-orang ciptakan terhadap dirinya. Dari beberapa penggalan lirik terlihat jelas bahwa kegagalan dalam percintaan merupakan hal yang penulis anggap membuat dirinya seorang “King of Fools”. Hal ini lebih terlihat pada penekanan lagu yang diakhiri lirik, “but when it comes around to love that’s when I realize I was born the king of fools.”

Berangkat dari kekecewaan “King of Fools”, akhirnya harapan mulai muncul dalam lagu selanjutnya, “Sometimes I Do.” Lagu yang memiliki intro relatif panjang ini, membawa judul yang bersifat repetitif. Selain itu, latar belakang penyanyi yang catchy, verse sederhana ala punk rock 90’an, membuat lagu ini mudah menjadi favorit pendengar. Lagu tersebut seakan mendeskripsikan banyaknya ketidakpastian atau ‘sometimes’ di tiap orang yang selalu berubah-ubah.

Jika pada lagu “Making Believe” diawali dengan tempo lambat dan disusul dengan tempo cepat, di lagu “This Time Darlin” tempo lagu tetap lambat dari awal hingga akhir. Lirik, musik, serta gitar solo Mike, cukup menggambarkan keputuasaan yang dialami penulis. Perasan tersebut tertulis dalam liris,“in the morning I was lonely but never bothered to cry never even stopped to wonder why”.

Album ini pun diakhiri dengan lagu “Ghost Town Blues”. Lagu bernuansa rockabilly dan blues lengkap dengan harmonika yang menggantikan absennya gitar solo Mike Ness didalam lagu ini.

Lagu-lagu pada album yang cathcy dan cocok pada kondisi East Bay tahun 90’an menjadikan album  ini  rilisan Social Distortion paling laku. Tercatat bahwa penjualan album sebesar 196,000 hingga tahun 1996 dan menduduki peringkat 76 dalam chart billboard Amerika. Album in menjadi album terakhir bersama sang drummer, Chris Reece, yang telah bersama band sejak tahun 1983.

Eksperimen musisi yang memadukan berbagai genre, menjadikan album ini berbeda dengan album-album sebelumnya. Sehingga, unsur-unsur country cukup menyeimbangkan musik punk rock. Maka dari itu, jika pendengar mengharapkan album dengan lagu-lagu yang murni punk rock, disarankan untuk mendengarkan album-album Social Distortion sebelumnya.

Tetapi, secara keseluruhan album ini direkomendasikan, baik bagi yang telah familiar dengan musik punk rock, maupun bagi yang sama sekali belum pernah aliran yang dianut band ini. Kejeniusan lirik ciptaan Mike Ness membuat album ini mudah dipahami dan dihubungkan dengan kehidupan pribadi pendengar. Gebukan drum Chris Reece, membangkitkan semangat dan membawa emosi pendengar menjadikan alasan album ini patut diberi perhatian khusus dan dapat menjadi daftar jamming untuk band-band pendengar.

 

Miftahul Choir

*

*

Top