Aku – Ruang Seni Paralogis

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Tentunya tidak perlu menyebut siapakah ia revolusioner besar, yang mampu meletupkan sebuah pergerakkan perlawanan besar-besarran,melawan hegemoni, berteriak lantang tentang perubahan lewat sebuah puisi diatas.Media  yang tak pernah henti menjadi wadah tumpah ruahnya segala kemarahan dan kekecewaan yang  sudah sulit untuk diutarkan hanya lewat kata-kata atau dialog-dialog yang tak pernah usai, seni adalah media itu dan seorang seniman tentunya adalah revolusioner besar yang tak akan diam dalam keadaan genting dimana semua kata dibiarkan bisu dan tak boleh bersuara, dimana semua keseragaman menjadi begitu memuakkan dan hanya akan membunuh individu perlahan-lahan.

Sejarah berbicara banyak tentang seniman-seniman besar(red-revolusioner besar) yang berhasil berteriak lantang tentang perubahan, Rustam Effendi hadir dengan “Sebab laguku menurut sukmaku” pada tahun 1924, saat itu ialah revolusioner yang merubah tatanan aturan-aturan yang ada dalam dunia sastra, ia adalah cerminan dari orang-orang yang terbebas dari aturan-aturan yang membelenggu, dan puisi adalah media pembangkangan yang ia pilih sama halnya denga Sutan Takdir Alisjahbana yang sama-sama memproklamasikan bentuk pembakangan lewat puisi, mengankat realita mengajak semua orang tidak memataforkan syair sebagai hal indah sebatas lirik-lirik tentang kasih berkasih atau mungkin rayuan pulau kelapa, ia mengajak setiap orang untuk tahu tentang air susu seorang ibu yang mulai mengering bahkan  bernanah.Dan tak lain tak bukan Chairil Anwar angktan 1940an, ia yang membakar semangat untuk melawan, membakang dan berteriak tentang merdeka tak perduli bahkan jika peluru sekalipun menembus tubuh.

Mari sejenak menilik barat, mungkin ada banyak revolusioner besar disana, tapi ada satu simbol abadi selain John Lennon.Jim Morrison siapa yang tak mengenalnya?simbol utama dari “flowers generation” yang tak bisa dipungkiri sebagai revolusioner besar.Peperangan ideologi Amerika dan Uni Soviet di Vietnam yang tak pernah usai, menyulut kemarahan anak muda sebagai kaum terdepan di generasai itu.

Jim Morrison dan The Doors adalah pionir physchedelic, dengan lirik-lirik puitis juga abstrak yang penuh amarah simak lirik berikut ini,”Tuhan dengan seenakanya melempar kita ke dunia bak anjing yang tak bertulang!!”, bukan main,Morrison memang luar biasa apalagi aksi panggung nya yang selalu dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol juga obat-obatan, Morrison bisa telanjang atau melakukan apapun yang menurutnya bisa menjadi kalimat-kalimat simbolik tentang kemarahannya pada tatanan yang ada.Ia yang natinya menjadi pionir pegerakkan perfomance art yang menjadi media protes cerdas dan ampuh mempencundangi tatanan serta aturan-aturan memuakkan yang ada.

Media pembangkangan tidak hanya berhenti pada musik dan karya sastra tapi lebih jauh dari itu ada media yang secara terstruktur dan sistematis berbicara dengan lugas dan tanpa ragu-ragu menelanjangi pemerintah, seni rupa juga seni teater seni ini berkembang pesat menjadi media protes yang paling efesien untuk membuat kuping pemerintah panas.

Masa orde baru adalah masa berkembangnya seni-seni pembangkangan yang sarat isu politik, tentunya kita mengenal Putu Wijaya teaterawan yang selalu hadir dengannasakah-nasakah menyetil yang memebuat pemerintah pontang-panting, nasakah “WAH” adalah masterpiece yang luar biasa dari seorang Putu Wijaya, bagaimana ia menceritakan sebuah negara yang sangat menegakkan keadilan samapai-samapai penjara penuh dan semua maling habis dimuka dunia, naskah satir ini diperjuangkan dengan membabi buta oleh seorang Putu Wijaya agar dapat dipentasakan, maklum di zaman itu tak boleh ada yang berani mengolok-olok pemerintah, tapi bagi seorang Putu Wijaya itu bukan alasan ia tetap mementaskan pertunjukkannya walau akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib.

Sama halnya dengan N.Riantiarno yang hadir dengan naskah mahsyur yang benar-benar pedas mengkritik segala tatanan yang ada,”Opera Kecoa” dan “Opera Julini” bercerita panjang lebar tentang kehidupan masayarakat dari kelas sosial rendahan yang di hampir setiap dialognya sarat dengan kritik-kritik pedas, dan lagi-lgi ia juga harus berurusan deang pihak berwajib.Tetapi semua peregerakkan itu menuai hasil, mereka menjadi pendorong bagi para seniman untuk peduli dan menaruh nilai essensial moral yang bermanfaat dari suatu produk bernama karya seni, ”Jangan jadi seniman banci dan jangan mau dibunglam!!”, berikut pernyataan seorang Putu Wijaya.

Seni rupa juga adalah suatu wadah yang juga menhasilkan revolusioner besar sekaliber Affandi hingga Tisna Sanjaya yang merupakan buah karya kekewaan zaman Orde Baru, Tisna Sanajaya yang hingga saat ini masih produktif menghasilkan karya-karya yang sangat frontal berbicra tentang kesemrawutan zaman.Tisna mengubah tatanan dalam seni rupa dengan berani melukis tanpa terlalu memepertimbangkan nilai estetik, karena menurutnya ia inging merefeleksikan dan berbicara secara implisit tentang segala kesemrawutan lewat karya-karyanya.

Lukisannya kadang berupa kolase acak-acakkan dengan tokoh-tokoh abstrak.Begitu juga dengan karya-karya seni instalasinya, hampir seluruh seniman mengatakan bahawa karya seni instalasinya benar-benar menyerupai sampah, liht saja bagaimana ia memadu padankan kain kafan, kain bertuliskan “innalillahi wa innaillaih rojiun”,pohon kering tak berdaun, peta bergambr wilayah Repiblik Indonesia dan tentunya foto Soeharto.Semua begitu semrawut dan pantas dibuang, begitu menurut para seniman dari kaum konservatif,tapi toh ia berhasil berkeliling dunia menceritakkan tentang negrinya yang tak juga usai bermimpi.Tisna mengajak para seniman muda untuk berbicara lewat seni tidak perlu terus berkutat mempertimbangkan nilai-nilai estetik, marahlah dan ejawantahkan semua lewat media seni agar semua orang dapat melihatanya, mungkin itu pesan yang ingin Tisna sampaikan.

Dan mari merenungi keadaan krisis kini, masih adakah seniman muda yang berbicara lantang tentang perubahan, revolusi besar-besaran, membangkang tatanan yang ada, atau berjuang  bangkit dari segala hal yang membelenggu? Sungguh sulit mencarinya, semua seniman muda sudah jadi banci, tidak melaklukan peradaban dan terus terjebak dengan sistem populer yang mencetak seniman murahan dengan  karya seni yang juga murahan tidak mengedepankan nilai-nilai essensial moralitas dan malah menyesatkan juga membodiohi individu.

Berteriaklah lewat seni jadikan seni media revolusi yang tak boleh berhenti pada sistem materialistik karena bukan itu tujuan berkesenian, berkeseniaan adalah melakukan revolusi dan memenemukan kepuasan batin di dalamnya.Jika kata-kata tak lagi bersuara dan dapat dengan mudah terhembus angin, mari lakukan pergerakkan yang lebih mengancam lewat karya seni!!terbukti lewat seorang Stalin yang dengan gegabah berani memenjarakkan seorang penyair hanya karena karya sang penyair yang sangat propaganda.

Satu lirik propaganda dari seorang Harri Roesli “Kita ini Anjing-Anjing Beringas!!”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *