Aice dan Omnibus Law: Es Krim Murah Hasil Eksploitasi Pekerja

NASIONAL,
MP Akhir Februari
lalu, para pekerja PT Alpen Food Industry melakukan aksi unjuk rasa dan mogok
kerja di depan
perusahaan sebagai bentuk perlawanan yang
diduga melakukan eksploitasi terhadap pekerjanya. Dugaan eksploitasi ini
dibuktikan
dengan adanya

14 kasus keguguran dan 6 kematian bayi
baru lahir
dari total 359 buruh perempuan, serta beberapa pekerja lain didiagnosis terkena penyakit
pernafasan.

Sejak Jum’at (21/02) lalu, ramai isu yang
memberitakan aksi mogok kerja oleh para karyawan PT Alpen Food Industry (AFI)
yang memproduksi es krim Aice yang terkenal dengan harga murahnya. Aksi mogok
tersebut merupakan buntut dari rangkaian kasus yang dinilai melanggar hak-hak
hingga mencapai tahap eksploitasi tenaga pekerja PT tersebut. Aksi tersebut
berlanjut hingga pada (27/02) lalu, Komite Solidaritas Perjuangan untuk Buruh
AICE menyatakan sikap dan tuntutannya terhadap PT AFI melalui 22 poin tuntutan
yang hampir semuanya berisikan tentang tuntutan akan hak-hak pekerja.

PT AFI dituding kerap menyalahi aturan dan
memperlakukan pekerjanya dengan tidak manusiawi. Sarinah, salah satu pekerja
mengatakan kepada suara.co bahwa pekerja wanita yang sedang mengandung tidak
mendapatkan hak sebagaimana semestinya. “Buruh hamil dipekerjakan pada
malam hari hingga tingginya kasus keguguran dan kematian bayi baru lahir,”
ujarnya.

Para pekerja hamil dipaksa untuk mengangkat
gulungan plastik pembungkus es krim yang beratnya lebih dari 10 kilogram. Dalam
sehari, setidaknya ada 10 gulungan yang harus diangkat oleh masing-masing
pekerja. Tak elak, kasus keguguran pun kerap menimpa pekerja.

Sepanjang tahun 2019 sendiri, tercatat ada 19
pekerja hamil yang mengalami keguguran dan kematian bayi. Bahkan salah satu di
antara pekerja mengalami keguguran dua kali. “Meskipun sudah melaporkan
kehamilan, mereka diminta menunggu sampai kehamilan berusia lima bulan. Padahal
usia awal kehamilan adalah usia yang paling rentan,” tambahnya.

Tak hanya itu, pekerja wanita juga sulit untuk
mendapatkan cuti haid. Pekerja hanya bisa mendapat cuti jika mendapat surat
dari rekomendasi dari dokter yang disediakan oleh perusahaan. Permasalahannya,
dokter di sana kerap hanya memberikan obat penghilang nyeri saja. Imbasnya ada
beberapa pekerja yang mengalami pendarahan dan akhirnya didiagnosis terkena
penyakit endometriosis atau suatu gangguan pada jaringan yang biasanya melapisi
rahim tumbuh di luar rahim. Padahal menurut Pasal 81 UU Ketenagakerjaan No 13
Tahun 2003, pekerja atau buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit
dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja hari pertama dan kedua
pada waktu haid.

Pekerja lainnya, Heti Kustiawati mengaku didiagnosis bronkitis akibat menghirup terlalu banyak amonia pada saat bekerja memproduksi es krim. “Kata dokter sih bronkitis. Itu kena amonia bocor yang sering terhirup,” ujarnya yang dilansir dari tirto.id.

Pipa mesin pendingin es krim kerap bocor, yang
mengakibatkan amonia tertiup dan memenuhi udara ruang produksi dengan
mengeluarkan bau tajam yang khas. Dalam konsentrasi rendah, amonia dapat
mengiritasi jalur napas sehingga menyebabkan batuk-batuk. Namun dalam
konsentrasi tinggi, gas amonia berisiko menyebabkan luka bakar langsung pada
saluran hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.

Walau sudah bekerja lebih dari setahun, Heti
masih belum juga mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan dari perusahaan tempatnya
bekerja. Ia hanya kerap berobat di klinik kesehatan dengan biaya pribadinya,
yang keseringan waktu biaya berobatnya tidak diganti oleh PT AFI.

Gugun, pekerja di bagian produksi, harus
kehilangan jarinya saat bekerja memotong gulungan plastik. Setiap harinya, ia
harus memotong 12 gulungan plastik yang setiap gulungannya membentang sepanjang
1.200 meter. Jika dikalkulasikan, dalam sehari gugu memotong 14.4 kilometer
plastik pembungkus es krim Aice. Pada Mei 2017, jari tengah tangan kirinya
tanpa sengaja terpotong saat dirinya dan petugas mekanik sedang berusaha
memperbaiki mesin potong yang sedang bermasalah. Dirinya dengan cepat dilarikan
ke rumah sakit terdekat diantar oleh pekerja lainnya dengan menggunakan motor.
Sayangnya rumah sakit tersebut tidak mampu menanganinya. Gugun yang di bawa
kembali ke pabrik, hanya bersandar lemas di pos satpam sembari menunggu PT AFI
meminjaminya mobil yang proses pengurusannya sangat rumit. Saat itu jarinya
hanya dibalut menggunakan perban hasil patungan pekerja lain.

Para buruh PT AFI bekerja tanpa adanya briefing mengenai rencana tanggap
darurat. Tidak ada pula pemeriksaan kesehatan rutin yang disediakan perusahaan.
Di kontrak kerja tidak menyebutkan apa pun tentang kompensasi jika para buruh
terjangkiti penyakit atau cedera akibat kerja. Bahkan untuk penyediaan kotak
P3K, para buruh harus patungan lima ribu rupiah setiap bulannya.

Pihak PT FAS sendiri melalui Legal Corporate
Simon Audry Halomoan Siagian saat mengatakan telah manajemen telah melakukan
negosiasi bipartit dengan pekerja berulang kali selama aksi mogok berlangsung. Simon
meyakini pihaknya sudah memenuhi ketentuan yang disebutkan dalam Pasal 72 UU
13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Isi pasal tersebut adalah melarang pengusaha
mempekerjakan pekerja perempuan hamil masuk pada shift malam (23.00-07.00) jika
menurut keterangan dokter berbahaya. Jika tidak ada risiko kandungan maka
pelarangan itu tidak berlaku. Meski begitu, pasal yang sama mewajibkan
perusahaan memberi buruh perempuan yang bekerja shift malam dengan makanan
bergizi.

Selain itu, Simon mengungkapkan setiap dua
Minggu sekali, pihak perusahaan bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk
mendatangkan bidan dan menyediakan perawat dan dokter di unit pelayanan
kesehatan untuk memastikan kesehatan buruh setiap harinya, termasuk buruh
hamil. Menurutnya, hasil observasi rumah sakit menunjukkan kasus keguguran yang
menimpa para pekerja tidak ada kaitannya dengan kondisi kerja.

Namun sebelum itu, pada akhir 2017 lalu, para pekerja Aice juga sempat melakukan aksi mogok kerja dan unjuk
rasa dengan tuntutan yang sama. Pekerja tidak mendapat jaminan kesehatan,
kecelakaan kerja, hingga dihantui ancaman PHK jika ambil bagian dalam aksi
tersebut. Sayangnya hingga kini, berbagai langkah negosiasi yang dilakukan oleh
kedua belah pihak tak juga menemukan titik temu. Tidak ada perubahan mengenai
kondisi pekerja.

Muhammad Rizky || Novita

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size