Adu Pengetahuan dan Kebijakan dalam Debat Calon Ketua Himpunan Hukum

Suasana debat calon Ketua HMPSIH periode 2020 di ruang 2305 hari Jumat (8/11) lalu. dok/MP

STOPPRESS, MP – Jumat (8/11), telah dilaksanakan debat antar calon Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH). Bertempat di ruang 2305, debat ini dihadiri hingga 144 orang dan dimulai pada 15.00 WIB.

Antusiasme penonton sudah mulai terlihat 15 menit sebelum debat dimulai. Riuh tepuk tangan mengantar para calon Ketua Himpunan (Kahim) yang memasuki ruangan. Tiga calon yang maju dalam kontestasi Kahim tentu menjadi daya tarik tersendiri, mengingat pada PUPM Mei 2019, calon Kahim Hukum adalah calon tunggal.

Penonton mulai memasuki ruangan. Saat pemanggilan satu per satu calon Kahim, dari tiga calon, hanya dua yang maju ke panggung debat, yaitu nomor urut 1, Safrizal Ariq dan nomor urut 3, Timothy Arviando Andrade. Sedangkan calon nomor urut 2, Kevin Frank Bundjamin, tidak berada dan tidak hadir dalam ruang debat tersebut hingga debat selesai. Ketika ditanyakan kepada KPU, Kevin Frank resmi mengundurkan diri sebagai calon Kahim.

Debat dimulai dengan pemaparan visi misi oleh kedua calon Kahim. Visi dari Safrizal adalah ingin menjadikan himpunan yang proaktif dan kolaboratif. Hal baru yang akan dibawakan ialah akan membuat divisi baru yaitu Divisi Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat).

“Tujuannya untuk memberikan sikap yang ada di kampus atau nasional dan akan ada kajian berkala,” paparnya. 

Sedangkan Timothy memiliki visi yaitu menjadikan himpunan sebagai wadah pembentukan manusia yang berkarakter kuat. Adapun langkah konkrit yang akan dilakukan ialah mengadakan pekan dialektika hukum nasional, open bidding, dan jejaring lintas batas media sosial. 

Sesi berikutnya adalah pertanyaan mengenai tanggapan terhadap suara mahasiswa serta respon calon terhadap aksi mahasiswa yang keluar mewakili universitas. 

Menurut Safrizal, dalam memperjuangkan aspirasi, semua elemen masyarakat mempunyai hak yang sama. “Senat akan mengurusi perihal peraturan aspirasi dan himpunan yang akan menjalankan,” ujar Safrizal.

Menurut Timothy, himpunan perlu mengadakan kolaborasi dan koordinasi dengan senat. “Ini dilakukan agar himpunan tidak melangkahi senat dalam aspirasi,” jelas Timothy.

Terkait langkah nyata himpunan, menurut Safrizal, himpunan akan siap untuk berkolaborasi dengan lembaga luar. Sedangkan Timothy mengatakan bahwa langkah nyata diberikan melalui divisi Kastrat untuk melihat perkembangan terhadap aspirasi mahasiswa. “Saya juga berinisiatif untuk turun langsung mewakili mahasiswa,” jelas Timothy. 

Sesi terakhir adalah sesi debat antar calon. Baik Safrizal dan Timothy diberi kesempatan untuk saling melontarkan pertanyaan. 

Pertanyaan yang diajukan bermacam-macam mengenai kehidupan di lingkungan kampus mulai dari aspek non-yuridis seperti program kerja (proker), struktur organisasi, hingga aspek yuridis seperti kebijakan universitas. 

Pertanyaan pertama yang diajukan adalah “Jika pembuatan aturan tidak melibatkan mahasiswa, hal apa yang akan dilakukan?” 

Safrizal menjawab akan berdiskusi lewat diskusi, kajian, dan kemudian hal tersebut dilakukan untuk menyampaikan aspirasi mahasiwa. “Akan melakukan gebrakan seperti contohnya demo,” tambah Safrizal.

Sedangkan menurut Timothy, ia akan mensosialisasikan ke masyarakat mengenai kebijakan universitas, misalnya kenaikan SKS, dengan membuat pekan dialektika. 

“Untuk menumbuhkan pola pikir untuk bangsa dengan pengkajian masalah sebagai landasan utamanya,” papar Timothy.

Terkait masalah proker himpunan yang membutuhkan dana besar, tanggapan kedua calon sama-sama berharap pada sistem sponsorship dan tidak membebani mahasiswa. 

“Sebisa mungkin tidak membebani mahasiswa,” ujar Safrizal. “Himpunan juga harus kreatif untuk turun tangan membantu,” ujar Timothy.


Alfonsus Ganendra, Eric Cihanes, Ilmor Mahardika || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top