Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

18 Tahun Kasus Munir Menjelang Kadaluarsa

3 min read

NASIONAL, MP—Tepat 18 tahun sudah Munir Said Thalib, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) meninggal dunia akibat racun jenis arsenik. Pada 7 September 2004, Munir dibunuh dalam perjalanannya menuju Belanda menggunakan pesawat dengan nomor penerbangan GA-974.

Siapa itu Munir?

Munir Said Thalib merupakan tokoh pembela HAM yang lahir di Malang, Jawa Timur, pada 8 Desember 1965. Selain itu, Ia juga merupakan salah satu pendiri lembaga Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial.

Munir dapat dikatakan sebagai sosok yang cukup aktif semasa kuliahnya di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia aktif dalam Forum Studi Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Islam. Pernah juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa Hukum Universitas Brawijaya, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UB, dan Koordinator wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia.

Kasus yang ditangani Munir

Setelah lulus dari bangku kuliah, Munir memulai karirnya dengan menjadi relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) cabang Surabaya dan menjadi Wakil Ketua Bidang Operasional Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Pada 1992, ia sempat menangani kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak yang melawan Pemerintah Indonesia untuk memerdekakan Timor Timur. Setelahnya, ia menjadi penasihat hukum untuk beberapa kasus besar di Indonesia, seperti pembunuhan aktivis buruh Marsinah pada 1994, korban tragedi Tanjung Priok 1984, korban penembakan di Lantek Barat, Galis, Bangkalan, keluarga tiga petani yang dibunuh oleh TNI di proyek Waduk Nipah di Banyuates, Sampang, penghilangan paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta pada 1997 dan 1998, dan beberapa kasus besar lainnya.

Oleh karena itu, ia memperoleh penghargaan The Rights Livelihood Award di Stockholm, Swedia pada tahun 2000 berkat banyaknya jasa dia dalam membela kasus pelanggaran HAM.

Kronologi Kematian Munir

Pada Senin, 6 September 2004 pukul 21.55 WIB pesawat dengan nomor penerbangan GA-974 lepas landas dari Jakarta menuju Negeri Kincir Angin, Belanda. Dengan menaiki pesawat tersebut, Munir berencana melanjutkan pendidikannya ke Amsterdam, Belanda. Pesawat itu sempat transit di Bandara Changi, Singapura. Dalam perjalanan menuju Amsterdam, tiba-tiba Munir merasa sakit perut setelah menenggak segelas jus jeruk.

8 September 2004, Munir sempat diduga sakit sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 08.10 waktu setempat, dua jam sebelum mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Menurut kesaksian, setelah pesawat lepas landas dari transitnya di Bandara Changi, Munir sempat beberapa kali ke toilet dan terlihat seperti orang sakit. Dia mendapat pertolongan dari penumpang lain yang berprofesi sebagai dokter. Munir lantas dipindahkan ke sebelah bangku dokter untuk mendapat perawatan. Tak lama, Munir dinyatakan meninggal pada ketinggian 40.000 kaki di atas tanah Rumania.

Saat pesawat GA-974 mendarat di Belanda, penumpang tak dibolehkan turun, sesuai prosedur otoritas bandara saat ada penumpang meninggal di dalam pesawat. Setelah menjalani pemeriksaan selama 20 menit, penumpang baru dibolehkan turun. Jenazah Munir diturunkan dan dalam pengurusan otoritas bandara. Proses otopsi dilakukan untuk mencari tahu penyebab tewasnya penerima berbagai penghargaan terkait HAM di Indonesia itu. Pada 12 September 2004, jenazah dimakamkan di kota kelahirannya, Batu, Malang.

13 September 2004, Institut Forensik Belanda (NFI) mengungkapkan hasil otopsi jenazah Munir. Ia meninggal dunia karena diracun dengan arsenik. NFI semula menjanjikan hasil otopsi akan dapat diketahui pada dua minggu berikutnya, tetapi ternyata setelah satu bulan baru diberikan hasilnya. Makam Munir pun dibongkar dan keluarga menyetujui otopsi lebih lanjut.

Pasca Kasus Kematian Munir

19 Maret 2005, setengah tahun setelah kasus tersebut, tim penyidik Mabes Polri baru menetapkan Pollycarpus Budihari Priyanto, yang merupakan pilot Garuda Indonesia yang satu pesawat dengan Munir namun sedang tidak bertugas, sebagai tersangka dan menahannya di Rumah Tahanan Mabes Polri. Selanjutnya, aktor lapangan lain yang dihukum berdasarkan putusan pengadilan adalah Direktur Utama PT. Garuda Indonesia Indra Setiawan, dan Sekretaris Chief Pilot Airbus A330 PT. Garuda Indonesia Rohainil Aini. Kejaksaan juga mendakwa mantan Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Purwopranjono sebagai penganjur dalam pembunuhan Munir. Akan tetapi, majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonisnya bebas. Mahkamah Agung menguatkan putusan itu.

26 Desember 2006, terpidana dua tahun penjara Pollycarpus Budihari Priyanto dibebaskan. Ia harusnya baru bebas 19 Maret 2007, tetapi ia mendapat dua kali remisi, remisi Natal selama satu bulan dan remisi umum susulan selama dua bulan. Istri almarhum Munir, Suciwati dan perwakilan Komite Aksi Solidaritas untuk Munir, Usman Hamid, kecewa dengan keputusan ini. Mereka mempertanyakan kebijakan pemberian remisi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu. Mereka menilai Presiden sangat tidak peka terhadap rasa keadilan. 

Penulis: Andrian Rizky, Marnida Harnia

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *