Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

Aksi Kamisan September Hitam: Rentetan Pelanggaran HAM di Bulan yang Suram

4 min read

NASIONAL, MP—Kamis (01/09) kemarin Aksi Kamisan Bandung di bawah Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) mengadakan pembukaan parade tahunan mereka selama bulan September yaitu September Hitam untuk mengenang banyak Tragedi Hak Asasi Manusia Berat di Indonesia. Mereka mengajak masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung untuk turut hadir dan menuntut pemerintah Indonesia mengenai pertanggungjawaban sebagai negara dalam mengatasi masalah tersebut.

“Kami ingin mengajak masyarakat luas terkhususnya wargi Bandung untuk mengenang para korban dari kejahatan pemerintah kepada rakyatnya sendiri, serta dosa negara dan pelanggaran HAM Berat lainnya. Bentuk ketidakpedulian negara kepada Hak Asasi Manusia ialah banyak pelaku HAM Berat yang sampai saat ini masih berkuasa di seluruh negeri”, ucap kawan dari Aksi Kamisan Bandung.

Ini merupakan hari pertama serta pembukaan dalam rentetan parade September Hitam selama sebulan kedepan, sebelum nanti pada 30 September akan diadakan simposium akhir yang hasilnya akan diberikan dengan cara mengirim surat kepada negara untuk menagih janji negara dalam mengatasi masalah pelanggaran HAM masa lalu.

Aksi Kamisan Bandung

Aksi Kamisan Bandung merupakan kolektif masyarakat Bandung dalam mencari keadilan terhadap korban kekerasan negara dan kekerasan sosial yang terjadi di Bandung dan di Indonesia. Aksi Kamisan Bandung bukan merupakan Aksi Kamisan pertama yang ada di Indonesia, melainkan Aksi Kamisan Jakarta lah pelopor adanya Aksi Kamisan di penjuru negeri. Sejak 18 Januari 2007, para korban dan keluarga pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat beraksi mengenakan pakaian dan atribut serba hitam. Mereka menuntut tanggung jawab negara dalam menuntaskan kasus HAM berat di Indonesia, seperti tragedi Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tragedi 13-15 Mei 1998, Talangsari, Tanjung Priok, dan Tragedi 1965. 

Kamisan adalah aksi damai sejak 18 Januari 2007 dari para korban, keluarga korban pelanggaran di Indonesia, dan para aktivis pegiat HAM. Salah satu penggagas Kamisan, Maria Katarina Sumarsih mengungkapkan, pada tahun 1999, dirinya bersama korban dan keluarga pelanggaran HAM membentuk sebuah paguyuban, yaitu Paguyuban Korban/Keluarga Korban Tragedi Berdarah 13-15 Mei 1998, Semanggi I (13 November 1998), Semanggi II (24 September 1999), dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TruK). Sumarsih mengisahkan, sejak awal menggelar Kamisan, dirinya pernah mengungkapkan bahwa Kamisan berhenti jika hanya tersisa tiga orang yang melakukan aksi. 

September Hitam

September hitam adalah bulan penuh nestapa. Setidaknya jika kita berkaca dari banyaknya peristiwa-peristiwa non kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang terjadi sepanjang bulan ini. Sampai saat ini, peristiwa tersebut belum juga diselesaikan oleh negara secara berkeadilan dan mengedepankan prinsip-prinsip HAM yang menjunjung tinggi martabat korban. Meskipun, kasus Munir dan Tanjung Priok sudah terdapat mekanisme peradilannya, tetapi pengungkapan kebenaran dan juga akses pemulihan kepada korban masih absen untuk dilakukan oleh negara. 

“Dalam momentum ini, kita memperingati pelanggaran HAM yang masih kini belum menemukan titik terang. Pelanggaran ham terindikasi akan terus ada selama impunitas yang dimiliki para aktor negara masih terus ada. Untuk hari ini yang datang kita mengundang siapa saja, ada yang individu ada yang datang sama teman. Diharapkan teman-teman yang hadir di sini bisa mengabarkan ke temannya bahwa bulan ini ada peristiwa pelanggaran HAM,” kata Rizky, salah satu pegiat Aksi Kamisan Bandung. 

Menurutnya, momentum September Hitam 2021 ini merupakan upaya untuk terus mendesak negara menyelesaikan daftar hitam kasus pelanggaran HAM. Pasalnya, banyak terjadi pelanggaran HAM Berat di Indonesia yang belum mendapatkan kejelasan dalam penyelesaian serta tidak adanya pertanggungjawaban negara kepada korban pelanggaran HAM Berat. Peristiwa pelanggaran HAM mulai dari tragedi pembantaian 1965-1966, tragedi Tanjung Priok (1984), tragedi Semanggi II (1999), dan pembunuhan Munir 2004. Tiga kasus baru juga disebutkan yakni brutalitas aparat dalam aksi Reformasi Dikorupsi (2019), penembakan Randy dan Yusuf (2020), dan penembakan pendeta Yeremia (2020).

Sejak pukul 16.30 WIB, aksi dimulai di hari itu. Para peserta yang berbaju hitam tampak mengenakan masker dan berbagai atribut mengenai hal-hal yang terjadi pada korban. Seorang pegiat aksi ini membuka peringatan September Hitam dengan refleksi sejumlah peristiwa kelam HAM selama September dari masa ke masa. Hal ini untuk mengingatkan negara untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam mengatasi pelanggaran HAM Berat di masa lalu. Selain itu, berbagai orasi dan puisi ditampilkan oleh para peserta Aksi Kamisan sebagai bentuk dukungan mereka kepada para korban. 

Selain itu, terdapat beberapa desakan yang disampaikan dalam Aksi Kamisan Bandung: September Hitam.

  1. Jaksa Agung melakukan penyelidikan terhadap seluruh kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang telah selesai diselidiki oleh Komnas HAM agar keseluruhan kasus tersebut dapat segera ditindaklanjuti sesuai dengan mandat UU No 26 Tahun 2020 tentang pengadilan HAM melalui proses yudisial.
  2. Komnas HAM dan LPSK aktif untuk memberikan upaya pemulihan yang menyeluruh kepada seluruh korban pelanggaran HAM sebagai bentuk reparasi yang dilakukan secara beriringan dengan proses yudisial terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM berat.
  3. Pemerintah dan DPR RI segera melakukan revisi terhadap UU No 26 Tahun 2020 tentang pengadilan HAM agar dapat secara lebih efektif menjadi landasan hukum baik bagi penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat secara yudisial maupun pemenuhan hak reparasi bagi korban.
  4. Kejelasan mengenai Kasus alm. Munir Said Thalib yang berkas kasusnya sebentar lagi akan dianggap kadaluarsa.
  5. Mengakhiri serta memberikan korban dan keluarga korban segala bentuk tanggungjawab yang seharusnya negara berikan kepada masyarakatnya.

Reporter/Penulis: Andrian Rizky

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *