Site icon Media Parahyangan

Analisa Kondisi Literasi Finansial dan Investasi terhadap Masyarakat Indonesia

Latar Belakang Masalah 

Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD menjelaskan bahwa literasi keuangan adalah pengetahuan dan pemahaman atas konsep dan risiko keuangan, juga keterampilan dan motivasi, serta keyakinan untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh seseorang. Supaya dapat membuat keputusan keuangan yang efektif, juga meningkatkan kesejahteraan keuangan individu dan masyarakat, sehingga dapat berpartisipasi dalam bidang ekonomi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 38,03% dan indeks inklusi keuangan sebesar 76,19%. Pengetahuan yang rendah terhadap literasi keuangan ini,akan berdampak pada manajemen keuangan juga keputusan – keputusan yang akan diambil oleh masing-masing individu akan cenderung ceroboh,seperti maraknya kasus penipuan investasi dengan pesona memikat seperti keuntungan yang terkesan tidak masuk akal atau seperti kasus dukun yang dapat menggandakan uang beberapa tahun silam.  

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang kita harapkan dapat terjawab dalam penelitian ini adalah apakah literasi berguna untuk membantu masyarakat mengatur keuangannya.Dalam langkah menjawab rumusan masalah diatas kami mulai dengan menganalisa gejala yang terjadi dalam masyarakat seperti investasi bodong yang banyak memakan korban di tahun ini, pengetahuan tentang literasi keuangan mengurangi maraknya penipuan investasi yang terjadi juga mencegah kecerobohan serupa terjadi lagi.

Tujuan Penulisan 

Penelitian diharapkan mampu mencapai pembaca yang membutuhkan dalam hal ini tentang bagaimana literasi keuangan sebagai pengetahuan agar masyarakat indonesia dapat dengan bijak mengatur  keuangan mereka yang merupakan tujuan umum dari penelitian ini. Tujuan khusus ditujukan pada korban penipuan juga kepada masyarakat yang sudah mulai menggunakan uangnya agar terhindar dari penipuan terutama penipuan investasi yang memakan banyak korban belakangan ini.

Metode Penelitian 

Pada penelitian ini menggunakan jenis atau pendekatan penelitian Studi Kepustakaan. Menurut Mestika Zed, studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Melihat dari sifatnya, maka penelitian ini termasuk penelitian dengan langkah yang  deskriptif. Penelitian deskriptif berfokus pada penjelasan mengenai fakta yang diperoleh saat penelitian dilakukan. Setelah keseluruhan data terkumpul maka langkah selanjutnya kami sebagai penulis menganalisis data tersebut agar dapat menarik suatu kesimpulan. Demi memperoleh hasil yang faktual dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis kritis. Analisis ini dapat digunakan untuk menganalisa semua bentuk komunikasi, baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun literatur yang bersumber dari internet sebagai salah satu upaya penulis dalam memudahkan pemahaman dengan cara menganalisa kebenarannya dengan membandingkan dengan landasan teori yang di punya yang kemudian diambil kesimpulan, yang berkenaan dengan jalannya penelitian.

Landasan Teori 

Pertumbuhan sektor jasa keuangan semakin menguat dan semakin kompleks sehingga mengubah kondisi pasar keuangan. Hal ini mengharuskan setiap individu memahami pengetahuan dasar keuangan yang berhubungan dengan kunci keamanan keuangan modern (Mandell & Klein, 2007:105). Pengetahuan ini diperlukan bagi seseorang agar bisa mengelola uang dan mengambil peluang untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. Menurut Robert T. Kiyosaki (2003) literasi keuangan diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah finansial/keuangan. Dengan literasi keuangan yang baik, seseorang dapat menentukan produk investasi yang tepat sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Menurut Sutha (2000), investasi adalah penempatan sejumlah dana dengan harapan dapat memelihara, menaikkan nilai, atau memberikan return yang positif.

Jenis investasi dapat dilihat melalui jangka waktunya berdasarkan dua kategori, yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek adalah investasi yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu relatif singkat, yakni kurang dari satu tahun dan dapat langsung dikonversikan dengan uang atau jual. Investasi jangka panjang adalah investasi yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama, yakni bertahun-tahun dan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Selain itu, jenis investasi juga dapat dikategorikan berdasarkan sektornya, yaitu investasi riil dan investasi keuangan. Investasi riil adalah investasi dengan aset yang dapat dilihat secara langsung atau wujudnya jelas. Investasi keuangan adalah investasi yang tidak terlihat wujudnya.

Hasil Penelitian dan Analisa 

Kondisi literasi finansial di Indonesia

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Strategi Nasional Literasi Indonesia (SNLI), indeks literasi keuangan di Indonesia sendiri memiliki persentase sebesar 38,03%. Kemudian, untuk indeks inklusi keuangan di Indonesia sendiri memiliki persentase sebesar 76,19% (OJK, 2021). Angka tersebut mengalami peningkatan yang cukup baik, jika dibandingkan dengan tahun 2016, dengan indeks literasi keuangan sebesar 29,7%, serta indeks inklusi keuangan dengan persentase sebesar 67,8% (OJK, 2021). Berdasarkan hasil analisis tersebut, kondisi literasi keuangan di Indonesia sendiri menunjukan tren perkembangan yang cukup baik, dalam hal ini semakin banyak masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya bersikap bijak dalam membangun sebuah keputusan finansial dalam kehidupannya sehari-hari. 

Aktivitas investasi di Indonesia yang meningkat di tengah pandemi.

Salah satu peluang yang cukup baik terkait pengembangan literasi keuangan di Indonesia terlihat pada saat pandemi. Jumlah investor dalam pasar modal Indonesia sendiri menunjukan peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2020, sebesar 3.880.753 (Kementerian Keuangan Indonesia, 2020). Berdasarkan informasi yang diperoleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), angka laju investasi pasar modal di Indonesia pada tahun 2020 sendiri berhasil tercapai angka Rp.826,3 triliun, dengan persentase sebesar 101,1% (Kominfo,2021). Angka investasi melonjak cukup signifikan, jika dibandingkan dengan laju investasi pada tahun 2019, sebesar 192,1 triliun (BPKM, 2019). Hal ini menunjukan bahwa meskipun pandemi menghambat laju aktivitas sosial ekonomi masyarakat, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa pandemi juga memberikan sejumlah dampak positif dalam dunia investasi. Hal tersebut terlihat dalam semakin banyaknya masyarakat yang tertarik untuk memulai investasi untuk mencapai tujuan finansial tertentu.

Meningkatnya angka investasi di Indonesia sendiri dilatarbelakangi oleh banyak hal, mulai dari adanya awareness yang tercipta oleh kalangan masyarakat luas terkait pentingnya investasi untuk kebebasan finansial. Seperti yang dikatakan oleh Director for Investment Strategy PT Bahana CHW Investment, bahwa di tengah kondisi pandemi saat ini membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadinya fenomena tua sebelum kaya (Sidik Syahrizal, 2021). Selain itu, dengan kehadiran sejumlah perkembangan teknologi berbasis aplikasi yang mempermudah kegiatan investasi menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi yang cukup signifikan, terhadap kenaikan aktivitas investasi oleh kalangan masyarakat.

Kondisi literasi keuangan yang meningkat, namun masih cenderung rendah.

Meskipun indeks literasi keuangan di Indonesia sudah menunjukan perkembangan yang cukup baik, tetapi masih banyak masyarakat yang belum melek secara finansial bahkan generasi muda sekalipun. Salah satunya adalah indeks literasi keuangan Provinsi Jambi, dengan persentase sebesar 26,9% (Jambi Update, 2018). Kemudian disusul oleh Provinsi Papua dengan persentase sebesar 29,13% (Antara, 2021). Berbeda dengan kondisi literasi keuangan di sejumlah kota besar, seperti Jakarta dengan persentase sebesar 59,16% sebagai salah satu daerah dengan kondisi literasi finansial paling baik (OJK, 2019). Berdasarkan informasi tersebut, kondisi literasi keuangan di Indonesia masih mengalami kesenjangan yang cukup signifikan antar daerah di Indonesia.

Teknologi dan akses informasi yang tidak dapat dibendung.

Kondisi literasi keuangan di Indonesia yang masih cenderung rendah memiliki sejumlah faktor sekaligus penyebab yang dapat dianalisis lebih lanjut. Pertama dari segi perkembangan teknologi informasi yang terus berkembang pesat hingga saat ini. Hal tersebut menimbulkan sejumlah efek negatif, seperti semakin banyaknya investasi bodong dalam kalangan masyarakat. Ditambah dengan pengetahuan literasi finansial masyarakat sebagian besar belum baik, tentu akan menimbulkan sejumlah dampak buruk lainnya. Informasi yang semakin banyak diakses ditambah dengan kondisi literasi yang masih terbatas membuat masyarakat semakin kesulitan untuk memilah informasi yang sesuai dengan kenyataan maupun fakta yang terjadi dalam sebuah realita.

Perbedaan tingkat edukasi sekaligus ekonomi di setiap daerah pelosok Indonesia.

Ketimpangan kondisi literasi keuangan di Indonesia tidak serta merta disebabkan oleh masyarakat atau individu itu sendiri. Pada dasarnya, ketidakmerataan infrastruktur pendidikan dalam sebuah daerah juga menjadi salah satu faktor mengapa masih banyak masyarakat di daerah pelosok yang belum melek secara finansial. Akses pendidikan yang dimaksud adalah edukasi dalam lingkup yang lebih luas, mulai dari fasilitas penunjang, ketersediaan internet, yang secara tidak langsung menghambat kemajuan literasi finansial dalam sejumlah daerah. Selain itu, kondisi perekonomian dalam daerah tertentu yang cenderung menjadi hambatan secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perkembangan literasi finansial di sebuah daerah (Shandy, Kunthi Farmar, 2020). 

Kesalahan investasi yang dilakukan oleh masyarakat

Salah satu alasan yang cukup klise namun seringkali ditemukan dalam lingkungan masyarakat terutama generasi milenial saat ini adalah hanya sekedar mengikuti orang lain. Seperti fenomena fear of missing out atau FOMO, dalam hal ini masih banyak masyarakat terutama generasi muda yang tidak mau tertinggal dengan yang lain, sehingga mereka hanya sekedar mencoba tanpa mendalami ilmu investasi dalam dunia keuangan dengan saksama. Selain kata mengikuti, mereka yang tidak memiliki perencanaan investasi yang cukup baik juga menjadi salah satu alasan mengapa literasi finansial di Indonesia terutama dalam bidang investasi masih cenderung rendah. 

Kesimpulan 

Tak dapat dipungkiri, pada saat pandemi kondisi literasi keuangan di Indonesia meningkat cukup baik. Pada tahun 2020, indeks literasi keuangan di Indonesia memiliki persentase sebesar 38,03% sedangkan pada tahun 2016 indeks literasi keuangan sebesar 29,7 % (OJK, 2021). Meskipun kondisi literasi keuangan di Indonesia menunjukkan peningkatan, tetapi masih banyak masyarakat yang belum melek secara finansial. Faktor dan penyebabnya, pertama, efek negatif dari segi perkembangan teknologi informasi yang terus berkembang pesat hingga saat ini, misalnya investasi bodong. Kedua, perbedaan tingkat pendidikan dan ekonomi di setiap daerah di Indonesia. Ketiga, masyarakat terutama generasi milenial saat ini sedang mengalami peristiwa Fear of Missing Out atau FOMO sehingga tidak memiliki perencanaan investasi yang baik.

Saran 

Dari segi pendidikan, guru dapat memaparkan strategi keuangan yang efektif kepada siswa-siswa, khususnya tentang bagaimana memanajemen keuangan sejak dini . Pendidikan literasi keuangan juga perlu ditambahkan dalam mata pelajaran selain bisnis dan ekonomi, sejalan dengan pergeseran fokus dari perhitungan keuangan ke konsep keuangan.Dari segi perbankan, literasi keuangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan khususnya nasabah, dapat diterapkan melalui berbagai modul yang dikembangkan oleh para ahli di bidangnya. Selain itu, dapat diterapkan format pertemuan secara langsung maupun jaringan online guna menjangkau wilayah yang lebih luas serta penerima manfaat yang lebih banyak.

References

Kandipi, H., 2021. Literasi dan inklusi keuangan di Papua rendah.antaranews.com. Available at: <https://sumsel.antaranews.com/berita/536574/ojk-literasi-dan-inklusi-keuangan-di-papua-rendah [Accessed 22 Mei 2022].> [Accessed 22 May 2022].

Alasan Orang Bisa Terjebak Investasi Bodong Crazy Rich. (2022). Retrieved 23 May 2022, from https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220323194143-284-775304/alasan-orang-bisa-terjebak-investasi-bodong-crazy-rich#:~:text=Menurut%20Nisfie%2C%20ada%20tiga%20alasan,bergelimang%20harta%20di%20situasi%20krisis

Fadly, S. (2022). Aktivitas Pasar Modal Indonesia Di Era Pandemi. Retrieved 22 May 2022, from https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-kupang/baca-artikel/13817/Aktivitas-Pasar-Modal-Indonesia-Di-Era-Pandemi.html

Aktivitas Pasar Modal Indonesia Di Era Pandemi. (2022). Retrieved 22 May 2022, from https://www.kominfo.go.id/content/detail/35050/meski-di-tengah-pandemi-target-investasi-tahun-2020-tercapai/0/berita

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2019. Retrieved 22 May 2022, from https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-2019.aspx

Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021 – 2025. (2022). Retrieved 22 May 2022, from https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Strategi-Nasional-Literasi-Keuangan-Indonesia-2021-2025.aspx#:~:text=Survei%20Nasional%20Literasi%20dan%20Inklusi,keuangan%20sebesar%2076%2C19%25

Pengertian Investasi: Jenis, Manfaat, Risiko, Cara & Contohnya. (2022). Retrieved 22 May 2022, from https://prospeku.com/artikel/apa-itu-investasi—3347#:~:text=Salah%20satu%20manfaat%20investasi%20adalah,sumber%20daya%20lain%20ketika%20dibutuhkan

Septy, R. (2022). Tingkat Literasi Keuangan Milenial di Indonesia Masih Rendah. Retrieved 22 May 2022, from https://diskominfo.kaltimprov.go.id/ekonomi/tingkat-literasi-keuangan-milenial-di-indonesia-masih-rendah

Shandy, K. (2022). 2 Penyebab Masyarakat RI Belum Melek Keuangan. Retrieved 22 May 2022, from https://economy.okezone.com/read/2020/10/09/622/2291151/2-penyebab-masyarakat-ri-belum-melek-keuangan

Sidik, S. (2022). Berkah Pandemi, Masyarakat Jadi Melek buat Investasi. Retrieved 22 May 2022,fromhttps://www.cnbcindonesia.com/market/20211123145137-17-293752/berkah-pandemi-masyarakat-jadi-melek-buat-investasi

Penulis: Bennedictus Iskandar, Dian Estri Purwaningsih, Galih Rifki Wiratama

Editor: Eleazar Casaldo

Exit mobile version