Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

Undang Rusia dan Ukraina ke KTT G20 Bisa Jadi Momen Baik Untuk Indonesia

2 min read

INTERNASIONAL, MP—KTT G20 2022 yang akan diselenggarakan di Bali, Indonesia tampaknya menghadapi tantangan baru. Setelah sebelumnya terkendala oleh Pandemi COVID-19, kini pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina membawa persoalan dan tantangan baru. Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, telah mengkonfirmasi kehadiran Vladimir Putin dalam KTT G20 pada Oktober-November mendatang. Hal ini menjadi kontroversi dan menimbulkan pro kontra diantara negara-negara G20 sendiri. 

“Agenda yang dibahas dalam G20 ini bersifat urgent dan sangat penting karena berkaitan dengan recovery dunia pasca pandemi. Sehingga agenda yang dibahas dalam KTT G20 tidak ada hubungan langsung dengan Konflik Rusia dan Ukraina. Fokus Pemerintah Indonesia tetap pada agenda-agenda yang sudah disepakati.” ujar Yulius Purwadi, Dosen Hubungan Internasional Universitas Parahyangan dalam wawancara virtual pada (29/03). 

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyarankan jika Indonesia memilih untuk mengundang Rusia, maka Ukraina juga harus diundang sebagai observer. Opsi dari AS memungkinkan untuk dilaksanakan. Meskipun Ukraina bukan bagian dari negara G20, tetapi presidensi memiliki hak untuk mengundang negara non-anggota. 

“Sebagai seorang akademisi, menurut saya kehadiran Ukraina dapat menjadi hal positif bagi Indonesia. Indonesia dapat memainkan momen bagus untuk menunjukkan leadershipnya. Siapa tahu meskipun hanya forum ekonomi, tetapi G20 juga mampu membantu peace process antara Rusia dan Ukraina.” ujar Yulius. “Selain itu, KTT G20 juga bisa membawa agenda humanitarian dengan membahas inisiatif untuk membantu korban konflik di Ukraina. Akan lebih baik lagi jika dalam waktu dekat konflik mereda, G20 bisa membahas inisiatif rekonstruksi fasilitas publik yang hancur akibat perang di Ukraina. Jika terlaksana dengan baik, ketiga hal ini akan memberikan nilai plus bagi Indonesia.” tambahnya. 

Akan tetapi, mengundang Ukraina pada KTT G20 juga menjadi keputusan yang tricky. “Sekarang pertanyaannya kapan waktu yang tepat untuk mulai mengundang Ukraina. G20 ini sudah dimulai sejak November 2021 kemarin. Sekarang sudah di tahap working group, dan setelah ini tahap deklarasi menteri. Kemungkinan kita baru bisa mengundang Ukraina nanti di KTT. Karena ini sudah di tengah jalan, maka Indonesia harus berdiskusi dulu dengan negara anggota lain agar keputusan mengundang Ukraina tidak memperkeruh situasi yang ada.” ujar beliau. 

Sementara itu, beberapa negara anggota G20 yang lain secara terang-terangan memboikot kehadiran Putin, sehingga banyak pihak yang mengkhawatirkan KTT G20 ini juga akan gagal dan diboikot. “Biaya untuk KTT ini sangat besar. Agenda yang dibahas merupakan agenda penting yang diperlukan untuk recovery. Forum mana lagi yang membahas mengenai recovery? Hanya G20. Sehingga jika G20 ini gagal yang rugi semua orang, bukan hanya Indonesia.” ujar beliau. Oleh karena itu, beliau berharap agar negara anggota G20 bijak mengambil sikap dan mengesampingkan ego masing-masing demi pemulihan dunia pasca pandemi. 

Isu ini menjadi tantangan dan dilema bagi Indonesia. Sehingga Indonesia perlu mempertimbangkan setiap keputusannya dengan baik dan matang. Meskipun kegagalan G20 akan berdampak bagi semua negara, tetapi dampaknya terhadap Indonesia sebagai tuan rumah jauh lebih besar karena menyangkut harga diri negara di dunia internasional.

Penulis/Reporter: Rakkhitta Nathania 

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.